Seorang Pemuda di Gerbong Kereta


Di sebuah gerbong kereta api yang penuh, seorang pemuda berusia kira-kira 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela. Ia begitu takjub melihat pemandangan sekitarnya. Dengan girang, ia berteriak dan berkata kepada ayahnya:
”Ayah, coba lihat, pohon-pohon itu … mereka berjalan menyusul kita”.

Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tidak kurang cerianya. Ia begitu bahagian mendengar celoteh putranya itu.

Di samping pemuda itu ada sepasang suami-istri yang mengamati tingkah pemuda yang kekanak-kanakan itu. Mereka berdua merasa sangat risih. Kereta terus berlalu. Tidak lama pemuda itu kembali berteriak:

“Ayah, lihat itu, itu awan kan …? lihat … mereka ikut berjalan bersama kita juga …”.

Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan.

Dua orang suami-istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu:

“Kenapa anda tidak membawa anak anda ini ke dokter jiwa?”

Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia menjawab:
“Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahir. Tadi ia baru dioperasi, dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya”.

Pasangan suami itu pun terdiam seribu bahasa.

Apakah saat membaca kisah ini kita juga berpikiran spt suami istri ini?
Setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing, oleh karena itu jangan memvonis seseorang dengan apa yg anda lihat saja. 
Barangkali saja bila anda mengetahui kondisi sebenarnya anda akan tercengang.

Maka kita PERLU BERPIKIR SEBELUM BICARA…

 

Jika; dialog masa lalu-kini-dan nanti


Jika kamu mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas.
Trauma ini lantas kamu gunakan sebagai ‘kambing hitam’ atas keterpurukan kamu saat ini.
kamu akan terus terikat dengannya, meski itu menyakitkan.
Bila kamu tak bisa lepas dari trauma, maka coba tanyakanlah hal ini pada dirimu:

“Berapa banyak luka lagi yang akan saya biarkan diderita oleh diri saya sendiri?
Apakah trauma ini pantas menghancurkan seluruh sisa hidupsaya?
Siapa yang berkuasa disini,diri saya–ataukah trauma?
“Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon.

Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri.
Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama.

Satu-satunya yang menghalangi kita untuk melangkah darimasa lalu adalah pikiran kitasendiri.
Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari.
Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup kamusendiri.

Sahabatku yang teguh hatinya, ingatlah hanya seorang pemenanglah yang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang akan sibuk mengingat masa lalu.

Bila kita sibuk menghabiskan waktu dan energi kita memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, maka kita tidak memiliki hari ini untuk disyukuri.
Saat kita merasa sedih dan putus asa, atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita.
Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita?

 

Tetaplah tegar dan percaya diri, berpikir positif dan optimis,
berjuang terus, dan pantang mundur.

Jogjakarta, awal minggu kedua purnama kesebelas 2012

Bersama dengan seorang teman ketika, ia (masih saja) menjejak kekiniaan dengan membawa masa lalunya.

Bima Suci, Sebuah Jalan Mencari Pencerahan Alam Semesta


Bima Suci

Pengantar..

Ada latar belakang, kenapa aku memuat artikel tentang sebuah lakonpewayangan, dengan judul Bima Suci. Ada sebuah refleksi perjalanan sesaat, yang mengeliat ketika tadi tengah menikmati kopi dan melihat jalan raya (mang, nggak ada kerjaan banget dah) sembari melepas lelah dari kepenatan kerja.
Lakon Bima Suci ini banyak (bagiku) merefleksikan proses pencarian jati diri dan melawan diri, melawan diri?ya aku memahami bahwasannya dalam hidup ini senantiasa berwarna hitam-putih ataupun abu-abu. Bahkanpun, aku memahami (dengan segala keakuanku) bahwasannya manusia itu pada ketika dia dilahirkan hingga tua, tidaklah kemudian akan serta merta sebuah kedewasaan menemaninya. Kedewasan adalah sebuah yang dihasilkan dari dialog antara benar & salah didalam diri manusia, yup…bukan pertarungan antara salah dan benar.

Pada suatu titik benar itu belum tentu benar, dan sebaliknya salah belum tentu salah baik secara substansif maupun filosofis. So, maka akan lebih bijak ketika keduanya mendialogkan diri mereka sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hasil dari dialog itu adalah, kemampuan manusia untuk mengendalikan dirinya sendiri dalam berbagai keadaan ataupun tempat bahkan secara dimensipun. Dan, proses pencarian nilai itu pada tiap diri kita akan senantiasa berbeda dan dinamis. Dan beruntunglah orang-orang yang senantiasa melalui jalan untuk mendapatkan nilai diatasa, dengan masih menyimpan baik-baik hati nurani-akal sehat dan keyakinan (baik pada dirinya sendiri maupun dari mana ia berasal dan mengada).

…………Jogjakarta, sehabis ashar yang temaram purnama ke-empat 2012

 
Kisah Bima mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi ‘asal dan tujuan hidup manusia’ atau manunggaling kawula Gusti.

Dalam kisah ini termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan amanat bagaimana manusia kembali menuju Tuhannya. Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa ‘tidak dapat dikatakan dengan apa pun’.

Jalan menuju Tuhan yang ditempuh oleh Bima dalam menuju manusia sempurna disebutkan melalui empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).

pendahuluan Kisah tokoh utama Bima dalam menuju manusia sempurna dalam teks wayang Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus mengalami perjalanan batin untuk menemukan identitas dirinya. Peursen (1976:68) menamakan proses ini sebagai “identifikasi diri”, sedangkan Frans Dahler dan Julius Chandra menyebutnya dengan proses “individuasi” (1984:128).
Proses pencarian untuk menemukan identitas diri ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi Man ‘arafa nafsahu faqad rabbahu. ‘Barang siapa mengenal dirinya niscaya dia akan mengenal Tuhannya’. Hal ini dalam cerita Dewaruci tersurat pada pupuh V Dhandhanggula bait 49: Telas wulangnya Sang Dewaruci, Wrekudara ing tyas datan kewran, wus wruh mring gamane dhewe, …’Habis wejangan Sang Dewruci. Wrekudara dalam hati tidak ragu sudah tahu terhadap jalan dirinya …’ (Marsono, 1976:107).

