tips for successful meditation


Seven tips for successful meditation

  1. Try to meditate every day for at least 10-15 minutes
  2. Meditate in a clean and quiet place that has positive associations for you and choose a seat that is comfortable – it can be a chair or a cushion
  3. Don’t rush straight into the meditation but spend a few moments to relax into a comfortable posture with your back straight but not tense
  4. Always begin by developing a positive wish to benefit yourself and others through your meditation
  5. During the meditation try not to forget the object of meditation – what you should be concentrating on – and if you do forget it bring it back to mind straight away
  6. Before you rise from meditation, mentally dedicate the positive energy you have created to benefiting yourself and others
  7. Throughout the day try to recall the experience of the meditation as often as you can and use it to guide everything you think, say, and do

 

Advertisements

Malaikat – Angel


Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab, malak (ملك) yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan Ar-Rasul.

Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nuur), berdasarkan salah satu hadist Muhammad, “Malaikat telah diciptakan dari cahaya.”Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman. Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah.

Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat tetapi jika Allah berkehendak maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat selalu menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para nabi dan rasul. Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim.

Nama dan tugas para Malaikat

Di antara para malaikat yang wajib setiap orang Islam ketahui sebagai salah satu Rukun Iman, berdasarkan Al Qur’an dan hadits. Nama (panggilan) berserta tugas-tugas mereka adalah sebagai berikut:

Jibril Pemimpin para malaikat, bertugas menyampaikan wahyu dan mengajarkannya kepada para nabi dan rasul.

Jibril (Arab: جبريل, adalah malaikat yang muncul dalam ajaran agama samawi. Dalam ajaran agama samawi Jibril dianggap sebagai Pemimpin Malaikat dan bertugas menyampaikan wahyu dan mengajarkannya kepada para nabi dan rasul).

Malaikat Jibril adalah malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu. Malaikat Jibril adalah satu dari tiga malaikat yang namanya disebut dalam Al Quran. Nama Malaikat Jibril disebut dua kali dalam Al Quran yaitu pada surat Al Baqarah ayat 97-98 dan At Tahrim ayat 4. Didalam Al Qur’an, Jibril memiliki beberapa julukan, seperti Ruh al Amin dan Ruh al Qudus (Roh Kudus), Ar-Ruh Al-Amin dan lainnya.

Bentuk fisik Ruhul’qudus (Jibril)

Bentuk fisik Ruhul’qudus, ada tertera dalam uraian mengenai kisah nabi Muhammad, kala beliau mendapat wahyu kali ke dua, dan nabi menuntut untuk bertemu atau melihat rupa asli sang utusan Tuhan dari langit dalam rupa yang asli, atau bagaimana sesungguhnya dzat wujud Jibril tanpa rupa samar, sebagaimana di kali-kali yang lain, sang utusan (ruhul’qudus) selalu nampak dalam rupa seorang manusia biasa.

Ruhul’Qudus ; Tampak wujudnya dengan enam ratus sayap antara masyrik dan maghrib, (barat-timur) sayap dan busana kebesarannya putih laksana mutiara yang larut, dengan rupa yang begitu elok dan rupawan, dan dengan kekuatan yang dahsyat penuh mukzijat. Katakanlah: ” Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.

Malaikat Jibril adalah malaikat yang menyampaikan berita kelahiran Nabi Isa (lihat di artikel Isa) kepada ibunya Siti Maryam dan juga malaikat yang menyampaikan Al’Quran kepada Nabi Muhammad. Dalam kisah suci perjalanan Isra’ Mi’raj, sesampainya di pos perjalanan Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Rasulullah untuk terus naik menghadap kehadirat Allah SWT;beliau berkata : “Aku sama sekali tidak mampu mendekati Allah, perlu 60.000 tahun lagi aku harus terbang. Itulah jarak antara aku dan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus juga ke atas, aku pasti hancur luluh”.Maha Suci Allah, ternyata Malaikat Mulia Jibril AS pun tidak sampai kepada Allah SWT.

Mikail – Membagi rezeki kepada seluruh makhluk.

Malaikat Mikail adalah salah satu di antara pembesar malaikat yang empat. Ia dicipta oleh Allah SWT selepas malaikat Israfil dengan selisih kira-kira lima ratus tahun. Dari kepala malaikat Mikail hingga kedua telapak kakinya berbulu Za’faron. Jika seluruh air di lautan dan sungai di muka bumi ini disiramkan di atas kepalanya, nescaya tidak setitikpun akan jatuh melimpah. Di atas setiap bulu-bulunya, terdapat sebanyak satu juta muka.Setiap muka malaikat Mikail ini pula mempunyai satu juta mulut dan setiap mulut mempunyai satu juta lidah manakala setiap lidah-lidahnya boleh berbicara satu juta bahasa atau lisan. Setiap satu juta lisan tersebut adalah membaca istighfar pada Allah SWT bagi orang-orang mukmin yang berdosa.

Setiap satu juta muka atau wajahnya mempunyai satu juta mata. Tiap-tiap matanya sentiasa menangis kerana memohon rahmat bagi orang-orang mukmin yang berdosa. Tiap-tiap matanya yang menangis itu mengeluarkan tujuh ribu titisan air mata dan setiap titisan air mata itu Allah SWT ciptakan satu malaikat Karubiyyuun yang serupa dengan kejadian malaikat Mikail. Setiap malaikat-malaikat ini ditugaskan untuk bertasbih pada Allah SWT sehingga hari kiamat.

Di samping bertasbih, para-malaikat Karubiyyuun ini juga berperanan sebagai pembantu bagi malaikat Mikail dalam menjalankan tugas menyelia angin, membahagikan rezeki pada manusia, tumbuh-tumbuhan juga hewan-hewan dan lain-lain di muka bumi ini. Dikatakan setiap satu makhluk yang memerlukan rezeki untuk hidup di dunia ini akan diselia rezekinya oleh satu malaikat Karubiyyuun.

Imam Ahmad rah. dengan sanadnya, dari Anas bin Malik RA, ketika Rasulullah SAW Mikraj ke langit baginda ada bertanya pada malaikat Jibrail: “Mengapa aku tidak pernah nampak malaikat Mikail tertawa?”Malaikat Jibrail menjawab: “Malaikat Mikail tidak pernah tertawa semenjak neraka diciptakan

Israfil – Meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat.

Isrāfīl (Arab:إسرافيل, Israfel “Yang membakar”), adalah malaikat yang akan meniup sangkakala di hari kiamat, walaupun namanya tidak disebutkan di dalam Qur’an. Ia sebagai salah satu dari empat malaikat utama, bersama dengan Mikail, Jibril dan Izrail.

Beberapa sumber mengindikasikan bahwa, pada permulaan waktu Israfil memiliki empat sayap, sangat tinggi sehingga bisa meraih tiang-tiang surga. Malaikat yang rupawan, Israfil selalu bertasbih kepada Allah kedalam ribuan bahasa yang berbeda. Dari bawah kaki hingga ke kepalanya ada beberapa rambut, beberapa mulut, dan beberapa lidah yang tertutup hijab.

Walaupun nama “Israfil” tidak pernah di muncul dalam Al Qur’an, sebutan/julukan dibuat untuk malaikat yang membawa trompet suci ini, untuk mengidentifikasikan sosok ini: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing) (Az-Zumar 39:68)

Israfil selalu memegang terompet suci yang terletak di bibirnya selama berabad-abad, menunggu perintah dari Tuhan untuk meniupnya pada hari kiamat. Tiupan pertama akan menghancurkan dunia beserta isinya, tiupan kedua akan mematikan para malaikat dan tiupan ketiga akan membangkitkan orang-orang yang telah mati dan mengumpulkan mereka di Padang Mahsyar. Misi mencari tanah untuk Adam. Dalam Islam, ia dikatakan telah di kirim oleh Tuhan bersama malaikat utama yang lain, untuk mengumpulkan tanah dari empat penjuru dunia dan hanya Izrail saja yang berhasil dalam misi tersebut. Dengan tanah itulah Adam diciptakan.

Munkar dan Nakir – Memeriksa amal manusia di alam barzakh.

Munkar dan Nakīr (Arab: منكر و نكير) dalam eskatologi Islam adalah dua malaikat yang menanyakan atau menguji keyakinan dari orang yang telah mati dialam barzakh. Menurut Islam, setelah kematian dari setiap jiwa akan menuju barzakh atau alam kubur, dimana si mayat akan bisa kembali bangkit dan berbicara ketika ditanya oleh kedua malaikat Munkar dan Nakir, walaupun tubuhnya telah hancur. Pertanyaan akan dimulai ketika proses penguburan telah selesai dan 70 langkah orang terakhir dari tempat dikuburnya mayat. Munkar dan Nakir akan menanyakan beberapa hal berikut, “Siapakah Tuhanmu?”, “Siapa Nabi mu?”, “Apa agama mu?”, jawaban bagi pertanyaan tersebut adalah Tuhan mereka adalah Allah, nabinya Muhammad dan agamanya adalah Islam, maka simayat akan diberikan keluasan dan diterangkan kuburnya sampai hari kebangkitan. Bagi yang tidak bisa menjawabnya akan mendapatkan siksa sampai hari kebangkitan.

Raqib dan ‘Atid – Mencatat amal manusia di dunia.

Malaikat berada di kiri dan kanan setiap manusia.

-Malaikat Raqib di sebelah kiri mencatat amalan jahat sementara Malaikat Atid di sebelah kanan mencatat amalan baik.

-Tiap satu kebajikan ditulis dengan sepuluh ganda kebajikan manakala satu kejahatan ditulis dengan satu kejahatan sahaja.

Kesimpulannya segala tingkah laku manusia tidak akan terlepas dari catatan kedua-dua malaikat ini.

Izrail – Mencabut nyawa seluruh makhluk.

Izrail (Arab:عزرائیل, Azrail, Asriel, Azaril dan Azrael) adalah Malaikat pencabut nyawa dan salah satu dari empat malaikat utama selain Jibril, Mikail, dan Israfil dalam Islam. Nama Izrail tidak pernah disebut dalam Al-Qur’an. Walau begitu ia selalu disebut dengan Malak al Mawt (Arab: ملكالموت) atau Malaikat Maut yang oleh sebagian kalangan diidentikkan sebagai Izrail.

