Jika; dialog masa lalu-kini-dan nanti


Jika kamu mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas.
Trauma ini lantas kamu gunakan sebagai ‘kambing hitam’ atas keterpurukan kamu saat ini.
kamu akan terus terikat dengannya, meski itu menyakitkan.
Bila kamu tak bisa lepas dari trauma, maka coba tanyakanlah hal ini pada dirimu:

“Berapa banyak luka lagi yang akan saya biarkan diderita oleh diri saya sendiri?
Apakah trauma ini pantas menghancurkan seluruh sisa hidupsaya?
Siapa yang berkuasa disini,diri saya–ataukah trauma?
“Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon.

Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri.
Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama.

Satu-satunya yang menghalangi kita untuk melangkah darimasa lalu adalah pikiran kitasendiri.
Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari.
Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup kamusendiri.

Sahabatku yang teguh hatinya, ingatlah hanya seorang pemenanglah yang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang akan sibuk mengingat masa lalu.

Bila kita sibuk menghabiskan waktu dan energi kita memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, maka kita tidak memiliki hari ini untuk disyukuri.
Saat kita merasa sedih dan putus asa, atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita.
Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita?

 

Tetaplah tegar dan percaya diri, berpikir positif dan optimis,
berjuang terus, dan pantang mundur.

Jogjakarta, awal minggu kedua purnama kesebelas 2012

Bersama dengan seorang teman ketika, ia (masih saja) menjejak kekiniaan dengan membawa masa lalunya.

Advertisements

Hari Pendidikan Nasional : Potret Buram Pendidikan Nasional




Bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global, pendidikan merupakan kunci utamanya. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya sumberdaya manusia yang buruk, akan secara pasti melahirkan masyarakat yang buruk pula.

Untuk mengantar kepada visi pendidikan yang demikian, dan melihat realitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari harapan . Bahkan, jauh tertinggal dari negara – negara lain. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal : Pertama, paradigma pendidikan nasional yang sangat sekuler dan materialistik sehingga tidak menghasilkan manusia yang berkualitas utuh, lahir dan batin. Kedua, semakin mahalnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun. Ketiga, rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan untuk bersaing secara global.

Sistem pendidikan yang sekuler materialistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sebuah sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang juga sekuler dan materialistik. Memang, dalam sistem sekuler materialistik itu, yang namanya pandangan, aturan, dan nilai – nilai Islam tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, terutama dalam pendidikan ini. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekuleristik lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama dan segala akibat-akibatnya yang menimpa bangsa dan negara ini.

Paradigma Pendidikan NasionalDalam UU Sisdiknas N0. 20 Tahun 2003 tampak jelas adanya dikotomi pendidikan agama dan umum yang bisa melahirkan pendidikan sekuler materialistik. Padahal sistem pendidikan yang dikotomis semacam ini telah terbukti gagal melahirkan manusia utuh (soleh) yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan dan perkembangan penguasaan sains dan teknologi.

Dari sistem pendidikan ini, terdapat kesan yang kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu (iptek) yang dilakukan Depdiknas dipandang sebagai tidak berhubungan dengan Agama (Islam). Sementara pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan, justeru kurang tergarap secara serius. Kurikulum Agama (Islam) hanya ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimalis dan bukan menjadi dasar utama dari seluruh aspek kehidupan.

Ini artinya, sangat jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai tujuan pendidikan nasional itu sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Karena itu, pendidikan yang sekuler materialistik ini memang bias melahirkan orang yang menguasai sains teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Namun, pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan pengetahuan keislaman. Betapa banyaknya lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, yang belajar dalam lingkungan pendidikan agama memang menguasai pengetahuan keislaman dan secara relatif kepribadiannya tergarap dengan baik, tetapi disisi lain terkesan buta terhadap ilmu-ilmu kehidupan modern.