Nilai Filosofis Perjalanan Empat Tahap Menuju Manusia Sempurna oleh BimaKisah tokoh Wrekudara dalam menuju manusia sempurna pada cerita Dewaruci dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa disebut: laku raga, laku budi, laku manah, dan laku rasa (Mangoewidjaja, 1928:44;Ciptoprawiro, 1986:71). Atau menurut ajaran Mangkunegara IV seperti disebutkan dalam Wedhatama (1979:19-23), empat tahap laku ini disebut: sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.

Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan SyariatSyariat (Jawa sarengat atau laku raga, sembah raga) adalah tahap laku perjalanan menuju manusia sempurna yang paling rendah, yaitu dengan mengerjakan amalan-amalan badaniah atau lahiriah dari segela hukum agama. Amalan-amalan itu menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.

Di samping amalan-amalan seperti itu, dalam kaitan hubungan manusia dengan manusia, orang yang menjalani syariat, di antaranya kepada orang tua, guru, pimpinan, dan raja, ia hormat serta taat. Segala perintahnya dilaksanakaannya. Dalam pergaulan ia bersikap jujur, lemah lembut, sabar, kasih-mengasihi, dan beramal saleh.Bagian-bagian cerita Dewaruci yang secara filosofis berkaitan dengan tahap syariat adalah sebagai berikut.

Nilai Filosofis Bima Taat kepada Guru Tokoh Bima dalam cerita Dewaruci diamanatkan bahwa sebagai murid ia demikian taat. Sewaktu ia dicegah oleh saudara-saudaranya agar tidak menjalankan perintah gurunya, Pendeta Durna, ia tidak menghiraukan. Ia segera pergi meninggalkan saudara-saudaranya di kerajaan guna mencari tirta pawitra. Taat menjalankan perintah guru secara filosofis adalah sebagai realisasi salah satu tahap syariat.


Nilai Filosofis Bima Hormat kepada Guru

Selain taat tokoh Bima juga sangat hormat kepada gurunya. Ia selalu bersembah bakti kepada gurunya. Dalam berkomunikasi dengan kedua gurunya, Pendeta Durna dan Dewaruci, ia selalu menggunakan ragam Krama. Pernyataan rasa hormat dengan bersembah bakti dan penggunaaan ragam Krama kepada gurunya ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian laku syariat.

Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Tarekat
Tarekat (Jawa laku budi, sembah cipta) adalah tahap perjalanan menuju manusia sempurna yang lebih maju. Dalam tahap ini kesadaran hakikat tingkah laku dan amalan-amalan badaniah pada tahap pertama diinsyafi lebih dalam dan ditingkatkan (Mulder, 1983:24). 
Amalan yang dilakukan pada tahap ini lebih banyak menyangkut hubungan dengan Tuhan daripada hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Pada tingkatan ini penempuh hidup menuju manusia sempurna akan menyesali terhadap segala dosa yang dilakukan, melepaskan segala pekerjaan yang maksiat, dan bertobat. Kepada gurunya ia berserah diri sebagai mayat dan menyimpan ajarannya terhadap orang lain. Dalam melakukan salat, tidak hanya salat wajib saja yang dilakukan. Ia menambah lebih banyak salat sunat, lebih banyak berdoa, berdikir, dan menetapkan ingatannya hanya kepada Tuhan. Dalam menjalankan puasa, tidak hanya puasa wajib yang dilakukan. Ia lebih banyak mengurangi makan, lebih banyak berjaga malam, lebih banyak diam, hidup menyendiri dalam persepian, dan melakukan khalwat. Ia berpakaian sederhana dan hidup mengembara sebagai fakir.


Bagian-bagian cerita Dewaruci yang menyatakan sebagian tahap tarekat di antaranya terdapat pada pupuh II Pangkur bait 29-30. Diamanatkan dalam teks ini bahwa Bima kepada gurunya berserah diri sebagai mayat. Sehabis berperang melawan Raksasa Rukmuka dan Rukmakala di Gunung Candramuka Hutan Tikbrasara, Bima kembali kepada Pendeta Durna. Air suci tidak didapat. Ia menanyakan di mana tempat tirta pawitra yang sesungguhnya. Pendeta Durna menjawab, “Tempatnya berada di tengah samudra”. Mendengar jawaban itu Bima tidak putus asa dan tidak gentar. Ia menjawab, “Jangankan di tengah samudra, di atas surga atau di dasar bumi sampai lapis tujuh pun ia tidak akan takut menjalankan perintah Sang Pendeta”. Ia segera berangkat ke tengah samudra. Semua kerabat Pandawa menangis mencegah tetapi tidak dihiraukan. Keadaan Bima yeng berserah diri jiwa raga secara penuh kepada guru ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian tahap laku tarekat.
Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Hakikat
Hakikat (Jawa laku manah, sembah jiwa) adalah tahap perjalanan yang sempurna. Pencapaian tahap ini diperoleh dengan mengenal Tuhan lewat dirinya, di antaranya dengan salat, berdoa, berdikir, atau menyebut nama Tuhan secara terus-menerus (bdk. Zahri, 1984:88). Amalan yang dilakukan pada tahap ini semata-mata menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Hidupnya yang lahir ditinggalkan dan melaksanakan hidupnya yang batin (Muder, 1983:24). Dengan cara demikian maka tirai yang merintangi hamba dengan Tuhan akan tersingkap. Tirai yang memisahkan hamba dengan Tuhan adalah hawa nafsu kebendaan. Setelah tirai tersingkap, hamba akan merasakan bahwa diri hamba dan alam itu tidak ada, yang ada hanyalah “Yang Ada”, Yang Awal tidak ada permulaan dan Yang Akhir tidak berkesudahan.

Dalam keadaan demikian, hamba menjadi betul-betul dekat dengan Tuhan. Hamba dapat mengenal Tuhan dan melihat-Nya dengan mata hatinya. Rohani mencapai kesempurnaan. Jasmani takluk kepada rohani. Karena jasmani takluk kepada rohani maka tidak ada rasa sakit, tidak ada susah, tidak ada miskin, dan juga maut tidak ada. Nyaman sakit, senang susah, kaya miskin, semua ini merupakan wujud ciptaan Tuhan yang berasal dari Tuhan. Segala sesuatu milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, manusia hanya mendaku saja. Maut merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil kepada kebebasan yang luas, mencari Tuhan, kekasihnya. Mati atau maut adalah alamat cinta yang sejati (Aceh, 1987:67).
Tahap ini biasa disebut keadaan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian. Saat tercapainya tingkatan hakikat terjadi dalam suasana yang terang benderng gemerlapan dalam rasa lupa-lupa ingat, antara sadar dan tidak sadar. Dalam keadaan seperti ini muncul Nyala Sejati atau Nur Ilahi (Mulyono, 1978:126).Sebagian tahap hakikat yang dilakukan atau dialami oleh tokoh Bima, di antaranya ialah: mengenal Tuhan lewat dirinya, mengalami dan melihat dalam suasana alam kosong, dan melihat berbagai macam cahaya (pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar).