Wujud Malaikat Izrail diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang serupa dengan malaikat Mikail baik wajahnya, ukurannya, kekuatannya, lisannya dan sayapnya. Semuanya tidak kurang dan tidak lebih.Dikatakan dia berwajah empat, satu wajah di muka, satu wajah di kepala, satu dipunggung dan satu lagi di telapak kakinya. Dia mengambil nyawa para nabi dari wajah kepalanya, nyawa orang mukmin dengan wajah mukanya, nyawa orang kafir dengan wajah punggung dan nyawa seluruh jin dengan wajah tapak kakinya.Dari kepala hingga kedua telapak kakinya berbulu Za’faran dan di setiap bulu ada satu juta muka di setiap satu juta muka mempunyai satu juta mata dan satu juta mulut dan tangan. Ia memiliki 4.000 sayap dan 70.000 kaki, salah satu kakinya di langit ketujuh dan satu lagi di jembatan yang memisahkan Surga dan Neraka.Setiap mulut ada satu juta lidah, setiap lidah boleh berbicara satu juta bahasa. Jika seluruh air di lautan dan sungai di dunia disiramkan di atas kepalanya, niscaya tidak setitikpun akan jatuh melimpah.

Disebutkan, ketika Allah SWT mencipta Al-Maut (kematian) dan menyerahkan kepada malaikat Izrail, maka berkata malaikat Izrail: “Wahai Tuhanku, apakah Al-Maut itu?”.

Maka Allah SWT menyingkap rahasia Al-Maut itu dan memerintah seluruh malaikat menyaksikannya. Setelah seluruh malaikat menyaksikannya Al-Maut itu, maka tersungkurlah semuanya dalam keadaan pingsan selama seribu tahun.Setelah para malaikat sadar kembali, bertanyalah mereka: “Ya Tuhan kami, adakah makhluk yang lebih besar dari ini?” Kemudian Allah SWT berfirman: “Akulah yang menciptakannya dan Aku-lah yang lebih Agung dari padanya. Seluruh makhluk akan merasakan Al-Maut itu”.

Kemudian Allah SWT memerintahkan Izrail mengambil Al-Maut. Allah telah menyerahkan kepadanya. Walau bagaimanapun, Malaikat Izrail khawatir jika tidak terdaya untuk mengambilnya sedangkan Al-Maut lebih agung daripadanya. Kemudian Allah SWT memberikannya kekuatan, sehinggalah Al-Maut itu menetap di tangannya.

Disebutkan pula, setelah seluruh makhluk hidup sudah dicabut nyawanya pada hari kiamat kelak dan yang tersisa tinggal malaikat Izrail lalu Allah SWT menyuruhnya untuk mencabut nyawanya sendiri, demi melihat dahsyatnya sakarataul maut yang sedang terjadi terhadap dirinya, beliau mengatakan “Ya Allah seandainya saya tahu ternyata pedih sekali sakaratul maut ini, tidak akan tega saya mencabut nyawa seorang mukmin”.

Malaikat Izrail diberi kemampuan yang luar biasa oleh Allah hingga barat dan timur dapat dijangkau dengan mudah olehnya seperti seseorang yang sedang menghadap sebuah meja makan yang dipenuhi dengan pelbagai makanan yang siap untuk dimakan. Ia juga sanggup membolak-balikkan dunia sebagaimana kemampuan seseorang sanggup membolak-balikkan uang.

Sewaktu malaikat Izrail menjalankan tugasnya mencabut nyawa makhluk-makhluk dunia, ia akan turun ke dunia bersama-sama dengan dua kumpulan malaikat yaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat ‘Azab. Sedangkan untuk mengetahui dimana seseorang akan menemui ajalnya itu adalah tugas dari Malaikat Arham.

Walau bagaimanapun, Izrail bersama Jibril, Israfil dan Mikail pernah ditugaskan ketika Allah menciptakan Nabi Adam. Israil juga adalah antara Malaikat yang sering turun ke bumi untuk bertemu dengan para nabi antaranya ialah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Idris a.s.

Sakaratul Maut dan Kematian Mukmin

Sesungguhnya seorang hamba mukmin apabila hendak meninggalkan dunia menuju akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit yang berwajah putih seakan wajah mereka ibarat matahari. Mereka membawa kafan dan parfum dari surga. Mereka duduk di samping calon mayat sejauh mata memandang.

Diriwayatkan bahwa para malaikat ini mulai mencabut nyawa dari kaki sampai ke lututnya, kemudian diteruskan oleh para malaikat lainnya sampai ke perut, kemudian diteruskan lagi oleh para malaikat lainnya sampai ke kerongkongan, kemudian datanglah Malaikat maut Alaihis Salam dan duduklah di samping kepala calon mayat seraya berkata: “Wahai jiwa yang baik, wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha dari Allah”.

Maka keluarlah rohnya dengan lembut seperti air yang menetes dari bibir tempat air. Malaikat maut-pun mengambilnya, setelah Malaikat mengambil ruh itu maka segera di masukkan dalam kafan yang dari surga tersebut dan diberi parfum yang dari surga itu. Lalu keluarlah dari ruh itu bau yang sangat wangi seperti bau parfum yang paling wangi di muka bumi ini. Ketika telah keluar ruhnya maka para Malaikat di antara langit dan bumi mensalatinya, demikian pula semua Malaikat yang di langit.

Dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit, semua penjaga pintu tersebut berdoa kepada Allah agar ruh tersebut lewat melalui pintunya. Para Malaikat membawa ruh itu naik ke langit, dan tiap-tiap melalui rombongan Malaikat mereka selalu bertanya: “Ruh siapa yang wangi ini???” Para Malaikat yang membawanya menjawab: “Ini ruhnya Fulan bin Fulan”, sambil menyebutkan panggilan-panggilan terbaiknya selama di dunia.

Malaikat yang membawanya menyebutkan kebaikan-kebaikannya selama di dunia, Kebaikan-kebaikannya dalam hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia bahkan dengan alam semesta. Tatkala telah sampai di langit dunia para Malaikat meminta dibukakan pintunya. Malaikat penjaga pintu langit membuka pintu itu, kemudian semua Malaikat yang ada ikut mengiringi ruh itu sampai ke langit berikutnya hingga berakhir di langit ke tujuh.

Lalu Allah berfirman: “Tulislah catatan amal hamba-Ku di Illiyyiin! Tahukah kamu apakah Illiyyiin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis (untuk mencatat amal orang yang baik)” (QS. Al-Muthaffifiin: 19-20). Ditulislah catatan amalnya di Illiyyiin. Kemudian dikatakan: “Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku telah berjanji kepada mereka bahwa Aku menciptakan mereka darinya (tanah) dan mengembalikan mereka kepadanya serta membangkitkan mereka darinya pula pada kali yang lain”.

Roh itu-pun dikembalikan ke bumi dan ke jasadnya.

Sakaratul Maut dan Kematian Kafir atau Fajir

Sesungguhnya seorang hamba yang kafir atau fajir (banyak dosa), apabila hendak meninggalkan dunia menuju akhirat, turun kepadanya para Malaikat dari langit yang sangat keras lagi berwajah hitam sambil membawa kain yang kasar dari neraka. Para malaikat itu duduk disamping calon mayit sejauh mata memandang. Diriwayatkan bahwa para malaikat ini mulai mencabut nyawa dari kaki sampai ke lututnya, kemudian diteruskan oleh para malaikat lainnya sampai ke perut, kemudian diteruskan lagi oleh para malaikat lainnya sampai ke kerongkongan, kemudian datang Malaikat maut Alaihis Salam dan duduk di samping kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang busuk keluarlah menuju murka dan kebencian dari Allah”.

Roh itupun terkejut…Lalu Malaikat mencabutnya seperti mencabut alat pemanggang yang banyak cabangnya dari kain yang basah sehingga terputuslah urat-urat dan ototnya. Malaikat itupun mengambil rohnya dan langsung memasukkannya kedalam kain kasar (yang dari neraka itu). Keluar dari ruh itu bau yang sangat busuk seperti bau paling busuk yang pernah ada di muka bumi ini.

Para Malaikat lalu membawa roh itu naik, tiadalah melalui rombongan Malaikat melainkan mereka selalu bertanya: “Roh siapa yang busuk ini?”…Para Malaikat yang membawanya menjawab: “Ini rohnya Fulan bin Fulan”, dengan menyebut panggilan-panggilan buruknya ketika di dunia…Malaikat yang membawanya menyebutkan keburukan-keburukanya selama di dunia…Keburukan-keburukannya dalam hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia bahkan dengan alam semesta.

Semua malaikat di antara langit dan bumi melaknatinya (mengutuknya), juga semua malaikat yang di langit. Ditutup untuknya pintu-pintu langit. Masing-masing penjaga pintu berdoa kepada Allah agar ruh itu tidak lewat melalui pintunya.Tatkala telah sampai di langit dunia mereka meminta agar dibuka pintunya dan ternyata tidak dibukakan. Kemudian Rasulullah shallallaahu alaihi wa ala alihi wa sallam membacakan: “Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” (QS.Al-Araaf: 40).

Lantas Allah berfirman: “Tulislah catatan amalnya di sijjiin, dibumi yang paling bawah”, Kemudian dikatakan: “Kembalikan hambaKu ke bumi karena Aku telah berjanji bahwa Aku menciptakan mereka darinya (tanah) dan mengembalikan mereka kepadanya serta mengeluarkan mereka darinya pula pada kali yang lain”.

Lalu rohnya dilempar dari langit sehingga terjatuh ke bumi, kemudian Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam membacakan ayat: “Dan barangsiapa menyekutukan Allah, maka seolah-olah ia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31).