Apa yang terjadi selanjutnya? Sektor-sektor kehidupan modern seperti industri manufaktur, perdagangan, jasa, eksplorasi SDA, perbankan, dan lain-lain lebih banyak diisi oleh orang-orang yang mengerti pengetahuan Islam lebih banyak berkumpul di dunianya, seperti madrasah, dosen/guru agama, Depag, dan pada umumnya tidak mampu bersaing dan terjun pada sector-sektor modern. Dan ujung-ujungnya, merebaknya wabah korupsi di negeri ini karena akibat keterbelahan sistem pendidikan ini, termasuk berbagai penyakit sosial lainnya. Hal ini telah kita rasakan sampai saat ini.

Biaya Pendidikan Mahal SelangitSudah menjadi rahasia umum, bahwa pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat agar anaknya dapat menikmati pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari Taman Kanak – Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) yang membuat masyarakat miskin tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kaum the haves (golongan kaya). Tentu tidak ada pilihan lain, kecuali putus sekolah.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pendidikan sebagai pelayanan publik, tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35 – 40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong terjadinya privatisasi pendidikan. Apa akibatnya? Sekitar yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban pertama. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5-2005). Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan, utang pemerintah Indonesia periode Januari – Agustus 2010 tercatat sebesar Rp. 1. 654,9 triliun (media umat, edisi 48 3-23/12/2010). Artinya, jerat utang ini akan terus menjadi bagian dalam mengisi APBN, walaupun negeri ini berlimpah kekayaan alamnya. Dan tentu saja, dana pendidikan akan tetap terjerumus dengan utang yang besar itu.

Karena itu, jika alasannya pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya bertolak di Indonesia. Di luar negeri, misalnya Jerman, Perancis, Belanda dan dibeberapa Negara berkembang lainnya, justru banyak sekolah/perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah, bahkan ada yang gratiskan biaya pendidikannya.

Pendidikan yang berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Kewajiban pemerintahlah atas nama Negara untuk menjamin setiap warga negaranya untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ini vidi ideal pemerintahan dari segala strukturnya untuk mewujudkan peradaban yang memanusiakan dari sadar akan eksistensinya di muka bumi ini sebagai hamba Tuhan.

Ancaman KomersialisasiOrang miskin dilarang sekolah! Dari tahun ketahun, tidak lama lagi, mungkin itu yang akan terjadi di Indonesia. Pasalnya sekolah semakin mahal. Untuk masuk TK sampai perguruan tinggi, apalagi unggulan, SBI, orang tua bisa menghabiskan jutaan sampai miliyaran rupiah. Memang, ada yang murah tetapi jangan ditanya kualitasnya, tentu apa adanya. Secara jujur, inilah yang disebut diskriminasi dalam dunia pendidikan kita. Kalau punya uang banyak, pasti bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sebaliknya, kalau terbatas dananya harus pasrah dengan kualitas pendidikan yang menyedihkan. Kenapa? Karena seharusnya pendidikan yang berkualitas harus berlaku sama bagi siapa saja yang punya uang atau tidak. Sebab pendidikan yang berkualitas merupakan asset negara yang bukan milik orang kaya.

Sebenarnya inilah yang disebut pengapdosian kebijakan kapitalis dalam dunia pendidikan memang semakin menguat. Memang dalam sitem kapitalis, peran negara diminimalisasi, negara hanya sebagai regulator. Peran swasta pun dioptimalkan. Muncullah istilah-istilah “luhur” yang sebenarnya menimpa yaitu otonomi sekolah, otonomi kampus, dewan sekolah yang intinya negara lepas tangan terhadap dunia pendidikan. Lagi-lagi yang muncul adalah masalah pendanaan, sehingga harus banting tulang untuk mencari sumber pendanaan mulai dari buka bisnis sampai ujung-ujungnya menaikkan biaya pendidikan. Hasilnya, pendidikan benar-benar dikomersialisasikan melalui sumber dana masyarakat non – SPP yang itemnya bertumpuk.

Intervensi AsingMeningkatnya kapitalisasi pendidikan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisasi. Sejak awal memang penjajah telah memformat sistem pendidikan menjadi sistem kapitalisme yang siap mengabdi kepada tuannya. Artinya, meskipun Indonesia sudah merdeka, tetapi subtansi sistem pendidikan yang sekuler materialistik yang dijalankan oleh para pemimpin yang memang dididik oleh mereka-mereka untuk mengalahkan imperialisme gaya baru.