Nilai Filosofis Bima Mulai Melihat Dirinya Setelah Bima menjalankan banyak laku maka hatinya menjadi bersih. Dengan hati yang bersih ini ia kemudian dapat melihat Tuhannya lewat dirinya. Penglihatan atas diri Bima ini dilambangkan dengan masuknya tokoh utama ini ke dalam badan Dewaruci. Bima masuk ke dalam badan Dewaruci melalui “telinga kiri”. Menurut hadis, di antaranya Al-Buchari, telinga mengandung unsur Ketuhanan. Bisikan Ilahi, wahyu, dan ilham pada umumnya diterima melalui “telinga kanan”. Dari telinga ini terus ke hati sanubari. Secara filosofis dalam masyarakat Jawa, “kiri” berarti ‘buruk, jelek, jahat, tidak jujur’, dan “kanan” berarti ‘baik (dalam arti yang luas)’. Masuk melalui “telinga kiri” berarti bahwa sebelum mencapai kesempurnaan Bima hatinya belum bersih (bdk. Seno-Sastroamidjojo, 1967:45-46).

Setelah Bima masuk dalam badan Dewaruci, ia kemudian melihat berhadapan dengan dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima sewaktu kecil. Dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima waktu muda itu adalah Dewaruci; penjelmaan Yang Mahakuasa sendiri (bdk. Magnis-Suseno, 1984:115). Bima berhadapan dengan Dewaruci yang juga merupakan dirinya dalam bentuk dewa kerdil. Kisah Bima masuk dalam badan Dewaruci ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima mulai berusaha untuk mengenali dirinya sendiri. Dengan memandang Tuhannya di alam kehidupan yang kekal, Bima telah mulai memperoleh kebahagiaan (bdk. Mulyono, 1982:133). Pengenlan diri lewat simbol yang demikian secara filosofis sebagai realisasi bahwa Bima telah mencapai tahap hakikat.

Nilai Filosofis Bima Mengalami dan Melihat dalam Suasasa Alam Kosong
Bima setelah masuk dalam badan dewaruci melihat dan merasakan bahwa dirinyatidak melihat apa-apa. Yang ia lihat hanyalah kekosongan pandangan yang jauh tidak terhingga. Ke mana pun ia berjalan yang ia lihat hanya angkasa kosong, dan samudra yang luas yang tidak bertepi. Keadaan yang tidak bersisi, tiada lagi kanan kiri, tiada lagi muka belakang, tiada lagi atas bawah, pada ruang yang tidak terbatas dan bertepi menyiratkan bahwa Bima telah memperoleh perasaan batiniahnya. Dia telah lenyap sama sekali dari dirinya, dalam keadaan kebakaan Allah semata. Segalanya telah hancur lebur kecuali wujud yang mutlak. Dalam keadaan seperti ini manusia menjadi fana ke dalam Tuhan (Simuh, 1983:312).

Segala yang Ilahi dan yang alami walaupun kecil jasmaninya telah terhimpun menjadi satu, manunggal (Daudy, 1983:188). Zat Tuhan telah berada pada diri hambabnya (Simuh, 1983:311), Bima telah sampai pada tataran hakikat.Disebutkan bahwa Bima karena merasakan tidak melihat apa-apa, ia sangat bingung. Tiba-tiba ia melihat dengan jelasDewaruci bersinar kelihatan cahayanya. Lalu ia melihat dan merasakan arah mata angin, utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah, serta melihat matahari. Keadaan mengetahui arah mata angin ini menyiratkan bahwa ia telah kembali dalam keadaan sadar. Sebelumnya ia dalam keadaan tidak sadar karena tidak merasakan dan tidak melihat arah mata angin. Merasakan dalam keadaan sadar dan tidak sadar dalam rasa lupa-lupa ingat menyiratkan bahwa Bima secara filosofis telah sampai pada tataran hakikat.
Setelah mengalami suasana alam kosong antara sadar dan tidak sadar, ia melihat berbagai macam cahaya. Cahaya yang dilihatnya itu ialah: pancamaya, sinar tunggal berwarna delapan, empat warna cahaya, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar. Hal melihat berbagai macam cahaya seperti itu secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah sampai pada tataran hakikat. Ia telah menemukan Tuhannya.

Nilai Filosofis Bima Melihat Pancamaya Tokoh utama Bima disebutkan melihat pancamaya. Pancamaya adalah cahaya yang melambangkan hati yang sejati, inti badan. Ia menuntun kepada sifat utama. Itulah sesungguhnya sifat. Oleh Dewaruci, Bima disuruh memperlihatkan dan merenungkan cahaya itu dalam hati, agar supaya ia tidak tersesat hidupnya.Hal-hal yang menyesatkan hidup dilambangkan dengan tiga macam warna cahaya, yaitu: merah, hitam, dan kuning.
Nilai Filosofis Bima Melihat Empat Warna Cahaya Bima disebutkan melihat empat warna cahaya, yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih. Isi dunia sarat dengan tiga warna yang pertama. Ketiga warna yang pertama itu pengurung laku, penghalang cipta karsa menuju keselamatan, musuhnya dengan bertapa. Barang siapa tidak terjerat oleh ketiga hal itu, ia akan selamat, bisa manunggal, akan bertemu dengan Tuhannya. Oleh karena itu, perangai terhadap masing-masing warna itu hendaklah perlu diketahui.Yang hitam lebih perkasa, perbuatannya marah, mengumbar hawa nafsu, menghalangi dan menutup kepada hal yang tidak baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang tidak baik, iri hati dan dengki keluar dari sini.