Perintah mencabut nyawa dari ‘Arsy

Menurut kisah Kabil Akbar, Malaikat Maut tidak mengetahui kapan tiap-tiap makhluk yang akan mati. Dikatakan olehnya Allah telah menciptakan sebuah pohon (Sidrat al-Muntaha) di bawah ‘Arsy yang mana jumlah daunnya sama banyak dengan bilangan makhluk yang Allah ciptakan.

Jika satu makhluk itu telah diputuskan ajalnya, maka umurnya tinggal 40 hari dari hari yang diputuskan. Maka jatuhlah daun itu kepada Malaikat Maut, tahulah bahwa dia telah diperintahkan untuk mencabut nyawa orang yang tertulis pada daun tersebut.

Sampai ada daun dari pohon yang terletak di bawah ‘Arsy gugur. Kemudian akan jatuh dua titisan dari arah ‘Arsy pada daun tersebut, titisan hijau ataupun putih. Hijau menandakan bakal si mayat akan mendapat kecelakaan sementara putih mengambarkan dia akan mendapat kebahagiaan.

Untuk mengetahui tempat makhluk mati, Allah telah menciptakan Malaikat Arham yang akan diperintahkan untuk memasuki sperma yang berada dalam rahim ibu dengan debu bumi yang akan diketahui di mana ia akan mati dan di situlah kelak ia pasti akan menemui ajalnya.

Kisah Israiliyat tentang Malaikat Maut

Pertanyaan para malaikat langit kepada Malaikat maut

Disebutkan bahwa suatu ketika Allah SWT. memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawa seorang pemuda kafir.Setelah mencabut nyawanya dan dibawa ke langit, beliau melewati serombongan malaikat dan mereka bertanya “Ya malaikat maut, kamu diberi tugas oleh Allah untuk mencabut nyawa mahluknya, apakah kamu tidak pernah sesekali merasa kasihan saat mencabut nyawa ?”.

Malaikat maut pun menjawab: “Iya sebenarnya aku pernah merasa iba, saat itu aku ditugaskan untuk mencabut nyawa seorang ibu yang baru melahirkan putranya di tengah hutan sendirian, aku merasa iba terhadap ibu karena harus berpisah dengan bayi tersebut dan meninggalkannya sendirian di tengah hutan dan aku merasa iba terhadap nasib bayi tersebut karena sendirian di tengah hutan”.

Para malaikat pun kembali bertanya: “Apakah kamu tau siapa roh yang baru saja kamu cabut ini ? dia adalah bayi dari ibu yang kamu ceritakan tadi”. Mendengar hal ini, malaikat maut pun sujud kepada Allah SWT. dan berkata: “Ya Allah, hamba memohon ampun kepadaMu dan memohon terhindar dari makar-Mu. Karena sesungguhnya hanya Engkaulah yang maha berkehendak apakah seseorang hamba akan Engkau jadikan ahli surga atau ahli neraka”.

Ridwan – Menjaga pintu syurga.

Malik – Pemimpin Malaikat Zabaniah dan penjaga neraka.

Maalik (ملك) dalam Bahasa Arab berarti ‘orang yg empunya’; ‘orang yg memiliki’; ‘tuan’; ‘raja’.

Sedangkan Allah memiliki julukan Maalik pula, tepatnya adalah:Al-Malik (المالك) – Raja segala Raja; Malik al-Jabar (مالك الجبر) – Raja Yang Mahakuasa; Malik al-Muluk (مالك الملك) – Penguasa segala Penguasa.

Penggunaan kalimat Malik terhadap pemimpin Zabaniah hampir senada dengan penggunaan Aziz dalam kisah Yusuf, hanya sebagai panggilan kehormatan atas kepemimpinan mereka.

Terdapat 19 penjaga neraka jahanam yang pemimpinya adalah Malik. Sebagaimana firman Allah tentang Neraka Saqar, Tahukah kamu apa Saqor itu? Saqor itu tidak meninggalkan dan membiarkan. (Neraka Saqor) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (Zabaniah). Dan tiada Kami jadikan penjaga Neraka itu melainkan malaikat. (Al-Muddassir :27-30)

Malikat Malik ‘Alaihissalam mematuhi segala perintah Allah seperti dalam firman-Nya tentang permintaan penghuni Neraka kepada Malaikat Malik. Mereka berseru, “Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab, “kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (Az-Zukhruf [43]:77)

Wujud Malaikat Malik

Malaikat Malik mempunyai tangan dan kaki yang bilangannya sama dengan jumlah ahli neraka. Setiap kaki dan tangan itu bisa berdiri dan duduk, serta dapat membelenggu dan merantai setiap orang yang dikehendakinya.

Menurut kisah, karena Malik memiliki wujudnya yang sangat menyeramkan, ketika Malik melihat kearah Neraka maka sebagian api memakan api yang lain karena rasa takutnya kepada Malik. Dikatakan pula bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik ke Sidrat al-Muntaha, ia bertemu dengan Malik yang kemudian menunjukkan pandangan sekilas tentang penderitaan di Neraka.

Sejak saat itu pula Malaikat Malik tidak pernah tersenyum. Memiliki tubuh yang sangat besar, wajahnya menampakkan kemarahan, terlihat amat menakutkan, sangat kejam, tidak kenal kompromi, di antara kedua matanya terdapat pusat syaraf yang seandainya ia menatap bumi pasti orang-orang yang ada didalamnya mati tiada tersisa.

Zabaniah – 19 malaikat penyiksa dalam neraka yang bengis dan kasar. Zabaniyah (Arab: زبانيه) adalah nama malaikat-malaikat yang bertugas menyiksa orang-orang di neraka dalam ajaran agama Islam. Ia digambarkan dengan sosok yang sangat garang dan sadis, tidak mengenal ampun terhadap orang yang telah masuk kedalam perut neraka. Zabaniah berjumlah 19 malaikat sebagaimana jumlah huruf Basmalah dan Zabaniyah dipimpin oleh Malaikat Maalik.

Penglihatan para malaikat itu bagaikan kilat yang menyambar, gigi mereka sepuh tanduk sapi, sedangkan bibir-bibir mereka menjulur sampai ketelapak kaki, kobaran api keluar dari mulut-mulut mereka, dan jarak antara kedua bahunya adalah sekitar perjalanan satu tahun.

Dikatakan pula bahwa, Allah tidak menjadikan dalam hati mereka rasa belas kasihan dan lemah lembut sebesar semut kecilpun. Salah seorang dari mereka ada yang menyelam dalam lautan api neraka selama 70 tahun tetapi api neraka itu tidak membahayakan atas dirinya, karena sesungguhnya cahaya itu dapat mengalahkan api neraka.

Hadits mengenai Zabaniyah

Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang ingin supaya Allah selamatkan dia dari penanganan Malaikat Zabaniyah yang berjumlah 19 orang (Malaikat penjaga Neraka), maka hendaklah membaca Bismillahirrahmanirrahim, niscaya Allah buatkan untuknya, dari setiap satu huruf itu sebuah Surga.

Perbedaan pendapat tentang Zabaniyah. Istilah Zabaniah dalam surah al-Alaq ayat 18 memang sebagian besar ditafsirkan sebagai nama diri dari malaikat yang diancamkan Allah bagi mereka yang menghalangi seseorang melakukan Shalat, akan tetapi A. Hassan dalam Tafsir al-Furqonnya menterjemahkan istilah Zabaniah pada ayat tersebut sebagai Tentara Tuhan yang gagah.

Hamalat al ‘Arsy – Empat malaikat pembawa ‘Arsy Allah, pada hari kiamat jumlahnya akan ditambah empat menjadi delapan. Para malaikat pemikul ‘Arsy terkenal dengan nama Hamalat al-‘Arsy (Arab: حملات العرش) berjumlah empat malaikat, setelah kiamat akan bertambah menjadi delapan malaikat yaitu; Israfil, Mikail, Jibril, Izrail dan Hamalat al-‘Arsy. Didalam Al-Qur’an juga disebutkan para malaikat ini, dalam surah Al Haqqah 69 ayat 17:”Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”. (Al Haqqah, 69:17)

Wujud Hamalat al-‘Arsy. Berdasarkan hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari seorang sahabat Jabir bin Abdillah, wujud para malaikat pemikul singgahsana Allah sangatlah besar dan jarak antara pundak malaikat tersebut dengan telinganya sejauh perjalanan burung terbang selama 700 tahun. Dikatakan pula dalam hadits, bahwa Hamalat al-‘Arsy memiliki sayap lebih besar dan banyak dibandingkan dengan Jibril dan Israfil.

Dikatakan bahwa Hamalat al-‘Arsy memiliki sayap sejumlah 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil, sedangkan Israfil mempunyai 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril. Sedangkan Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar bin ‘Arabi Al-Jawi Al-Bantani, seorang wali besar dari tanah Jawa, mengatakan bahwa, “Mereka adalah tingkatan tertinggi para Malaikat dan Malaikat yang pertama kali diciptakan, dan mereka berada di dunia sebanyak 4 malaikat, pada saat qiyamat akan berjumlah 8 malaikat dengan bentuk kambing hutan.

Jarak antara telapak kakinya sampai lututnya sejauh perjalanan 70 tahun burung yang terbang paling cepat. Adapun sifat dari ‘Arsy, dikatakan bahwa bahwa ‘Arsy adalah permata berwarna hijau dan ‘Arsy adalah makhluk yang paling besar dalam penciptaan. Dan setiap harinya ‘Arsy dihiasi dengan 1000 warna daripada cahaya, tidak ada satu makhlukpun dari makhluk Allah ta’ala yang sanggup memandangnya.. Dan segala sesuatu seluruhnya di dalam ‘Arsy seperti lingkaran ditanah lapang…Dikatakan sesungguhnya ‘Arsy merupakan kiblat para penduduk langit.. sebagaimana Ka’bah sebagai kiblat penduduk bumi…

Harut dan Marut – Dua Malaikat yang turun di negeri Babil.

Hārūt dan Mārūt (Arab هاروت وماروت) adalah dua malaikat yang diutus oleh Allah ke negeri Babilonia. Nama mereka disebutkan di dalam Al Qur’an pada surat Al Baqarah ayat 102:”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).

Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.”

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.

Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al Baqarah 102). Para mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti Malaikat.

Bantahan kisah Harut dan Marut

Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa di beberapa buku tafsir disebutkan kedua malaikat itu telah diturunkan ke bumi sebagai fitnah sehingga Allah mengadzab mereka berdua dengan menggantung kedua kaki mereka, perkataan para mufassir ini bukanlah sebagai salah satu hujjah (dalil) dalam hal ini, karena kisah tersebut berasal dari warisan masyarakat Babilonia dan penjelasan orang-orang Yahudi serta kitab-kitab Nasrani.

Karena tidak sesuai dengan salah satu ayat di dalam Al Qur’an. Para malaikat tidaklah maksiat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka pun melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya, firman Allah:”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (Al Anbiya 26 – 27) “Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (Al Anbiya 19 – 20).

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu mengajarkan kepada manusia tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk mengajak mereka melakukan sihir. Az Zajjaj mengatakan bahwa perkataan itu adalah juga pendapat kebanyakan ahli bahasa.

Artinya bahwa pengajaran kedua malaikat itu kepada manusia adalah berupa larangan, keduanya mengatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan ini (sihir) dan janganlah kalian diperdaya dengannya sehingga kalian memisahkan seorang suami dari isterinya dan apa yang diturunkan kepada mereka berdua adalah berupa larangan.”Al Hafidz bin Katsir berkata: “Kisah Harut dan Marut ini diriwayatkan dari beberapa tabi’in seperti Mujahid, Suddi, Hasan al Bashri, Qotadah, Abul Aliyah, Zuhri, Rabi’ bin Anas, Muqotil bin Hayyan dan lain-lain dan dibawakan oleh banyak penulis tafsir dari kalangan terdahulu dan belakangan.

Kesimpulan detail dari kisah Harut dan Marut ini kembali kepada kisah Israilliyat, karena riwayatnya tidak ada sama sekali dalam hadits marfu’ yang bersambung sanadnya dari Nabi Muhammad.Al Hafidz bin Hazm berkata: “Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kebathilan kisah Harut dan Marut ada di dalam salah satu firman Allah:”Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. (Al Hijr 8)

Darda’il – Malaikat yang mencari orang yang berdo’a, bertaubat, minta ampun dan lainnya pada bulan Ramadhan.

Dalam hadits yang lain dijelaskan: Sesungguhnya Allah telah menciptakan malaikat yang bernama “Malaikat Darda’il”. Dia mempunyai dua sayap, satu sayap berada di Barat yang terbuat dari yaqut merah, dan sayapnya yang lain berada di Timur yang terbuat dari zamrud hijau yang ditaburi dengan mutiara dan yaqut serta marjan, kepalanya berada di bawah ‘Arsy, sedang kedua telapak kakinya berada dibawah bumi yang ketujuh.

Malaikat Hafazhah (Para Penjaga) :

Kiraman Katibin – Para malaikat pencatat yang mulia, ditugaskan mencatat amal manusia.

Kirâman Kâtibîn (Arab: كراماً كاتبين) adalah dua malaikat yang terletak di bahu kanan dan kiri setiap makhluk-Nya. Menurut syariat Islam, jika ada seseorang yang melakukan amal (perbuatan) yang lebih dominan, maka ia akan dikirim berdasarkan perbuatan semasa hidupnya di dunia, entah ke Jannah atau Jahannam. Para malaikat ini termasuk dalam golongan Hafazhah (Para Penjaga).

Kirâman Kâtibîn dalam Al Qur’an

Tidak ada penjelasan lebih lanjut bahwa apakah nama-nama malaikat itu bernama Raqib dan Atid, yang dikenal sebagai Kirâman Kâtibîn. Pada akhir salat, umat muslim beraliran sunni selalu menghormati para malaikat ini.Kedua malaikat ini disebutkan dalam Al Qur’an pada surah Qaaf, Al Infithaar, Ar-Ra’du dan Az-Zukhruf, yang berbunyi: Gerak-gerik manusia dan perkataannya dicatat oleh para malaikat dalam Al Quran Qaaf 50: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf 16 – 18.)

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). (Al Infithaar 10 – 11)

Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (Az-Zukhruf 80)

Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar-Ra’du 10-11)

Kitab amal manusia dan jin di Mahsyar

Kedua malaikat ini terkenal juga sebagai “Pencatat Yang Mulia”, mereka menjadi saksi dan telah menuliskan kitab amal manusia dan jin, kitab amal akan berterbangan dari ‘Arsy kearah leher tiap-tiap makhluk pada “Hari Penghakiman” di Mahsyar. Sesuai dengan beberapa surah di dalam Al-Qur’an, yaitu: Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi.  (Qaaf 21) Inilah Kitab (catatan) Kami, yang menuturkan kepadamu dengan benar; karena sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat segala perbuatan yang pernah kamu kerjakan.  (Al Jaatsiah 29) Dan tiap-tiap manusia itu, telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetap nya kalung) pada lehernya, dan Kami keluarkan baginya di hari Kiamat satu kitab yang dijumpainya dengan terbuka. Bacalah kitabmu: cukuplah dirimu sen­diri pada hari ini sebagai penghisab terhadapmu. (Al Israa’ 13-14)

Lima malaikat bersama manusia >>>>

Dalam riwayat yang lain dijelaskan, ada lima malaikat yang menyertai manusia, yaitu: Dua malaikat menjaga pada malam hari, Dua malaikat menjaga pada siang hari, dan Satu malaikat yang tidak pernah berpisah dengannya. Hal tersebut dijelaskan dengan firman Allah yang artinya: Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang bergantian (menjaganya), dimuka dan dibelakangnya. (Ar-Ra’d: 11)

Yang dimaksud malaikat yang bergantian yaitu malaikat malam dan siang yang melindunginya dari setan dari golongan jin dan manusia. Kedua malaikat menulis amal kebaikan dan kejelekan di antara kedua bahunya, lidahnya sebagai pena, mulutnya sebagai tempat tinta dan ludahnya sebagai tinta, keduanya menulis amal manusia sampai datang hari kematiannya.

Allah Swt berfirman tentang malaikat Kiraman Katibin: “Aku menanamkan mereka Kiraman Katibin karena ketika menulis amal kebaikan mereka naik ke langit dan memperlihatkannya kepada Allah dan mereka bersaksi atas hal tsb. dengan berkata: “Sesungguhnya hambaMu si fulan berbuat sesuatu kebaikan demikian dan demikian.” Dan ketika menulis atas seorang hamba amal kejelekan, mereka naik dan memperlihatkannya kepada Allah dengan rasa susah dan gelisah. Maka Allah Swt. berfirman pada malaikat Kiraman Katibin: “Apa yang diperbuat oleh hambaKu?” Mereka diam hingga Allah berfirman untuk yang kedua dan ketiga kalinya, lalu mereka berkata: “Ya Tuhanku, Engkau Dzat yang menutupi aib dan Engkau memerintahkan hamba-hambaMu agar menutupi aib-aib mereka.

Sesungguhnya setiap hari mereka membaca kitabMu dan mereka mengharap kami menutupi aibnya.” Lalu malaikat Kiraman Katibin mengatakan yang mereka ketahui tentang apa yang diperbuat seorang hamba. Allah Swt. berfirman: “Maka sesungguhnya kami menutupi aib-aib mereka dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui aib-aib.

Depiction of an angel in Islamic Persian miniature

Mu’aqqibat – Para malaikat yang selalu memelihara/ menjaga manusia dari kematian sampai waktu yang telah ditetapkan yang datang silih berganti.

Al-Mu’aqqibat (Arab:ال معقبت) adalah para malaikat yang menjaga setiap makhluk pada waktu bermukim, bepergian, waktu tidur atau ketika terjaga dari kematian sampai datang waktu kematian yang telah ditetapkan. Para malaikat ini termasuk dalam golongan Hafazhah (Para Penjaga)

Kata al-mu’aqqibat adalah bentuk jamak dari kata al-mua’qqibah. Kata tersebut diambil dari kata ‘aqiba yang berarti tumit, dari sini kata tersebut dipahami dalam arti mengikuti seakan-akan yang mengikuti itu meletakkan tumitnya di tempat tumit yang diikutinya. Pola kata yang digunakan di sini mengandung makna penekanan bahasa dan dimaksud adalah para malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah mengikuti setiap makhluk secara sungguh-sungguh.

Mu’aqqibat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala ihwalnya, tercantum dalam Al Qur’an Ar-Ra’du 10-11, yang berbunyi: Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Raad: 10-11)

Dan surat Al-An’am yang berbunyi: Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya, dan diutusNya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…(Al-An’am: 61)

Dalam hadits shahih dari Abdullah, yang dicatat oleh Imam Ahmad, Muhammad pun pernah bersabda tentang adanya makhluk malaikat dan jin yang menyertai setiap manusia. Menurut kisah Islam, hanya saja jin yang menyertai Muhammad telah dikalahkan olehnya.

Dalam hadits lain dikatakan bahwa “Para malaikat bergiliran untukmu pada malam dan siang hari. Mereka berkumpul dalam salat subuh dan salat ashar. Kemudian malaikat malam naik kepada Allah. Allah bertanya, kepada para malaikat sedang Dia lebih mengetahui tentang kamu, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat kamu tinggalkan?” Para malaikat berkata, “Kami mendatangi mereka sedang mengerjakan salat dan kami meninggalkan mereka sedang salat pula.

Arham – Malaikat yang diperintahkan untuk menetapkan rejeki, keberuntungan, ajal dan lainnya pada 4 bulan kehamilan.

Arham (Arab: ال ارحم) adalah para malaikat yang diserahi tugas untuk mengatur rezeki, kematian, amal, sengsara atau kebahagiaan janin di dalam rahim. Malaikat Arham memiliki tugas meniupkan debu bumi kepada janin, dimana calon makhluk itu nanti akan tercabut nyawanya oleh Malaikat Maut.

Kata Arham adalah bentuk jamak dari kata “rahim” (Arab: الرحم) yang memiliki arti kasih sayang, penyayang atau ampunan di dalam bahasa Indonesia.

