Asmaradhana Bergegas Di Lelangit Desa


Asmaradhana Bergegas Di Lelangit Desa…Diiringi Nyanyian Seribu Angin.

“Loneliness adds beauty to life. It puts a special burn on sunsets and makes night air smell better.” ― Henry Rollins

Menyusuri jalan yang tengah tertegun oleh hawa bumi yang sempat menguap siang tadi. Malam ini adalah pembuka untuk penghabisan simulakrum hari dan mentari, untuk kedua kalinya. Dan, bukankah keajaiban itu untuk orang-orang yang berani dan percaya? Ahh..kata-kata yang menakjubkan.

Wajah sayu tersapu angin laut bercampur pasir halus, melepaskan segala kelelahan –kepenatan-kehampaan diri. Debur ombak, lantunan tembang asmaradhana lirih, diam-diam menyelusup dalam setiap keramaian dan hening.

JOgja, Jumat 28 Juli 2012

senja di kaki langit jogja


Disini aku;

dengan segala nafas memburu dengan peluh yang berceceran

dalam setiap hirup, dalam setiap degup.

Disini aku;

menanti fajar untuk datang kembali dengan kehangatan mentari yang senantiasa dahsyat dan menghangat.

embun masih terlihat kelelahan

setelah menuntaskan temaran tatkala shubuh penghabisan

hanya ada senjakala, aku dan kehangatan mentari luruh

terasa damai dan hebat,

untuk sebuah dunia yang penuh dengan warna hitam dan sekedar putih

sang bidadari berkelebat bersama malaikat,

nampak sayap-sayapnya terhunus dan membelah lelangit

namun, hawa harum terkesat dalam interval yang sporadis dan berloncatan

dengan ketakjuban yang maha.

aku disini,

menyaksikan semua itu masih dengan nafas diam-diam, dan dada yang bergetar

dalam harmonisasi rasa-akal sehat-kinasih

Persimpangan Jogja, akhir purnama ketiga 2012