Hal ini menutup (membuat buntu) kepada hati yang selalu ingat dan waspada. Yang kuning pekerjaannya menghalangi kepada semua cipta yang mengarah menuju kebaikan dan keselamatan. Oleh Sri Mulyono (1982:39) nafsu yang muncul dari warna hitam disebut aluamah, yang dari warna merah disebut amarah, dan yang muncul dari warna kuning disebut sufiah. Nafsu aluamah amarah, dan sufiah merupakan selubung atau penghalang untuk bertemu dengan Tuhannya.Hanya yang putih yang nyata. Hati tenang tidak macam-macam, hanya satu yaitu menuju keutamaan dan keselamatan. Namun, yang putih ini hanya sendiri, tiada berteman sehingga selalu kalah. Jika bisa menguasai yang tiga hal, yaitu yang merah, hitam, dan kuning, manunggalnya hamba dengan Tuhan terjadi dengan sendirinya; sempurna hidupnya.

Nilai Filosofis Bima Melihat Sinar Tunggal Berwarna Delapan Bima dalam badan Dewaruci selain melihat pancamaya melihat urub siji wolu kang warni ‘sinar tunggal berwarna delapan’. Disebutkan bahwa sinar tunggal berwarna delapan adalah “Sesungguhnya Warna”, itulah Yang Tunggal. Seluiruh warna juga berada pada Bima. Demikian pula seluruh isi bumi tergambar pada badan Bima. Dunia kecil, mikrokosmos, dan dunia besar, makrokosmos, isinya tidak ada bedanya. Jika warna-warna yang ada di dunia itu hilang, maka seluruh warna akan menjadi tidak ada, kosong, terkumpul kembali kepada warna yang sejati, Yang Tunggal.

Nilai Filosofis Bima Melihat Benda bagaikan Boneka Gading yang Bersinar
Bima dalam badan Dewaruci di samping melihat pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, ia melihat benda bagaikan boneka hading yang bersinar. Itu adalah Pramana, secara filosofis melambangkan Roh. Pramana ‘Roh’ kedudukannya dibabtasi oleh jasad. Dalam teks diumpamakan bagaikan lebah tabuhan. Di dalamnya terdapat anak lebah yang menggantung menghadap ke bawah. Akibatnya mereka tidak tahu terhadap kenyataan yang ada di atasnya (Hadiwijono, 1983:40).

Nilai Filisofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Makrifat
Makrifat (Jawa laku rasa, sembah rasa) adalah perjalanan menuju manusia sempurna yang paling tinggi. Secara harfiah makrifat berarti pengetahuan atau mengetahui sesuatu dengan seyakin-yakinnya (Aceh, 1987:67). Dalam tasawuf, makrifat berarti mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan dengan sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya (Nicholson, 1975:71), meliputi zat dan sifatnya. Pencapaian tataran ini diperoleh lewat tataran tarekat, yaitu ditandai dengan mulai tersingkapnya tirai yang menutup hati yang merintangi manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia akan merasakan bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Manusia telah merealisasikan kesatuannya dengan Yang Ilahi. Keadaan ini tidak dapat diterangkan (Nicholson, 1975:148) (Jawa tan kena kinaya ngapa) (Mulyono, 1982:47), yang dirasakan hanyalah indah (Zahri, 1984:89). Dalam masyarakat Jawa hal ini disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, warangka manjing curiga curiga manjing warangka.
Pada titik ini manusia tidak akan diombang-ambingkan oleh suka duka dunia. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan memberi inspirasi kepada manusia yang lain (de Jong, 1976:69; Mulder, 1983:25). Ia mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih diselubingi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana ini (Aceh, 1987:70). Tindakan diri manusia semata-mata menjadi laku karena Tuhan (Subagya, 1976:85).
Keadaan yang dialami oleh Bima yang mencerminkan bahwa dirinya telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari bumi.

Nilai Filosofis Hamba (Bima) dengan Tuhan bagaikan Air dengan Ombak
Wujud “Yang Sesungguhnya”, yang meliputi segala yang ada di dunia, yang hidup tidak ada yang menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu, yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal menjadi satu. Jika telah manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan pendengaran-Nya (bdk. Nicholson, 1975:100-1001). Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu.Namun, bagaimana pun juga hamba dengan zat Tuhannya tetap berbeda (Nicholson, 1975:158-159). Yang mendekati kesamaan hanyalah dalam sifatnya. Dalam keadaan manunggal manusia memiliki sifat-sifat Ilahi (Hadiwijono, 1983:94).Perumpamaan manusia dalam keadaan yang sempurna dengan Tuhannya, bagaikan air dengan ombak ada kesamaannya dengan yang terdapat dalam kepercayaan agama Siwa. Dalam agama Siwa kesatuan antara hamba dengan dewa Siwa disebutkan seperti kesatuan air dengan laut, sehingga keduanya tidak dapat dibedakan lagi. Tubuh Sang Yogin yang telah mencapai kalepasan segera akan berubah menjadi tubuh dewa Siwa. Ia akan mendapatkan sifat-sifat yang sama dengan sifat dewa Siwa (Hadiwijono, 1983:45).


Nilai Filosofis Bima Merasakan Nikmat dan Bermanfaat Bima setelah manunggal dengan Tuhannya tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Oleh kaum filsafat, itulah yang disebut surga (Hamka, 1984:139). Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.

 

Nilai Filosofis Segala yang Dimaksud oleh Bima Tercapai
Segala yang menjadi niat hatinya terkabul, apa yang dimaksud tercapai, dan apa yang dicipta akan datang, jika hamba telah bisa manunggal dengan Tuhannya. Segala yang dimaksud oleh Bima telah tercapai. Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tataran makrifat.Segala yang diniatkan oleh hamba yang tercapai ini kadang-kadang bertentangan dengan hukum alam sehingga menjadi suatu keajaiban. Keajaiban itu dapat terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi (Nicholson, 1975:132). Ada dua macam keajaiban, yang pertama yang dilakukan oleh para wali disebut keramat dan yang kedua keajaiban yang dilakukan oleh para nabi disebut mukjizat (Nicholson, 1975:129).
Nilai Filosofis Bima Merasakan Bahwa Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya
Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembnali menjadi satu dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal (Marsono, 1997:799). Keadaan bahwa hidup dan mati tidak ada bedanya secara filosofis melambangkan bahwa tokoh Bima telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Hati Bima Terang bagaikan Bunga yang Sedang Mekar
Bima setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna dengan Tuhannya karena mendapatkan wejangan dari Dewaruci, ia hatinga terang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar. Dewaruci kemudian musnah. Bima kembali kepada alam dunia semula. Ia naik ke darat kembali ke Ngamarta. Keadaan hati yang terang benderang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.
Kesimpulan
Kisah Bima dalam mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi ‘asal dan tujuan hidup manusia’ atau manunggaling kawula Gusti. Dalam kisah ini termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan bagaimana manusia menuju Tuhannya. Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Ia dijadikan dari air. Ia wajib menuntut ilmu. Dalam menuntut ilmu tugas guru hanya memberi petunjuk. Manusia tidak memiliki karena segala yang ada adalah milik-Nya. Ia wajib selalu ingat terhadap Tuhannya, awas dan waspada terhadap segala godaan nafsu yang tidak baik, sebab pada akhirnya manusia akan kembali kepada-Nya.
Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa ‘tidak dapat dikatakan dengan apa pun’.Kisah perjalanan batin Bima dalam menuju manusia sempurna ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa). 