Tugas Al-Arham

Jika seorang hamba telah sempurna empat bulan di dalam perut ibunya, maka Allah akan mengutus malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk melaksanakan kesemua ketetapan yang telah ditulis oleh Allah di Lauh Mahfuzh. Dalam hadits Muhammad bersabda: Rasulullah Saw bersabda: “Allah mengutuskan Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: ‘Wahai Tuhan!, ia masih berupa air mani’. Setelah beberapa ketika Malaikat berkata lagi: ‘Wahai Tuhan!, ia sudah berupa darah beku’. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: ‘Wahai Tuhan!, ia sudah berupa segumpal daging’.

Apabila Allah membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: ‘Wahai Tuhan!, orang ini akan diciptakan laki-laki atau perempuan? celaka atau bahagia? bagaimana rezekinya? serta bagaimana pula ajalnya?. Segala-galanya dicatat sewaktu dalam perut ibunya.”

Pada saat Sakratal-Maut, Allah akan membukakan tabir yang menyelubungi pandangan seseorang sehingga akan menembus akhirat. Tercantum di dalam Al Qur’an surah Qaaf, yang berbunyi: Sehingga bagi orang mukmin, ketersingkapan penglihatan ini menambah ringan bebannya menempuh kematian, tetapi orang kafir justru akan semakin membuatnya berat dan sulit untuk melampaui tahapan kematian itu. (Qaaf 50:22)

Jundallah (Arab: جندالله ) adalah para malaikat perang yang membantu nabi Muhammad dan pasukannya di dalam peperangan.

Secara makna Jundallah memiliki arti “Prajurit Allah”, berasal dari kata Jund (Arab: جند) yang berarti “Prajurit” atau “Tentara” dan kata Allah (Arab: الله).

Menurut Islam, ketika Muhammad sedang melihat-lihat suasana alam Langit Pertama (ar-Rafii’ah), dikatakan bahwa ia telah melihat sosok malaikat yang sangat besar sekali ukurannya, malaikat itu sedang menunggangi kuda yang berasal dari cahaya dan berbusana cahaya.

Malaikat yang besar itu dikelilingi oleh 70 ribu malaikat yang berbusanakan berbagai busana dan perhiasan, masing-masing mereka memegang tombak yang tebuat dari cahaya dan mereka itulah yang disebut sebagai Jundallah (Tentara Allah).

Menurut Islam, pada saat itu para muslimin mendapatkan keadaan pada bulan yang sangat berat, dimana para muslim memperoleh kemenangan besar, pertempuran pertama adalah pada saat Perang Badr, yang terjadi pada 17 Ramadhan, pada saat diturunkannya Al Qur’an. “Membuat sebuah norma untuk membedakan mana yang benar dan salah.” Hari dimana dua kekuatan bertemu.

Dalam pertempuran ini, ketika jumlah para muslimin tidaklah banyak, tidak bersenjatakan dengan lengkap dan tidak ada persiapan sama sekali. Ketika itu mereka ingin menangkap sebuah kafilah Quraisy yang dalam perjalanannya kembali dari Syria, yang dipimpin oleh Abu Sufyan.

Penangkapan ini bertujuan untuk mengambil harta-harta yang telah dirampas oleh pihak Quraisy dan menggantikannya, secara terpaksa mereka keluar dari kampung halaman mereka dan mereka hanya percaya dengan bantuan Allah.

Ketika Abu Sufyan mengetahui bahwa para muslimin datang, dia mengubah arah kafilahnya dan melarikan diri, kemudian mengerahkan penduduk Mekkah sebanyak 950 pasukan dan 700 unta dan langsung bergerak ke arah Madinah, untuk berhadapan langsung dengan para muslimin di Badr, dengan tujuan untuk menyerang para muslimin dan menghentikan penyebaran Islam.

Ketika itu para muslimin tidak memiliki persiapan untuk perang dan Muhammad sedang berunding dengan mereka, ia mendengar kalimat-kalimat yang membuatnya senang dari pihak Muhajirin dan Anshar. Said bin Muadz seorang pemimpin Anshar berkata, “Saya bersumpah kepada Zat menggenggam jiwa ku di tangan-Nya, jika senandainya engkau (Muhammad) menyeberangi lautan, maka kami akan mengikutimu, dan jika engkau bergerak ke Barkil Ghimad (negeri yang jauh), kami akan mengikutimu dan tidak ada satupun dari kami yang akan menetap disini.

Kami selalu sabar selama peperangan, serius dan jujur dalam konfrontasi dan kami berharap untuk menunjukkan niat baik kami untuk menyenangkan anda, majulah dengan rahmat Allah.”

Al Miqdad bin Amr, “Ya Rasulullah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti perkataan Bani Israel kepada Musa.” “Pergilah bertarung dengan Tuhanmu, sementara kami akan duduk disini saja.” “Tetapi kami akan mengatakan, “Pergilah bertarung dengan Tuhanmu dan kami akan bertarung disampingmu pula.”

Menurut syariat Islam, akhirnya pertempuran itu dimulai dengan persekutuan antara Tentara Bumi (muslimin) dengan bantuan Tentara Surga (malaikat Allah) dan banyak kejadian-kejadian yang diluar masuk akal. Para malaikat ini disebutkan dalam firman Allah diantaranya dalam surah berikut dibawah ini, yang berbunyi:

“ Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (Al-Imran 3: 125) ” “ (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya.

Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Al-Anfaal 8: 9 – 12) ”

“ Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (At-Taubah 9: 26) ”

“ …Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri… (Al-Mudatsir 74: 31) ”

Seorang prajurit muslim berkata kepada Muhammad bahwa ia telah melihat malaikat sedang bertempur disisinya, sambil menunggang kuda tetapi kaki kuda itu tidak pernah menyentuh tanah.

Menurut kisah Islam, kemenangan ada dipihak tentara Islam, jatuh korban dipihak tentara Islam dinyatakan hanya 14 jiwa, sementara itu dipihak Quraisy telah jatuh korban sebanyak 70 jiwa dan 70 jiwa ditangkap sebagai tawanan perang.

  • Ad-Dam’u – Malaikat yang selalu menangis jika melihat kesalahan manusia.
  • An-Nuqmah – Malaikat yang selalu berurusan dengan unsur api dan duduk disinggasana berupa nayala api, ia memiliki wajah kuning tembaga.
  • Ahlul Adli – Malaikat besar yang melebihi besarnya bumi besera isinya dikatakan ia memiliki 70 ribu kepala.
  • Ar-Ra’d – Malaikat pengatur awan dan hujan.
  • Malaikat Berbadan Api dan Salju – Malaikat yang setengah badannya berupa api dan salju berukuran besar serta dikelilingi oleh sepasukan malaikat yang tidak pernah berhenti berzikir.
  • Penjaga Matahari – Sembilan Malaikat yang menghujani matahari dengan salju.
  • Malaikat Rahmat – Penyebar keberkahan, rahmat, permohonan ampun dan pembawa roh orang-orang shaleh, ia datang bersama dengan Malaikat Maut dan Malaikat `Adzab.
  • Malaikat `Adzab – Pembawa roh orang-orang kafir, zalim, munafik, ia datang bersama dengan Malaikat Maut dan Malaikat Rahmat.
  • Pembeda Haq dan Bathil – Para malaikat yang ditugaskan untuk membedakan antara yang benar dan salah kepada manusia dan jin.
  • Penentram Hati – Para malaikat yang mendoakan seorang mukmin untuk meneguhkan pendirian sang mukmin tersebut.
  • Penjaga 7 Pintu Langit – 7 malaikat yang menjaga 7 pintu langit. Mereka diciptakan oleh Allah sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.
  • Pemberi Salam Ahli Surga – Para malaikat yang memberikan salam kepada para penghuni surga.
  • Pemohon Ampunan Orang Beriman – Para malaikat yang terdapat disekeliling ‘Arsy yang memohonkan ampunan bagi kaum yang beriman.

Pemohon Ampunan Manusia di Bumi – Para malaikat yang bertasbih memuji Allah dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi.

Nama Malaikat Maut dikatakan Izrail, tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al Quran maupun Hadits. Kemungkinan nama malaikat Izrail didapat dari sumber Israiliyat. Dalam Al Qur’an dia hanya disebut Malak al-Maut atau Malaikat Maut.

Malaikat Jibril, walau namanya hanya disebut dua kali dalam Al Qur’an, ia juga disebut di banyak tempat dalam Al Qur’an dengan sebutan lain seperti Ruh al-Qudus, Ruh al-Amin/ Ar-Ruh Al-Amin dan lainnya.Dari nama-nama malaikat di atas ada beberapa yang disebut namanya secara spesifik di dalam Al Qur’an, yaitu Jibril (QS 2 Al Baqarah: 97,98 dan QS 66 At Tahrim: 4), Mikail (QS 2 Al Baqarah: 98) dan Malik (QS Al Hujurat) dan lain-lain. Sedangkan Israfil, Munkar dan Nakir disebut dalam Hadits.

Wujud Malaikat

Wujud para malaikat telah dijabarkan di dalam Al Qur’an ada yang memiliki sayap sebanyak 2, 3 dan 4. surah Faathir 35:1 yang berbunyi:Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Faathir 35:1)

Kemudian dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Jibril memiliki 600 sayap, Israfil memiliki 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril dan yang terakhir dikatakan bahwa Hamalat al-‘Arsy memiliki 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil.

Wujud malaikat mustahil dapat dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia tercipta dari unsur dasar tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk tidak akan mampu melihat wujud dari malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya, hanya Nabi Muhammad SAW yang mampu melihat wujud asli malaikat bahkan sampai dua kali. Yaitu wujud asli malikat Jibril .Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan.

Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Mereka dapat melintasi secepat atau bahkan lebih cepat lagi. Mereka tidak berjenis lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.

Sifat Malaikat

Sifat-sifat malaikat adalah sebagai berikut: Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti. Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya. Selalu takut dan taat kepada Allah.Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya. Mempunyai sifat malu.