Selanjutnya, kebijakan-kebijakan kapitalistik akan muncul subur dan tidak bisa dilepaskan dari peran intelektual yang dididik oleh “Barat” masih mencengkeram kuat negeri ini. Seperti persaingan institusi-institusi pendidikan Indonesia dengan institusi asing. Dalam hal ini, sangat jelas bahwa Indonesia masih di bawah asing. Artinya, intervensi ini terjadi melalui sistem negara yang sekuler dan para intelektualnya.

Nah, asing biasa masuk melalui beberapa jalan seperti memberikan bantuan, pinjaman, beasiswa, hibah, penelitian, dan lain-lain. Berbagai pinjaman itu dikucurkan agar kebijakan perguruan tinggi tersebut dapat tunduk di bawah tekanan dan asing yang kelak para alumni AS ini akan menjadi “diplomat” yang notabene pelanjut imperialisme baru.

Di Indonesia, jargon “pendidikan untuk semua” sering dilantunkan. Namun dibawah sistem demokrasi ini sering “dibajak” oleh pemilik modal, termasuk pemodal asing. UU Pendidikan yang dibuat sering malah berpihak kepada pendidikan mereka dan bukan pada rakyat banyak. Itulah sistem pendidikan dalam cengkeraman kapitalisme.

Solusi fundamental dari potret buram pendidikan ini, sistem pendidikan harus diarahkan pada perubahan paradigma, yaitu pondasi dari akidah Islam yang tidak mengenal dikotomi pendidikan umum dan agama. Akhirnya lahirlah ribuan intelektual muslim yang memahami agama sekaligus siap menjawab tantangan di zamannya. Semoga!

Notes..

Awal Mei 2012, sambil menikmati kopi suatu sore di Jogja yang Panas & muram, ahh…muram juga rupanya pendidikan kita, hem..

http://www.fajar.co.id/read-20110427235616-potret-buram-pendidikan-nasional”]Sumber

Wanita Dan Tangisnya Yang Agung


Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab aku wanita”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu menangis tanpa sebab yang jelas”. sang ayah menjawab, “Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Ketika wanita menangis, Itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya
Melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.. Ketika wanita menangis,
Itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya Melainkan karna pertahananya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.. Ketika wanita menangis, Itu bukan karna dia ingin terlihat lemah
Melainkan karna dia sudah tak sanggup berpura-pura kuat.. Ketika wanita menangis,
Bukan berarti dia ingin mencari perhatian Melainkan karna apa yang dia perhatikan telah mengabaikannya..

Ketika wanita menangis, Bukan berarti dia mengharapkan belas kasihan Melainkan karna dia sedang mengasihani dirinya sendiri.. Ketika wanita menangis, Bukan berarti dia ingin membuat sesuatu yang dia tangisi merasa bersalah Melainkan karna dia tidak tau kesalahan apa yang membuat keadaan menjadi sedemikian..

Ketika wanita menangis, Bukan berarti dia sedang memancing kepedulian semua orang terhadapnya
Melainkan justru karna dia tau , bahwa tidak akan ada orang yang peduli.. Ketika wanita menangis,
Janganlah engkau menganggapnya wanita lemah ataupun tukang cari perhatian Karna engkau jugalah yang menyebabkan air mata itu mengalir di pipinya..  Dan ketika wanita menangis,
Janganlah kau menghukumnya dengan meninggalkannya begitu saja Karna dia tidak mampu membawa berjuta tetes air matanya sambil mengejarmu.. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya

Dari berbagai sumber

Catatan Perjalanan Pantai Tebing-Putih


Ini cerita awal dan akhir perjalananku bersama seorang teman

31 januari 2010, pukul 09.00-10.33 jogja besar Kami tengah mempersiapkan tas carier yang akan kami isi dengan 2 sb, tenda doom, kamera lapangan, serta logistic secukupnya, dan tentu saja beberapa secondary tools buat jaga-jaga. Namun ada yang kurang yaitu HT, karena dilokasi tujuan nggak ada sinyal selluler.