Disunting dari berbagai sumber …

menegadah ke langit dalam lompatan kuantum


menegadah ke langit dalam lompatan kuantum
linkar sepertitiga detik
sosok sang perempuan awan
menjulai dalam rangkaian gugus maha bintang
di pengakhiran dinihari

babak pengimaman terakhir dalam secawan magrib
menggelepar dalam banjir teodormin yang mengelak
heineken putih-pun urung menjadi pembuka
bagi perjamuan terakhir

telah berkembang dan menguncup dalam waktu yang bersamaan
dengan keanggunan yang masih saja
sebagaimana yang dulu dan awal

ah…ritmis yang sendu
dan memerah
semerah saga
semabuk anggur hitam

dan mengehela nafas panjang
……………..

Jogja, 10 April 2012

~ah badai yang sebagaimana dahulu, namun anyir menyisakan desau dan haru~

Street Arts


Street Art

Street Arts ,  a beautifull reality capturinghehe

[Image: 550x-Cow-Street-arts.jpg]

Kami (Para Wanita) Tidak Matre.


Abis ngaskus, dapat artikel yang bagus dan cukup mendewasakan (menurutku).

………………………….

kami (para wanita) tidak matre. akan kami beberkan kenapa kami benci cowok kere.


jangan salah paham. yang dimaksud kere bukanlah miskin, tapi kere = ga punya uang. orang miskin belum tentu kere, tapi orang yang ortunya kaya bisa aja kere karena boros.

———-

untuk kami para perempuan dewasa dan bukan ababil, yg tidak hanya punya hati tapi logika, pria kere bukanlah pilihan hidup.

kenapa?

jawabanya simple. pria kere = pria yang tidak bertanggung jawab.

sebenarnya kami, para wanita adalah mahluk yang lebih menggunakan hati dibandingkan logika. tapi apa yang membuat kami mengikuti logika kami dengan memilih pria yang tidak kere?

jawabanya jg sangat simple. kami sudah entah pernah menjalani atau menyaksikan hubungan dengan pria yang kere (baca kere: tidak punya tanggung jawab) dan berakhir menghancurkan mental, fisik, serta hati hancur berkeping keping.

—————————————————————————————————————————–
mengapa kami bilang pria kere = pria tak bertanggung jawab?
coba anda saksikan percakapan berikut:

—————————————————————————————————————————–

cecep: yem kita jalan jalan yuk cari angin
sutiyem: mau ke mana yank?
cecep: kemana aja deh kaki melangkah. yg penting bisa berduaan sama kamu.

1 jam kemudian

sutiyem: yang kita udah jalan kaki dari tadi, aku haus nih
cecep: maaf yang aku ga punya uang buat beliin kamu air
sutiyem: ya udah gapapa aku yang beliin deh…

—————————————————————————————————————————–
atau percakapan berikut
—————————————————————————————————————————–

ayu: cin, aku laper nih, pulang sekolah kita ke kantin dulu yuk?
deni: duh cin, gue bokek nih kemaren gue kalah nih taruhan bola
ayu: ah kamu cieh taruhan bola mulu. bete ahh…
deni: yaudalah ngutang aja dulu deh ama ibu kantin besok aku bayar

besoknya

ayu: den dicariin tuh ama ibu kantin
deni: duh beb kamu bayarin dulu deh gue ga ketemu bokap tadi pagi ga sempet minta
ayu: yaudah deh gapapa

—————————————————————————————————————————–

atau mungkin percakapan begini
—————————————————————————————————————————–

meilina: gimana hari ini kamu keterima kerja?
andy: belum hon, aku tungguin dirumah tadi ga ada tlp, email, atau surat panggiln kerja
meilina: aduh kasian kamu…
andy: maaf ya hon aku ga punya uang paling bisa ajak kamu jalan jalan ke taman surapati
meilina:emang mobil akmu ada bensinya?
andy: bensin sih ada, pake mobil nyokap bensin full. tapi ga punya uang buat beliin kamu makan minum
meilina: aku juga ga punya uang….

1 tahun kemudian

meilina: masih belum ada panggilan kerja? jadi malam mingguan ke taman lagi?
andy: tapi ga ada bensin, mobil bonyok lagi dipake… jalan kaki aja ya

—————————————————————————————————————————–

seperti percakapan diatas yang biasa terjadi di masyarakat (mungkin agan sekalian pernah mengalami) ujung ujungnya perempuan yang jadi korban. perempuan sudah harus melayani suami, mengurus rumah tangga, bertarung nyawa melahirkan anak untuk suami, membesarkan anak sebaiknya, menyusui anak dan mengajari anak, masih harus cari uang juga untuk suami?

anda mengatakan kami berhati dingin tidak mau menerima apa adanya, tapi bukankah sebenarnya anda yang berhati dingin setega itu membiarkan kami wanita menjadi ibu untuk anak anak juga ibu untuk suami kere yang masih harus dinafkahi dengan banting tulang?

dan setelah kami banting tulang menafkahi kalian dan anak apa kalian akan makin giat mencari kerja?
tidak, kalian akan keenakan dengan gaya hidup malas dan terus hidup bergantung istri.
sekarang kalian mengatakan tidak akan seperti itu tapi faktanya menurut sebuat majalah tabloid wanita, hasil survey hanya 2 dari 300 pria yang yang tidak akan seperti itu, sementara sisanya akan menjadi suami pemalas yang kerjaanya nonton dirumah, atau suami kasar yang kerjanya hanya mukulin istri dan mabuk mabukan.

dan untuk saya menjelaskan lebih dalam ijinkan saya bertanya kepada anda para lelaki. mengapa kami menyebut lelaki kere adalah lelaki tidak bertanggung jawab? bukankah kalian sudah berusaha untuk mencari uang/pekerjaan?

jawabanya?

apa kalian yakin kalian sudah berusaha?
banyak jalan menuju roma, banyak cara mencari uang.