Bisa terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung.Tidak makan dan minum. Mampu mengubah wujudnya. Memiliki kekuatan dan kecepatan cahaya. Malaikat tidak pernah lelah dalam melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka.

Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh manusia, dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia.

Ada pengecualian terhadap kisah Muhammad yang pernah bertemu dengan Jibril dengan menampakkan wujud aslinya, penampakkan yang ditunjukkan kepada Muhammad ini sebanyak 2 kali, yaitu pada saat menerima wahyu dan Isra dan Mi’raj.

Beberapa nabi dan rasul telah di tampakkan wujud malaikat yang berubah menjadi manusia, seperti dalam kisah Ibrahim, Luth, Maryam, Muhammad dan lainnya. Azazil yang kemudian mendapatkan julukan Iblis, adalah nenek moyang Jin, seperti Adam nenek moyang Manusia. Jin adalah makhluk yang dicipta oleh Allah dari ‘api yang tidak berasap’, sedang malaikat dicipta dari cahaya.

Tempat yang tidak disukai Malaikat

Menurut syariat Islam ada beberapa tempat dimana para malaikat tidak akan mendatangi tempat (rumah) tersebut dan ada pendapat lain yang mengatakan adanya pengecualian terhadap malaikat-malaikat tertentu yang tetap akan mengunjungi tempat-tempat tersebut. Pendapat ini telah disampaikan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya. Tempat atau rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat itu di antara lain adalah: Tempat yang di dalamnya terdapat anjing, (kecuali anjing untuk kepentingan penjagaan keamanan, pertanian dan berburu); T

empat yang terdapat patung (gambar); Tempat yang di dalamnya ada seseorang muslim yang mengancungkan dengan senjata terhadap saudaranya sesama muslim; Tempat yang memiliki bau tidak sedap atau menyengat. Kesemuanya itu berdasarkan dalil dari hadits shahih yang dicatatat oleh para Imam, di antaranya adalah Ahmad, Hambali, Bukhari, Tirmidzy, Muslim dan lainnya. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

Malaikat Jibril pun enggan untuk masuk ke rumah Muhammad sewaktu ia berjanji ingin datang ke rumahnya, dikarenakan ada seekor anak anjing di bawah tempat tidur. Malaikat Rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan (memelihara) anjing.

Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu. Ibn Mubarak mengatakan bahwa Khalid bin Ma’dan berkata kepada sahabat Mu’adz bin Jabal RA, “Ceritakanlah satu hadits yang kau dengar dari Rasulullah SAW, yang kau menghafalnya dan setiap hari kau mengingatnya lantaran saking keras, halus, dan dalamnya makna hadits tersebut.

Hadits manakah yang menurut pendapatmu paling penting ?”Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan.” Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur, “hmm, sungguh kangennya hati ini kepada Rasulullah SAW, ingin rasanya segera bersua dengan beliau…

”Ia melanjutkan, “Suatu saat aku menghadap Rasulullah SAW. Beliau menunggangi seekor unta dan menyuruhku naik dibelakangnya, maka berangkatlah kami dengan unta tersebut. Kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, dan berdoa, “Puji syukur kehadirat Allah, Yang Maha Berkehendak kepada makhluq-Nya menurut kehendak-Nya.”Kemudian beliau SAW berkata, “sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang apabila engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah SWT.

AMAL YANG TERTOLAK

“Hai, Mu’adz! Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh malaikat penjaga pintu sesuai kadar pintu dan keagungannya.Maka, Malaikat hafazhah (malaikat yang memelihara dan mencatat amal seseorang) naik ke langit dengan membawa amal seseorang yang cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya matahari.

Ia, yang menganggap amal orang tersebut banyak, memuji amal-amal orang itu. Tapi, sampai di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepada malaikat hafazhah, “Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga tukang pengumpat, aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.

”Keesokan harinya, ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal shalih seorang lainnya yang cahayanya berkilauan. Ia juga memujinya lantaran begitu banyaknya amal tersebut. Namun malaikat di langit kedua mengatakan, “berhentilah, dan tamparkan amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan.

Allah memerintahkanku untuk menahan amal seperti ini, jangan sampai lewat hingga hari berikutnya.” Maka seluruh malaikat pun melaknat orang tersebut sampai sore hari.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan, dipenuhi amal sedekah, puasa, dan bermacam-macam kebaikan yang oleh malaikat hafazhah dianggap demikian banyak dan terpuji. Namun saat sampai di langit ketiga berkata malaikat penjaga pintu langit yang ketiga, “Tamparkanlan amal ini ke wajah pemiliknya, aku malaikat penjaga orang yang sombong.

Allah memerintahkanku untuk tidak menerima orang sombong masuk. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya. Salahnya sendiri ia menyombongkan dirinya di tengah-tengah orang lain.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit keempat, membawa amal seseorang yang bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji, dan umrah. Tapi, ketika sampai di langit keempat, malaikat penjaga pintu langit keempat mengatakan kepada malaikat hafazhah, “berhentilah, jangan dilanjutkan.

Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga orang -orang yang suka ujub (membanggakan diri). Aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk amal tukang ujub. Jangan sampai amal itu melewatiku untuk mencapai langit yang berikutnya, sebab ia kalau beramal selalu ujub.

Kemudian naik lagi malaikat hafazhah ke langit kelima, membawa amal hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita diiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus, seperti amal jihad, ibadah haji, ibadah umrah. Cahaya amal itu bagaikan matahari.

Namun, begitu sampai di langit kelima, berkata malaikat penjaga pintu langit kelima, “Aku ini penjaga sifat hasud (dengki, iri hati). Pemilik amal ini, yang amalnya sedemikian bagus, suka hasud kepada orang lain atas kenikmatan yang Allah berikan kepadanya. Sungguh ia benci kepada apa yang diridhai Allah SWT. Saya diperintahkan agar tidak membiarkan amal orang seperti ini untuk melewati pintuku menuju pintu selanjutnya..

”Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik dengan membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Tapi saat ia sampai di langit keenam, malaikat penjaga pintu ini mengatakan, “Aku ini malaikat penjaga rahmat.

Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah ke wajah pemiliknya. Salah sendiri ia tidak pernah mengasihi orang. Apabila ada orang lain yang mendapat musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan agar amal seperti ini tidak melewatiku hingga dapat sampai pada pintu berikutnya.

”Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik ke langit ketujuh dengan membawa amal seorang hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad, dan kewara’a. Suaranya pun bergemuruh bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan malaikat. Namun tatkala sampai di langit yang ketujuh, malaikat penjaga langit ketujuh mengatakan, “Aku ini penjaga sum’at (ingin terkenal / Riya).

Sesungguhnya orang ini ingin dikenal dalam kumpulan, selalu ingin terlihat lebih unggul disaat berkumpul, dan ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin.. Allah memerintahkanku agar amalnya itu tidak sampai melewatiku. Setiap amal yang tidak bersih karena Allah, itulah yang disebut Riya. Allah tak akan menerima amal orang-orang yang riya.

”Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik membawa amal seorang hamba : shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik, pendiam, tidak banyak bicara, dzikir kepada Allah. Amalnya itu diiringi para malaikat hingga langit ketujuh, bahkan sampai menerobos memasuki hijab-hijab dan sampailah kehadirat Allah.

Para malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semua menyaksikan bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan ikhlas karena Allah SWT. Namun Allah berfirman, ” Kalian adalah hafazhah, pencatat amal-amal hamba-Ku. Sedangkan Akulah yang mengintip hatinya. Amal ini tidak karena-Ku. yang dimaksud oleh si pemilik amal ini bukanlah Aku. Amal ini tidak diikhlaskan demi Aku. Aku lebih mengetahui dari kalian apa yang dimaksud olehnya dengan amalan itu. Aku laknat dia, karena menipu orang lain, dan juga menipu kalian (para malaikat hafazhah). tapi Aku tak’kan tertipu olehnya.Aku ini yang paling tahu akan hal-hal yang ghaib.

Akulah yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar kepada-Ku setiap apapun yang samar. tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apapun yang tersembunyi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku akan apa yang akan terjadi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yagn akan datang. Pengetahuan-Ku kepada orang-orang terdahu-Ku sebagaimana pengetahuan-Ku kepada orang-orang yang kemudian. Aku lebih tahu atas apapun yang tersamar daripada rahasia.

Bagaimana bisa amal hamba-Ku menipu-Ku. Dia bisa menipu makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Laknat-Ku tetap kepadanya.Tujuh malaikat hafazhah yang ada pada saat itu dan 3000 malaikat lain yang mengiringinya menimpali, “Wahai Tuhan kami, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami kepadanya.” Maka, semua yang ada di langit pun mengatakan, “Tetapkanlah laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat kepadanya.”

TAHANLAH MULUTMU

Mu’adz pun kemudian menangis terisak-isak dan berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana bisa aku selamat dari apa yang baru engkau ceritakan itu.?”Rasulullah SAW menjawab, ” Wahai Mu’adz, ikutilah nabimu dalam hal keyakinan.!

”Mu’adz berkata lagi, ‘Wahai Tuan, engkau adalah Rasulullah. sedangkan aku ini hanyalah si Mu’adz bin Jabal, bagaimana aku dapat selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?

”Rasulullah SAW bersabda

, “Seandainya dalam amalmu ada kelengahan, tahanlah mulutmu, jangan sampai menjelek-jelekkan orang lain, dan juga saudara-saudaramu sesama ulama. Apabila engkau hendak menjelek-jelekkan orang lain, ingatlah pada dirimu sendiri. Sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh dengan aib.

  • Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekkan orang lain.
  • Jangan mengangkat dirimu sendiri engan menekan orang lain.
  • Jangan Riya dengan amalmu agar diketahui orang lain.
  • Janganlah termasuk golongan orang yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat.
  • Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik.
  • Jangan takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia dan akhirat.
  • Jangan berkata kasar dalam suatu majelis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlaqmu itu.
  • Jangan mengungkit-ungkit apabila berbuat kebaikan.
  • Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan mulutmu, kelak kamu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka jahannam,

Sebagaimana firman Allah, “Wannaasyithaati nasythaa.” (Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia, yang mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya.)Aku (Mu’adz) berkata : “Ya Rasulullah, siapa yang akan kuat menanggung penderitaan semacam ini ?