31 Januari 2010, pukul 10.45 jogja besar Sedang checking akhir (peta lokasi beserta jalur-jalur alternatifnya, soalnya ini baru pertama kali pergi ke lokasi). Checking logistic, navigasi sederhana, alat untuk outdoor, uhmm…kay, nampaknya dah kelar semua. Siap..dari titik ini kami berangkat berdua.

31 Januari pukul 11.07 jogja besar Dari depan rumah yang kebetulan deket ma jalan penghubung antar kabupaten, banyak truk ataupun mobil sejenis zebra, yang sering lewat, yup…tinggal mencari truk atau pickup nirmuatan. Yah, kami memutuskan untuk nebeng truk aja, lagipula perjalanan menuju kesana terlalu indah untuk dilewatkan kalau menggunakan moda trasportasi yang laen, yah selain pertimbangan efisiensi dan efektifitas  hehe..

31 Januari pukul 12.34 jogja besar Akhirnya baru dapat truk angkutan, uhmm…lebih tepatnya truk rumput (truk rumput ini biasanya,mengangkut rumput gajah, maupun batang tanaman jagung, dari  kebun-kebun petani maupun yang didapatkan hutan oleh para petani di wilayah gunung kidul untuk pakan ternak, khususnya sapi. Kami tengah berada di bak truk, dengan muatan yang sudah tinggal tersisa daun-daunnya saja. Dari bak truk ini kami kayak anak kecil saja, bisa nunggging, ngangkang, cengar-cengir sendiri sambil menikmati suasana selama perjalanan. Beruntung juga, karena truk ini mempunyai tujuan yang sama dengan kami, desa Nglaos, dukuh wiroso, gunung kidul. Desa ini merupakan titik awal tujuan kami, karena dari desa ini menurut informasi yang kami peroleh (salah satu teman kenalan dari desa tersebut) menjadi titik awal kami untuk menuju kebeberapa lokasi yang menakjubkan (aku bilang dengan redaksi ini, karena lokasi ini hanya diambah oleh para pencari kayu, pemancing lobster, dan petani setempat, antara lain bukit tebing Kesirat-sumber air tawar pantai nGligak-pantai pasir putih wohkudu, untuk tujuan terakhir ini letaknya di antara dua tebing, jadi agak sukar juga bila baru sekali kesana :)Tapi,kay akan kita coba..lets see.

31 Januari pukul 14.05 Desa nGlaos-Gunung Kidul Kami istirahat disini, tepatnya di warung pak paedi, disini selain ngopi dan ngbrol-ngorol kesana-kemari tentang desa ini serta tentu saja tujuan yang hendak kami capai kai juga disuguhi buah sirsak, hehe…lumayan juga betambah segar, karena udara disini lagi sedang panas-panasnya. Setelah membeli air minum untuk bekal sebanyak satu jerigen ukuran +- 3 liter, kami melanjutkan perjalanan kembali (ohya, di desaini air minum merupakan barang yang mahal juga, karena untuk kebutuhan rumah tangga, pra warga disini harus membeli air minum 250ribu untuk tiap 1 drum-nya, ini harus dibagi untuk keperluan mandi, minum ternak (banyak yang beternak sapi, kandang-kandang sapi ditempatkan jauh dari pemukiman warga, dalam perjalanan nanti kita kan menemukan di kiri-kanan jalan) serta kebutuhan minum warga sendiri.

31 Januari pukul 14.05 dalam perjalanan Lokasi yang akan kami tuju pertama adalah bukit tebing Kesirat (lokasi ini digunakan untuk memancing udang lobster oleh penduduk setempat) lokasi ini juga berdekatan dengan (jarak tempuh sekitar 4km jarak darat) sumber air tawar pantai nGligak (ini adalah semacam oase kecil berbentuk kayak kedung (lingkaran dengan diameter +- 2-3 meteran) di wilayah pantai, menurut cerita penduduk ketika masa musim kering tiba dan merek atidak mempunyai cukup uang untuk membeli air m,inum maka mereka akan mengambil air minum dari sini, namun terkadang tidak semudah itu juga, Karena ketika air laut pasang, oase ini tidak terlihat alias tergenang oleh air laut namun ketika surut dengan sendirinya air tawar inni akan naik keatas, sehingga bisa diambil oleh penduduk setempat. Sedangkan pantai pasir putih wohkudu sebenarnya ada disamping pantai tebing kesirat (kalau mau lewat tebing dan jurang dengan kedalaman sekitar 150-200m, perjalanan kepantai ini akan jauh lebih cepat dengan beberapa catatan teknis tentunya  ;D

