Tips Terhindar dari Jebakan Narkoba Oknum Polisi


Diberitakan dari detiknews

Selasa, 19/06/2012 12:40 WIB

Jakarta Lagi-lagi muncul cerita jebakan narkoba yang dilakukan oknum polisi, seperti yang dialami Lita Stephanie. Pihak kepolisian memastikan, bila benar apa yang dialami Lita, oknum itu tidak akan ditolerir.

Polisi juga meminta masyarakat waspada menghadapi polisi yang berbuat seperti itu. Berikut tips dari Mabes Polri agar masyarakat terhindar dari apa yang disebut sebagai jebakan narkoba:

1. Masyarakat jangan panik, berbicara tenang, dan tanyakan identitas dan kesatuan pihak yang mengaku petugas itu.

2. Jangan menyentuh barang, obat, atau narkoba yang dituding sebagai milik korban.

3. Bila benar tidak memiliki narkoba, warga harus berani meminta tes urine kepada orang yang mengaku petugas itu

4. Laporkan petugas yang menjebak itu, ke propam dan petugas sentra kepolisian terdekat.

“Segera laporkan ke markas polisi terdekat,” tegas Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar kepada detikcom, Selasa (19/6/2012).

Kasus jebakan narkoba itu tengah ramai diperbincangkan di dunia maya. Adalah Sherlita Stephanie atau Lita yang melintas di kawasan Jalan Bangka sekitar pukul 01.30 WIB, Selasa (19/6). Pekerja di sebuah event organizer ini mengaku sejumlah petugas menghentikan kendaraan yang ditumpanginya bersama rekannya, Yasmin.

Entah bagaimana, dia tiba-tiba dituding memiliki obat-obatan yang disebut sebagai narkoba. Padahal dia bukan pemakai. Lita, bersama temannya baru pulang dari Kemang menuju kawasan Tebet dan melintas di daerah Bangka. Hampir 1 jam dia mengalami intimidasi, hingga akhirnya adiknya datang. Adiknya dengan terpaksa menyebut nama kenalannya di kepolisian. Hingga kemudian polisi melepaskan Lita dan Yasmin.

Kontemplasi April 2012


Kesepian itu hanya tamu, sebagaimana tamu2 yang lain; cinta, bahagia, sedih, luka, stress, penat, jengah, maupun rasa yang meluap-luap. Perlakukan mereka dengan sederhana, sebagaimana adannya kita.

Capek itu nggak usah dirasain, tapi dijalani dan dinikmati. Pasti rasanya akan lebih mak nyuss…buktiin aja, termasuk kesepian & kebosanan

kalau memang orang yang kita cintai itu bahagia atas apa yang ia pilih dan jalani, ya lepasin aja. Toh dengan melepaskan sesuatu kita, tidak akan pernah kehilangan apapun

Itu emang berat bagi orang yang memahami cinta/hidup hanya hitam & putih. Tuhan aja dalam kita sucinya, tidak pernah memkasakan hambanya untuk ikut ke jalannya kok

Tapi kebanyakan manusia sering memaksakan diri dan orang lain atas nama cinta-kasih sayang dan entah apapun lagi, hadewwwh.

Tuhan memberikan kebebasan kepada setiap hambanya untuk menemukan diriNya.

Jogja, 16 April 2012

menegadah ke langit dalam lompatan kuantum


menegadah ke langit dalam lompatan kuantum
linkar sepertitiga detik
sosok sang perempuan awan
menjulai dalam rangkaian gugus maha bintang
di pengakhiran dinihari

babak pengimaman terakhir dalam secawan magrib
menggelepar dalam banjir teodormin yang mengelak
heineken putih-pun urung menjadi pembuka
bagi perjamuan terakhir

telah berkembang dan menguncup dalam waktu yang bersamaan
dengan keanggunan yang masih saja
sebagaimana yang dulu dan awal

ah…ritmis yang sendu
dan memerah
semerah saga
semabuk anggur hitam

dan mengehela nafas panjang
……………..

Jogja, 10 April 2012

~ah badai yang sebagaimana dahulu, namun anyir menyisakan desau dan haru~

Tentang aku, kau, Ranu Kumbolo dan lembah putih


Ada sesuatu yang menghilang dan pelan-pelan datang dengan tergesa-gesa, dengan segala warna-warninya yang sarat dengan pertanyaan. Hingga tatkala bangun menjelang fajar, pertanyaan itu kembali menukik tajam dalam barisan berderet yang entah. Gemerisik risau jejaring lelangit rasa kembali berpesta pora dengan daging yang tersayat perih namun tandas. Aku, masih mencoba memamham setiap kepingan diri yang terbungkus rapi dalam pakaian embun dan cahaya aurora di pelataran ranu kumbolo.

Malam mendekati fajar, masih saja taburan-taburan bintang gemintang mengiasi langit biru yang cerah diterangi bulan yang hampir purnama, udara dingin yang menusuk tulang membuatku merapat erat pada carrier yang sempat membaur dengan embun. Di dalam lingkaran api unggun dan hangatnya kopi serta sebatang rokok, sambil bercengkrama dengan desau angin-dingin sambil menikmati ucapan fajar ranu kumbolo.

Aku masih merasa pengap dengan diriku, dan kedua telapak tangan ini masih mencoma mengengam cahaya, sebuah cahaya yang selama ini menjadi defender atas cinta yang membebaskan dan keyakinan atas keteduhan yang mengejawantah.

Desir suara parau Casuarina jungjuhniana menyelinap pelan dalam setiap ganglion otakku, pelan dan lembut.

Ranu Kumbolo, my birthday 2012

Still being defender of lights