”Jawab Rasulullah SAW, Wahai Mu’adz, yang kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT.

Cukup untuk mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri, dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang engkau benci bila sesuatu itu terjadi kepadamu.Apabila seperti itu, engkau akan selamat, terhindar dari penderitaan itu.”

References

Other perspective about malaikat or angel

http://en.wikipedia.org/wiki/Angel

 

In Honor And Respect of All Mother’s… Happy Mother’s Day


Mothering as a Spiritual Path

So you’re sitting in your living room on Saturday morning, drinking your first cup of coffee, trying to get your eyes open. What a night! Pick one: your baby was up for six feedings; your toddler cried all night with his zillionth earache of the season; your house looks like ground zero from your kids going nuts last night with their friends; your teenager finally came home three long hours after her curfew.

Through the fog inside your head, you wonder why you’re a mother. You dream about being with a gorgeous lover, childless, on a warm and sunny beach in Tahiti….

A knock on the front door jerks your out of your reverie. You pull your frayed bathrobe shut and cautiously get up and open the front door. The woman at the door steps into your house and offers you a once-in-a- lifetime deal, a spiritual path unconditionally guaranteed to deepen your spirituality in ways you’ve always dreamed of.

It’s yours, she says, if only you agree to a few conditions: *No time off: you’ll wake up to this path, go to sleep with it, even spend entire nights practicing it; *There will be little external confirmation or praise, no one to pat your back and tell you how well you’re doing; *You will have higher highs on this path, but you will also have lower lows than you’ve probably ever experienced before; *You will HAVE to put your spiritual principles to work on a daily basis in order to survive the rigors of this path. Would you take it? Would you sign on the dotted line? If you’re a mother, you’ve probably guessed that you’ve already said “yes.”

This path is that of the mother: mothering as a spiritual path. A chasm yawns in our culture between “spirituality” in all of its forms, and “mothering,” that daily round of diapering, carpooling, homeworking, playing. Polly Berends, an author who writes extensively on parenting and spirituality, dreamt once that she and a man were waiting to be officially recognized as “spiritual beings.”

The man wore beautiful “spiritual” robes, was named Guruswamiananda Something-or-other, and carried an armload of degrees certifying his spirituality. All he had to do was to step forward and be recognized.

When it was Berends’ turn, however, she saw with dismay that in order for her to step forward to be recognized as a “spiritual being,” she had to climb over an enormous mountain of kid’s laundry. I remember when I suspected I was pregnant for the first time.

I was on a three-day silent retreat. My body felt swollen, my head stuffed with cotton wool. I couldn’t concentrate enough to meditate. Oh no, I thought, is THIS what it means to be a mother? Do I have to give up my spiritual life for the next twenty years? I found out through talking with many mothers, reading, and allowing myself to sink deeply into these questions, the answer is “no.”

Contrary to what our culture and our religions tell us, mothering and spirituality are meant to dance with each other. In fact, mothering, like the offer above, can become one of the most rewarding of all spiritual paths, if we only learn how to let this happen.

Reflect for a moment on what the word “spiritual” means to you in your life. Ask yourself, “What difference would it make for me to integrate my mothering with my spirituality?

How would a typical day with my children, with all its joys and frustrations, look and feel different if the two were integrated?” I define spirituality in two ways: first, keeping one’s heart open to oneself and whatever life brings; and second, staying rooted in the ground of one’s being, the sacredness of life, while going about one’s daily routine.

Such simple things, really, but such a challenge to work with amid the daily repetitive tasks of feeding, bathing, wiping runny noses, and all the other punctuations of a mother’s life. There are four important components to mothering as a spiritual path: keeping one’s heart open; slowing down and opening to Now; letting go; and saying “Yes.” *Opening the Heart*

This is the primary practice of mothering as a spiritual path, and the most challenging. It’s difficult, to say the least, to be an openhearted mother in this culture. Mothers are assaulted with injunctions to be a “perfect mother” through the media, families, churches, and parenting books; they are reminded that any mistakes they make will be told to a therapist twenty years hence. What a challenge it is to open one’s heart, especially to oneself, under these circumstances, and yet how necessary.

When we as mother listen to these messages, we often feel anxious, afraid, and woefully inadequate. We then contract, both emotionally and physically, and lose a heart-full connection both with ourselves and our children. We can let ourselves off the critical hook, open and soften our hearts to ourselves.

We can learn to cradle our own self-judgment and discomfort on bad days with our kids as we would a sick or grieving child. We can let go of pursuing perfection as mothers and instead open to aliveness. When we let ourselves into our own hearts, there will automatically be plenty of room for our children as well.

Openheartedness does not mean “idiot compassion,” to use Chogyan Trungpa’s phrase. We as mothers can be openhearted while we say “no” to our children, set limits, and discipline. Openheartedness is something we may practice at any time.

All it takes is to stop, breathe gently and deeply, and let our hearts soften and open. When we stop, breathe, and soften our hearts, we open ourselves tothe ordinary grace of this world, grace and energy and aliveness available simply for the asking.

As someone once said, the winds of grace are always blowing: all we need to do is raise our sails. We don’t have to mother alone. This support, this energy, this greater love in which we live is always there for us. When we open our hearts, this grace can move through us and out into the world of our children, blessing us greatly on its way.

I remember one of those afternoons-without-end with my daughter when the house was a disaster and both of us were tired and cranky, one of those afternoons where I wasn’t sure we’d both survive until dinnertime. By late afternoon, after I shouted at her for knocking the cat food dish over, I remembered: I stopped, sat down, and breathed. I remembered that I was not alone.

The image came of letting myself be a hollow tube, allowing that larger grace and love to flow through me and touch myself and my daughter. I relaxed. I can’t say that the afternoon was transformed into The Perfect Day With My Daughter, but we were both able to laugh and be with each other in a new way.

I raised my sails, and grace blew in. *Slowing Down* Eknath Easwaren considers slowing down to be one of the cornerstones of a spiritual life. Why? A clue lies in the Chinese ideograph for “busy,” combined from two other ideographs: “heart” and “killing.” When we become too busy, we lose touch with our hearts, with our bodies, with the present moment. Life lived in fast forward means no time for either ourselves or our children in any meaningful way.

Life began with waking up and loving my mother’s face. ~ George Eliot

There may not be much we can do as mothers to slow down our outer lives, but we do have choices to make about our own inner busyness. Imagine driving in heavy traffic, taking your child to soccer practice. You hunker down over the steering wheel, frown, mutter imprecations about the jerk who cut in front of you, hold your breath. Your heart and your stomach are tight and hard. You can’t hear what your child is saying to you (“Mommy…Mommy….MOMMY!”) over the din of your own thoughts. Stop.

Change channels. Gently remind yourself to slow down and breathe from your belly, let your heart soften, loosen your grip on the steering wheel. You now notice the blue-gray of the winter clouds above the freeway, the sounds and smells and sights around you. You listen to what your child is saying, or sit with them gently in silence as you drive. By slowing down internally, you allow heartfulness, “grace-space,” to fill your body, your car, and your relationship with your child.

The ancient Greeks had two words for time, “chronos” and “kairos.” Chronos is clock time, linear time. Kairos is sacred time, spirit blazing within matter, the “eternal present” of saints, animals, children. We are trained to believe that only certain times are sacred, but any time may be kairos.

As I ask in my book, “If Only I Were A Better Mother,” “What if all moments are sacred moments? What if we are all priestesses of the present? What if all ground is holy? What if ALL bushes are burning, as well as trees, stones, creatures, our children, ourselves, and all the spaces between?” Kairos is always there within and around us, no matter what we may be doing with our children.

All it takes is an inner slowing down. I have found two simple ways to cultivate inner slowness, “grace- space,” throughout the day. The first way is to get up a half hour earlier, giving yourself some quiet time before the day with your children begins. Do whatever centers you: watch the sky change colors with the sunrise, meditate, drink your first cup of coffee in peace and quiet.

The effects will stay with you throughout the day. Second, practice taking two minute “quiet breaks.” Go into the bathroom, if that is the only refuge you can find. Give yourself permission to slow down, breathe quietly, come back to your body and your heart. Slow down and gently touch the Ground of your being. Both you and your kids will enjoy the benefits. A. H.

Almaas considers the single most important spiritual question to be: “Are you here?” When we slow down, open our senses and our hearts to the richness of the present moment, to the sacred Now, to ourselves and our children, we may answer, “Yes.” *Letting Go* A client who was a mother and practicing Buddhist said to me once: “Teachers have always told me the importance of letting go, of opening to the impermanence of everything around me, but I never really got it until I had children.” So true.

In many ways, the primary task of mothering is learning to let go. We start learning to let go of our children at their birth, their first leavetaking of us, and the learning never stops. Contracting around the endless repetition of daily tasks is so easy to do as a mother. We become myopic, diminished.

When we open up our vision just a little, we can see how quickly this daily round of mothering passes, and how precious this time is with our children, all of it. Opening to the fleetingness of each moment allows us to see the grace, the sweetness, the fragility of everything we do with our kids, from cleaning their rooms with them to listening to the same knock-knock joke for the fourteenth time.

I sat on a back porch with my mother and daughter in Montgomery, Alabama, one humid southern evening last summer and realized that just one breath, one heartbeat ago, I was in my young daughter’s place, sitting with my own mother and grandmother in the damp and fragrant heat.

In yet just another breath, another heartbeat, I realized as well, I would be in my mother’s place, rocking with my own daughter and granddaughter. How quickly time passes; how quickly the chance to practice openhearted mothering slips through our hands. How precious this brief time we are given with our children truly is.

Ask yourself: “If I were to go through one typical day with my children with this tender, bittersweet awareness of the fleetness and fragility of time in my heart, how would it change my life as a mother?” Try it. *Saying Yes* I remember so many times when I have said “No” to my daughter, not out loud, but an inner No. “No, I don’t want to wake up in the middle of the night anymore.” “No, I don’t want to grit my teeth through another long temper tantrum.” “No, I simply can’t be a mom anymore.”