Capek dan haus ;D, dikiri-kanan jalan banyak tumbuh pohon kelapa (sebenarnya sempat juga ditawari penduduk untuk minum air kelapa, tapi kami jadi sungkan sendiri untuk menerima tawarn yang menggiurkan tadi). Dalam perjalanan menuju lokasi yang menempuh jarak sekitar 3km jarak darat, kami sering berpapasan dengan para ibu-ibu yang memanggul rumput serta bapak-bapak yang sudah sepuh (tua) memanggul kayu kering untuk dijadikan kayu bakar ataupun dijual kembali dipasar desa (ketika berpapasan maka lebih baik bila mengucapkan salam, orang-orang didesa ini sangat suka bila disapa apalagi bila yangmenyapa mereka kenali bukan orang asal desa ini alaias orang asing, ngajeni (menghormati dalam bahasa jawanya). Mendekati 2.5 km sebelum lokasi tujuan, kami diajak ngobrol oleh ibu dan bapak yang tengah asik menyiangi rumput-rumput di sawah tadah hujan mereka, sawah sekaligus disamping kiri-kananya areal perkebunan jagung. Kami ditanyakan tempat tujuan kami, serta berapa orang, ibu itu juga dengan ramahnya menawarkan kacang tanah yang habis dipanen untuk bekal tambahan serta teh didalam termos yangtentu saja hangat.

31 Januari pukul 16.29 Kami pada akhirnya tiba juga di pantai tebing kesirat…ahh..thanks God…karya Tuhan yang sekali lagi menakjubkan. Kami berdiri menatap tebing-tebing kesirat, ada aroma air laut yang terhirup, ada sambutan angin pantai yang mengusap wajah kami ;D romatis memang….

31 Januari pukul 16.36

Sholat dan dilanjutkan orientasi medan

31 Januari pukul 17.07

Mendirikan tenda

31 Januari pukul 17.37 Matahari tenggelam dicelah horizon kesirat, memerah saga…bersamaan dengan itu, datang dari arah puncak bukit seorang anak usia sekitar 12tahun bersama dengan ayahnya tengah memanggul alat pancing dibahunya serta tangan kananya memegang tas plastic hitam (nampaknya hasil mincing,nih0, sempat ngobrol sebentar, lantas mereka turun melanjutkan perjalanan pulang. Seorang anak usia 12-an tahun diajak memancing di celah-celah tebing kesirat, uhm…keren, ditempa ketangguhan sejak dini ;D

31 Januari pukul 19.00

Bikin api unggun, ngopi dan makan mie rebus..

31 Januari pukul 22.16

Sorot lampu kapal ditengah lautan nampak kecil sekali terlihat dari hitamnya malam kesirat, seesekali kapal itu sorotnya berkedip-kedip.

31 Januari pukul 23.57

Angin datang sangat kencang ditambah lagi hujan, tenda doom seakan-akan terangkat dan lampu badai bergoyang-goyang hampir jatuh.

31 Januari pukul 00.09

Ada hallo di langit-langit kesirat…ahh, cantik sekali. (antiklimaks yang sempurna,kataku)

1 Februari pukul 05.03

Melangkah kepucak bukit kesirat, ada sesuatu yang menunggu disana…

1 Februari pukul 05.34 Matahari muncul dari batas kaki langit laut selatan…diiringi dayang-dayang awan cumulus, uhmm…sexy sekali.