-yang punya motor walau bokek bisa ngojek atau minjem motor temen ngojek.
-yang punya sim A bisa jadi supir Taxi
-yang masih sekolah bisa berhemat atau bisa jualan disekolah.
-bisa jualan mie ayam depan rumah
-bisa banyak lagi yang bisa dilakukan

kalian lelaki kere cuma modal motor, nanti malam mau kencan ga ada uang. apa yang akan dilakukan? ngutang kanan kiri atau pasrah menunggu nasib?
ckckckckckckckkk..
kalian kan bisa ngojek biar malam nanti ada uang buat kencan.
apa menurut kalian lelaki ngojek itu merendahkan harga diri?
kenapa pemikiran kalian begitu? kan ngojek halal. lebih baik mengojek dari pada sudah ngajak kencan lepas tanggung jawab ga punya uang.
atau bahkan lebih baik jangan mengajak kami kencan kalau tidak punya uang. itu kan yang dinamakan bertanggung jawab.

jadi pada intinya kami wanita buka mencari pria kaya dan kami bukan meremehkan pria kere. tapi kami hanya mencari pria bertanggung jawab.
pria yang bisa mempertanggung jawabkan segala perbuatanya dan bisa melindungi kami. karena wanita hanyalah seorang wanita yang sekuat apapun hanya setangkai bunga yang rapuh sehingga perlu dijaga keindahanya.

itulah penjelasan sederhana dari kami untuk para pria.
bila anda menginginkan kami, maka jadilah sesosok pria penuh tanggung jawab, maka kami akan menerima anda apa adanya.
jadilah imam yang bisa membimbing kami dan memenuhi segala keperluan kami lahir dan batin.

1 lagi terakhir carilah perempuan yang sesuai dari kalian. jangan muluk muluk, ok

Quote:

Originally Posted by live2heal

Oooooo begono

Spoiler for komeng:

Mungkin lebih tepatnya cowok gak bertanggung jawab. Kere itu setau ane sih sama kyak miskin..

Dan setau ane gak semua cowok miskin itu gak bertanggung jawab.


Ina : Yang, kita jalan yuk malem ini mau gak ?
Rian : Maaf ya, tapi aku harus bantu orang tua ku nyari duit
Ina : Ooo, kalo gitu aku temenin aja ya
Rian : Gak usah, ntar kamu malah kecapean lagi
Ina : Gapapa kok , yang penting kita bisa berduaan
Rian : Tapi, maaf ya aku gak bisa ngasih kamu upah
Ina : Yeee, ngapain pake digaji segala, emangnya aku apaan. tenang aja yang, aku ikhlas kok

Nah, see ?..
Kriteria cewe juga yang memilih, kalau emang dasarnya pengen dimanja ya pilih yang kantong tebel

Kalo mau mandiri jadi contoh keteladanan, pilih yang bertanggung jawab…

nah agan salah, apa agan pernah liat cowok berbakti seperti diatas kekurangan cewek? jangan salah mereka cowok yang diperebutkan oleh wanita.
yang kita maksud kere bukan cowok seperti itu.
cowok kere itu cowok yang ga punya uang sama sekali. kere ama miskin beda loh, jangan disamakan.

cowok miskin belum tentu kere. dia ga punya uang sepeserpun tapi dia rajin kuliah, mati2an kerja buat kuliah.
ini yang kita cari

cowok miskin belum tentu kere. dia bantu2 orang tua jualan, sangat berbakti dan memiliki penghasilan sendiri walau hanya dari bantu orang tua jualan. ini yang dicari

cowok yang dibilang cewek kere dan dijauhi:
1. cowok yang sudah miskin ga punya kerjaan pula.
2. cowok yang pelit meski banyak uang tapi maunya hidup dari uang perempuan
3. cowok yang terlalu muluk. misalnya kenek angkot ngejar2 paris hilton buat dipacarin. sudah tentu dipandang kere sama paris hilton anak milyuner dunia. mana doyan doi makan nasi goreng tek tek?
sekalipun dia mau ama situ apa situ bisa menuhin keperluan dia? keperluan cewek sekaliber sosialita kelas atas banyak dan menghabiskan hingga miliaran dalam sebulan. apa situ sanggup bayarin?

jangan anda salah, ada juga cewek yang bener2 matre. misalnya pembokat yang ngincernya anak presiden, ogah ama tukang ojek atau cewek yang ogah ama seorang cowok karena dia kere, walaupun cowok itu seorang yang giat kerja.

tapi anda juga jangan salah paham!

saat kami mengatakan “kami bukan cewek matre tapi kami tidak mau dengan cowok kere” = kami memang benar2 tidak matre. kami memikirkan masa depan kami. jadi jangan salah paham, memukul ratakan dan menyamakan kami dengan cewek yang benar2 matre.

gini ya, gue emang have sex ama laki gue dari sebelum gue nikah. gue ga muna dan ga takut buka dosa. tolong jangan dikaitkan dengan thread ini.
THREAD ini keluar bukan karena gue SUCI tapi karena rasa prihatin gue dengan sesama wanita

 

Quote:

Originally Posted by arukids

Pada intinya, disini sist mau menyampaikan bahwa para wanita lebih suka sama lelaki yang bertanggung jawab yang tidak selalu bergantung sama orang tua bahkan orang lain. Ane juga sadar. Ane sebagai lelaki harus memikirkan hal itu. Itu sebabnya banyak yang harus di benahi sebelum memasuki suatu hubungan yang serius. Dari segi sikap maupun materi.

dari segi sikap yang terpenting. kalau materi bisa dicari yang penting sikapnya bertanggung jawab dan mau usaha. justru wanita bisa jadi pendorong semangat terbaik.
untuk materi, kalau sudah mapan baru boleh punya anak. soalnya anak titipan yang kuasa, harus punya tabungan dulu agar bisa merawat sebaik baiknya

Quote:

Originally Posted by adhyana

hahaha gitu ya neng. mirip gw dong. dulu mantan gw anak orang kaya sekolah di luar negeri sedangkan gw biasa aja. tapi gw masih anak kuliahan. dulu mantan gw ini sebenernya jadi motivasi gw untuk sukses supaya gw bisa bikin dia bahagia nantinya. tapi sayang skrg udh putus. mungkin krn gw kere

gue ama suami juga. papa gue CEO, rumah gue di menteng, dan gue lulusan amrik. cowok gue pribumi, orang cirebon, papanya pensiunan ibunya mantan pembantu rumah tangga. dia kuliah di trisakti dengan modal biaya jual motornya, jualan lauk makanan di kampus dan keliling dan meres keringet belajar saat malam.
tapi gue liat usaha dia dan niat dia. gue tau orang dengan hati seperti dia masa depanya cerah. gue harus jadi pendorong semangat, biar nanti saat dia sukses semua akan lebih indah.
sekarang gue udah merit ama dia, si miskin yang sering ga bisa bayar kos saat kudu bayaran semester dan tidur di mesjid, si miskin yang dihina hina papa uda jadi seseorang yang berharga di kalangan masyarakat.

dialah mr perfect buat saya. meski ga punya uang dia bukan cowok kere. meski miskin dia bukan cowok kere. buktinya masih bisa bayar uang kuliah kan? di trisakti pula.

Quote:

Originally Posted by yosimulya

Betul itu..
klo mau kerja pasti ga ada kata ga pnya duit..
duit bisa dpt dari mana aja.
cewe wajarlah klo gtu.
secara hidup kan butuh biaya.
jd wajarlah klo cewe cari cowo yg bisa menafkahi dia. CMIIW

ini dia yang gue maksud. tapi kok banyak yang salah tangkep ya?

Quote:

Originally Posted by irune

Ane setuju banget sama TS. Ane cowok/suami/dan calon ayah merasa terdzolimi jika ada cowok yang menggantungkan hidup sama seorang istri.

Bahkan di tempat ane lebih parah lagi gan/sis, Bininya jauh2 disuruh jadi TKI ke Arab Saudi, eh si lakinya malah kimpoi lagi.

Oya, buat para sista ane kasih tau ya, biasanya kalo cowo kere (versi TS) gombalannya akan sangat2 berbisa. Jadi jangan sampe kena omongannya.

wah parah parah parah… buat temen2 para wanita jangan ampe kena gombalan cowok kere ya, kasihanilah dan cintailah diri kalian sendiri jangan ampe kemakan cinta buta

Quote:

Originally Posted by y2kfunk

hmmm…. masalah cowok “kere” ya?
ane bisa nangkep apa maksud TS. “kere” dalam tanda kutip jangan diartikan kere=miskin. “kere” dalam tanda kutip lebih mengarah ke kepribadian dan sifat yang “miskin”. biasanya kepribadian ini ada pada cowok2 yg masih labil. namun tidak menutup kemungkinan ada cowok yg udah dewasa dalam segi umur namun pikiran masih kayak anak TK.

cowok adalah pemimpin rumah tangga. cowok adalah imam bagi istri dan anak-anaknya. itu sudah ketentuan dan ada di dalam Al-Qur’an (sori, bukan bermaksud sara). jadi bukanlah sebuah kewajaran, tapi merupakan sebuah kewajiban cowok mampu mengayomi istrinya.

jadi merupakan hal yang wajar jika cewek minta dimanja karna itu haknya. dan merupakan hal yang ga wajar jika cowok minta dimanja ceweknya apapun alasannya.

saran buat para lelaki, jika kamu masih belum memiliki rasa tanggung jawab, jangan coba-coba mengenal kata “pacaran” ataupun “menikah”. pupuk dulu rasa tanggung jawabmu, kaya atau miskin, ganteng atau jelek itu persoalan sepele.

taruh pejwan sis kalo berkenan

10 HAL YANG DIHARAPKAN SEORANG WANITA ADA PADA PRIA-NYA

1: bertanggung jawab
2: tau prioritas
3: pengertian
4: bisa selaras dan sejiwa dengan kekasihnya
5: tidak egois
6: mencintai kekasihnya sepenuh hati
7: dewasa dan bisa membimbing
8: memiliki harga diri
9: innovative
10:memiliki perspective

Quote:

Originally Posted by Mufakreasan

Ane masih kuliah, tapi udah kerja Gan… Selama ini ane pacaran ama cewek ane yang masih kelas 2 SMA, hampir setiap ane jalan ane yang nanggung semua mulai dari makan, bensin, motor, sampe pulsa. Kadang juga bantuin bayar kebutuhan sekolah dia beli peralatan praktikum yang harganya ratusan ribu.
Orang tuanya petani, ya kondisinya kecukupan meski kadang kekurangan.

Namun begitu ketika Ane lagi krisis, sempet lagi gak ada motor n duit, kita jalan dia yang jemput, bahkan pernah sampe yang ngajak makan n traktir.

So, memang laki-laki harus bertanggung jawab. tetapi wanita tidak hanya selalu menuntut tanggung jawab, melainkan juga harus mampu jadi sandaran ketika kami terjatuh untuk nantinya bangkit lagi.

Bahkan sampe sekarang do’i ngebet banget pengen punya kerjaan katanya gak pengen terlalu ngrepotin ortunya, Tapi ane belum izinin karena skulnya lebih penting, takutnya ntar keganggu malah gak lulus-lulus.

request pejwan y TS!!

makanya ane bilang kan, jadilah sesosok yang bertanggung jawab maka kita perempuan akan menjedi yang terbaik untuk anda.

diliat dari penjelasan lo, lo orang bertanggung jawab, biar mungkin waktu itu miskin tapi ga kere karena lo masih berusaha nyari uang.
ada saatnya bila saat seperti itu cewek yang maju. tapi itu dengan syarat cowoknya ga keenakan tapi malah malu dan terharu

Quote:

Originally Posted by rizqia

aku termasuk yang setuju sama TS, padahal maksud TS ini baik lho, dia membela wanita,

aku juga memilih lelaki/suami yg bertanggung jawab.., karena ada yg lebih penting yaitu ANAK…, Alhamdulillah pilihanku tidak salah, aku memang memilih suamiku karena memang dari segi agama, pekerjaan dan umur dia sudah mapan dan dewasa, dan ketika melahirkan anak pertama, siapa yang menyangka anakku mengalami cacat di kakinya, sehingga butuh operasi , dan biaya operasinya sampai 50 juta ( ini kisah nyata aku)..