For All Those Stand -up SINGLE fATHERS … May You ALSO Be Blessed on This Mother’s Day … Respect to You

I struggle against the rigors of this path, the frustrations, the challenges. So much changes when I can stop, take a deep breath, and find that final, heart-full “Yes” which lies beneath what seemed to be a final “No.” When I reach deep and find an unconditional “Yes” to mothering, when I quit resisting what life brings my way in the form of my small child, my mother-life opens up. The present moment with my child becomes more spacious and sacred, no matter what is happening between us. I have learned that I can set limits with my child, say “no” to her around specific issues, and at the same time stay open, non-contracted, and soft, breathing “Yes” to the larger space that cradles us both.

Someone, I have forgotten who, said that when we find this initial Yes, “We realize that ‘Yes’ is the answer to every ‘why?’ and suddenly everything makes sense. In saying this ‘Yes’ we become what we are. Our true self is ‘Yes.’ ” Such a gift, both to ourselves and our children, to practice Yes. This Yes is the password that opens the sacred door, reconnects us with our own hearts, our own children, and reweaves us once more into the great and sacred Web of Life.

Some final, practical tips for integrating these suggestions into your life. First and foremost, breathe. Practice soft-bellied breathing, when you’re waiting at a stoplight, when you’re playing with your children or putting them in time out.

The more you practice breathing at non-stressful moments, the more you will be able instinctively to breathe deeply, instead of contracting, when a difficult moment happens with your children. Next, practice softening. Soften your belly. Soften your eyes and your visual focus. Soften your heart. When you’re holding your baby, when your child is sitting on your lap, or when you give your teenager a hug, soften into them.

See what a difference it makes. Again, the more you practice softening in easy times, the easier it will be to soften when the going gets rough. Post reminders to yourself in your house and car to practice the aforementioned.

Tell yourself that whenever you see the stove, or the window above the sofa, or any object in your environment, you’ll remember to breathe and soften. Finally, see your time with your children as a precious opportunity to practice mothering as a spiritual path. It is a once-in-a-lifetime chance that passes very quickly. Open to the wonders and gifts that this path brings your way, and breathe Spirit into your daily life with your children.

Mothers are the beginning of all things.
It is they who first understand Life’s meaning,
And none ever so well as they.
Mothers are the rightful heirs of Love,
For it is they who give of themselves,
That new souls might have a path to walk….
The joys, courage, peace and pain that is hers,
Is the legacy of the Great Mother Goddess,
For whom all Her daughters are most sacred,
And forever blessed with this secret wisdom:
The wonder and magick of Life.

The magick of your motherhood
is deeply honored, loved and celebrated.

Blessed Mother’s Day to all the mothers, surrogates, fosters, fathers who must be both parents to their children, every nurturing, loving soul who has made it their life’s work to care for others as if they were their own. The Goddess lives in you!

Meaning of life [about piece of life]


This article is about the philosophical concept. For other uses, see Meaning of life (disambiguation).

Where Do We Come From? What Are We? Where Are We Going?

The meaning of life is a philosophical question concerning the significance of life or existence in general. It can also be expressed in different forms, such as “Why are we here?“, “What is life all about?”, and “What is the purpose of existence?” It has been the subject of much philosophical, scientific, and theologicalspeculation throughout history. There have been a large number of proposed answers to these questions from many different cultural and ideological backgrounds.

The meaning of life is in the philosophical and religious conceptions of existencesocial tiesconsciousness, and happiness, and borders on many other issues, such as symbolic meaningontologyvalue, purpose,ethicsgood and evilfree will, the existence of a or multiple Godsconceptions of God, the soul, and theafterlife. Scientific contributions focus primarily on describing related empirical facts about the universe, exploring the context and parameters concerning the ‘how’ of life. Science also studies and can provide recommendations for the pursuit of well-being and a related conception of morality. An alternative, humanisticapproach poses the question “What is the meaning of my life?” The value of the question pertaining to the purpose of life may coincide with the achievement of ultimate reality, or a feeling of oneness, or even a feeling of sacredness.

Perhaps you think I’ve set myself an impossible challenge here?

Not so. The meaning of life is pretty straightforward to state. Your life has whatever meaning you give to it. So the question becomes: what do people say gives their lives meaning? That’s easy enough to measure and psychologists have done exactly that.

Baumeister and Vohs (2002) have synthesised four factors. When people are asked, the more they report each of these four factors being fulfilled, the more meaningful their lives feel:

  1. Purpose – this could be living happily ever after, going to heaven or even (whisper it) found at work. Whatever it is, meaning in life comes from reaching goals and feeling fulfilled. Even though fulfilment is hard to achieve because the state fades, people need purpose.
  2. Values – people need a moral structure to work out what is right and what is wrong. There are plenty to choose from: some come from religion, others from philosophy and still others from your friends and family.
  3. Efficacy – people want to make a difference and have some control over their environment. Without that, the meaning of life is reduced.
  4. Self-worth – we all want to feel we’re good and worthwhile people. We can do this individually or by hitching ourselves to a worthy cause. Either way we need to be able to view ourselves in a positive light.

So, there you have it: the meaning of life in under 300 words.

Two words of warning. Firstly, it can be difficult to get all these things in the same place, although not impossible. We use family, work, hobbies and other things to fulfil our need for meaning. Secondly, a meaningful life is probably necessary to be happy, but it isn’t sufficient.

What meaning do you give to your life?

 

Jogja, 19th 2012

No past..no future..no problem..just; this present

 

notes; 

kadang, kita ditinggalkan karena menjadi diri sendiri…
karena kita bukan zombie yang harus mengikuti cara orang lain, yang terbaik adalah diri sendiri.
tapi jika ada orang-orang yang pergi karena menginginkan kita menjadi sama dengan kebanyakan orang, maka lihatlah yang tertinggal. itulah yang disebut teman, bukan mereka yang pergi 🙂

 

Jogjakarta, day by day with freezing breath July 2012


A few weeks that’s has been passed, just left a high lonesome breath. Oh, that’ s so awfull, it’s not pain, just being more speechless.

Jogjakarta, day by day with freezing breath July 2012

“AUFKLÄRUNG ist der Ausgang des Menschen aus seiner selbstverschuldeten Unmündigkeit. Unmündigkeit ist das Unvermögen, sich seines Verstandes ohne Leitung eines anderen zu bedienen. Selbstverschuldet ist diese Unmündigkeit, wenn die Ursache derselben nicht am Mangel des Verstandes, sondern der Entschließung und des Mutes liegt, sich seiner ohne Leitung eines andern zu bedienen. Sapere aude! Habe Mut, dich deines eigenen Verstandes zu bedienen! ist also der Wahlspruch der Aufklärung.”

Immanuel Kant

 

The Self.

The self has been something that has been a major issue all year especially during our unit on identity. It’s all comes down to the question of who am I. The fact that my body is trillions of atoms that come together to sustain something bigger, which ultimately leads them towards the creation of a greater the state of mind I call me, Matt DiMarco. Not only that though, they all interact and integrate in ways to sustain me. Why? What makes life into life? They don’t know I exist and don’t really gain anything special for sustaining me. Those atoms don’t even know they themselves exist. Yet I, Matt DiMarco, some mysterious result of those atoms cooperating in one of the most mysterious ways that this universe has ever seen, know they exist. Why is that? What happens when you give a point of view to something that shouldn’t have one? The answer: me. But who am I really?

Who Am I?

Supposedly there are three answers. You are either your thoughts, your body, or a soul. These are more formally known as psychological criterion, body criterion, or single soul hypothesis. The issue arises in one occurrence. The Ship of Theseus is a wooden boat each day gets a plank replaced, but after all its planks are replaced is it still the same ship? Another example arises in teleportation. Your body is disintegrated inside a teleporter after its information is saved and sent and then the information is almost instantly sent to somewhere else to rebuild you exactly as you were. Yet the question is did you die, is a twin created, will it remember your/its past, and will that be you?

I don’t get why they arise as such opposite answers. I feel confident to say I am body, its thoughts, and a soul somehow attached. The soul is unique idea because it lives through death. And according to the bodily criterion even if there was a soul that wouldn’t be me. And I think of my psychological states as part of my body. But the atoms of my body don’t know about me or the thoughts I have. Yet if I rebuilt my exact brain and memory into a new body “I” would have two bodies according to psychological criterion. They aren’t so different. And I can only say I am all three if I hope and believe my soul is something physical. I hope and believe my soul is physical but not made of matter but of energy. Since matter can take the form of life then I don’t see why energy can’t, since matter is technically a form of energy as said by Einstein. And I hope and believe this unique undiscovered energy exists with the body and remains after it dies and goes on to fulfill other roles in the universe, possibly eventually to work its way to other become new bodies for new things. Perhaps human bodies are merely USB ports for these souls. Who Am I? I am my body, thoughts, and soul all at once!

 

Compassion is the basis of morality


Compassion is the basis of morality.
[Arthur Schopenhauer]

Wow..how is life is so beautiful and meaningfull

The individual has always had to struggle to keep from being overwhelmed by the tribe. If you try it, you will be lonely often, and sometimes frightened. But no price is too high to pay for the privilege of owning yourself.
Friedrich Nietzsche

Aku & Bayanganku


A Lesson From Chuang Tzu

I’ve been so busy and stressed in the past few months. I feel like I’ve been running around, sometimes in circles… getting nowhere. This morning, I came across this Taoist story, and I thought, what an appropriate lesson for me!

The Man Who Was Scared of his Shadow
There was once a man who was terrified of his own shadow and lived in fear of the sound of his own footsteps. Walking along one day he entered a panic and tried to flee at top speed. But as fast as he ran, his shadow and footsteps kept up with him and made him run all the faster, until he finally collapsed of exhaustion and died.

If he had only sat down in the shade of a tree, he would no longer have have been able to see his shadow or hear his own footsteps.