1 Februari pukul 05.49 Uhm..kami pikir saatnya telapak tangan ini merasakan tebing-tebing kesirat

1 Februari pukul 08.27 Ngopi dan makan mie lagi ;D, sembari membiarkan tubuh menerima hangat sinar mentari pagi

1 Februari pukul 09.13 Membersihkan sampah dan memasukkan keatas, sekalian packing tenda dan prepare untuk melanjutkan misi  ;D

1 Februari pukul 09.58 Packing selesai dan melanjutkan perjalanan menuju pantai wohkudu

1 Februari pukul 10.20 Perjalanan menuju kepantai ini kembali menanjak lagi, untuk menuju kelokasi ni agak sukar juga Karena tidak ada tulisan maupun tanda khas. Hanya ada celah pada pagar dari anyaman besi yang sudah berkarat (dari informasi petani yang kami temui, inilah jalan masuk menuju pantai wohkudu). Jalan menuju kepantai hampir sama seperti halnya jalan ketika kita turun dari puncak semeru, melewati lorong dengan rimbun tumbuhan khas hutan, gubuk petani, dan sawah tadah hujan yang baru saja ditanami. Kami sempat hamper tersesat ketika ditengah perjalanan, tidak ada landmark yang menandakan jalan tembus ke pantai. Dengan sedikit keberuntungan pula serta feeling;) akhirnya kami menemukan pantai wohkudu setelah sebelumnya menembus rerumputan yang setinggi orang dewasa. Yap, akhirnya…suara ombak air laut  semakin jernih terasa menderu. Akhirnya..(kataku lagi..)

1 Februari pukul 11.36 Sesaat kami terpaku (halah…) dengan bentangan alam tebingnya dan tentu saja pasir putihnya dan lantas berlarian kayak anak kecil sambil terhuyung-huyung membaca tas carier..hehe..
Sesekali kami melihat bekas popmie berada disitu (g banyak juga memang) tanda bahwa pernah ada orang masuk kesini dan g cinta kebersihan pula. Sepi, sepi sekali disini..nampak bahagian juga disamput suara debur ombak yang menubruk bebatuan cadas dibibir pantai, dari sini menimbulkan melodi yang ritmis, persis Ludwig Van Beethoven dengan Fur elise-nya.

1 Februari pukul 11.45 Kami tiduran di celah-celah tebing sambil menikmati suara ombak dan saura camar laut yang sesekali mampir (celah tebing ini dihasilkan oleh terpaan ombak yang bertubi-tubi dan sangat lama,makanya terbentuk celah), sesekali air menetes turun dari dinding-dinding tebing, pelan-pelan…uhm…ritmis sekali ketika melihat air menetes jatuh, dan berhamburan.

1 Februari pukul 13.30 Kami melangkah pergi meninggalkan pantai ini, sesekali dalam perjalanan keatas, kami masih melihat kebelakang, berharap suatu saat nanti pantai ini tidak banyak orang yang jahil datang kesini, dan dengan diam-diam kami berbisik pada angin wohkudu….aku akan kembali. Hehe…..

Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Lucky (Jason Mraz Feat. Colbie Caillat)

1 Februari pukul 15.23 Setelah sampai di desa nGlaos,kami berjalan kaki lagi untuk menunggu truk lewat di jalan besar desa (biasanya,menurut informasi penduduk yang kami dapat, kalau sore asalkan tidak melebihi pukul 17.00, beberapa truk dengan muatan kayu, sayur akan lewat.

1 Februari pukul 16.47 Akhirnya, kami dapat tumpangan pickup juga.


Terimakasih untuk;
Bapak-ibu petani desa nGlaos
Kang tono, atas infonya
Pak samijan dan pak adi atas tumpangan truknya dan pickupnya Smile

Ps.
– Pantai nGligak, sementara ini belum dapat kami temukan, entah nanti. ???
– Bila dilanjutkan kembali perjalanan ini, maka akan banyak hal-hal yang menarik untuk ditemui, hanya saja perlu waktu dan momentum yang tepat untuk melanjutkan kembali dan tentu saja kesiapan diri. Sorry kalau banyak salah ketik dan entah apa lagi keanehan yang ditemui dalam thread ini, thanks for all.