dan aku sama sekali tidak punya tabungan, untungnya suami aku punya fasilitas dari kantornya untuk membiayai operasi anakku…, disitu aku bersyukur karena punya suami yang sudah mapan di pekerjaannya (bertanggung jawab), dan tidak memilih asal2an…

aku setuju sama TS, lelaki yg baik adalah lelaki yg bertanggung jawab, tidak terpikirkan dalam benak aku, kalau aku menikahi lelaki penggangguran bisa jadi anakku tidak bisa dioperasi…

dan memang semua itu takdir Tuhan, kita tidak pernah tahu apa yg akan terjadi nanti, tapi selalu ketika mau menikah pikirkanlah anak, masa depan anak dan jangan sampai merugikan anak hanya karena memilih pria yg salah, karena akan anak yg sengsara…

SETUJU SAMA TS…….

disini banyak pria ga tau malu yang memaksa istri juga bekerja biar ga minta terus. padahal kan istri tanggungan suami? dan kalau emang suami bertanggung jawab cuma terhendat jalanya dan butuh dorongan biar sampai ke puncak, wanita juga ga segan segan bekerja atau melakukan papun yang bisa membantu suami! ingat itu woi para pria kucluk!

dan pada saat sepeti diatas, anak membutuhkan kehadiran istri 24 jam setiam hari. palagi saat sudah menjelang usia sekolah akan butuh banyak dukungan mental dari ibunda. butuh banyak biaya pengobatan.

kalau situ ga punya kerjaan, gimana mau bayar ini semua?

Quote:

Originally Posted by antonmitsubishi

sist,ane setuju banget ama statment ente,,malah ane mendefinisakan lebih extrime lagi,jika cowo atau kepala keluarga tidak bisa memberikan kehidupan ke keluarganya mati aja lo,,,karna>

1.sebetulnya apapun bisa jadi duit asal kreatif dan mau berfikir keras.
2.inget motivasi yang utama itu adalah kebutuhan hidup
3.bercermin pada maling,diapun yang melakukan hal yang dosa di berikan rejeki apalagi kita yang nyari rejeki halal,
4.yakin,semangat..
5.jangan malas
6.jangan pernah mengasihani diri sendiri

where there is a will there is a way, tinggal dibubuhin usaha keras. sayangnya sekarang sudah sedikit pria berprinsip begini kalau diliat dari komeng2nya kebanyakan pria ga mau usaha :

nih buat ente ente yang muslim, baca!!

Quote:

Originally Posted by xker

Anak adalah tanggung jawab orang tuanya, terutama ayahnya, apalagi bila anak itu perempuan. Makanya ada yang namanya Ijab Kabul, serah terima dari ayah si anak perempuan kepada calon suami si anak perempuan.

Berarti semua tanggungjawab terhadap terhadap anak perempuan itu berpindah ke pundak sang suami setelah Ijab Kabul diterima. Tanggung jawab ini tidak main-main karena diucapkan dengan nama Allah SWT dan disaksikan oleh dua orang saksi dan penghulu.

Makanya disini ada yang namanya mas kaawin, sebagai bentuk kesiapan materi dari suami, mas kaawin.. itu sangat lebih baik .tunai tapi diperbolehkan juga hutang dan itu harus disebutkan apakah tunai atau hutang.
Disitulah terlihat bahwa laki-laki untuk dapat mengawini seorang wanita HARUS punya materi, meskipun itu dari hasil berhutang yang harus dibayar.

(waduh, tiap nulis kaawin a nya satu berubah jadi kimpoi…)

Buat cowo jangan bilang semua wanita matre, karena pada dasarnya cowo yang nanti jadi suami harus memberi nafkah istrinya, lahir dan batin.
BUKAN SEBALIKNYA.

Dari masa pacaran sudah bisa dilihat apakah cowo itu bertanggungjawab atau cewenya yang matre dan jangan salah, banyak juga cowo yang matre…

 

Original Links Are ;

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10877878 or

http://livebeta.kaskus.us/post/000000000000000666889454#post000000000000000666889454

untitled


Malam kembali hadir sebagaimana biasannya, tanpa sesuatu yang berbeda. Hanya suara jangkrik dan kodok di pematang sawah dibelakang rumah, dibayangi desau angin sawah yang pelan namun terasa kuat. Jelaga kunang-kunang menjadi tabir dari segala kehidupan dan segala tetamu rasa yang silih berganti hidup dan bertandang. Suatu kali seseorang datang bernama cinta, ia datang pada suatu senja dengan membawa sebotol Heineken dan sebungkus lucky strike, dengan paras memerah dan masih secantik dan seanggun dulu.

Dia kemudian aku persilahkan untuk duduk sembari aku hidangkan nyamikan sebagai teman sepeminuman senja kala itu, ia lantas bertanya padaku “apa kabar denganmu”, sebuah pertanyaan runyam yang kendatipun klise (sekali lagi) menjadi agak aneh untuk kedatangannya kali ini. Aku hanya bisa menjawab, hei..ada apa dengan dirimu?, ia hanya tersenyum menyeringai (tenu saja senyumannya terlihat sexy walaupun ketika diihat dari angel yang tidak pas akan terkesan angker dan horror).

Kamu masih ingat sajak ini?ia kemudian membacakan sebuah epic dari gm yang sudah cukup lama terlupakan dari benakku ;

“Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh.

Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu.

Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.”

(Asmaradana)

Ah…kenapa yang terdengar dikepalaku, adalah bait-bait Asmaradhana,

“Sumimpanga king durniti, dumarusa myang diggama, bubujeng pamurih kalok, kakadang dinadya bala, asanès winiruda, daridya undhuhanipun, pawingking manggih katala.

Kalamun datan sawawi, bisa mengku saniskara, manah rupak nora kamot, teges sanès trah ngawirya, becik lamun rumasa, ngembat wisésa tan saguh, milaur mundur kéwala.”.

Dia lantas meneguk Heineken sambil berujar; aku akan meciptakan harapanku, sebagaimana harapan berlariaan seakan takut pada matahari dan dinginnya rembulan.

Senja kala itu, kembali bergurat dalam sayatan yang tanggung, berdesir dan sunyi, untuk setlah itu berganti dengan harum dupa dan doa-doa lirih dari seutas biji-biji tasbih dari para malaikat dan para dewi.

Jogja, 22 Maret 2012