Dimana Tuhan ?!


“DIMANAKAH ALLAH SWT ITU BERADA..??”

Alkisah suatu saat Seorang Kakek yang hadir dalam sebuah pengajian yang dipimpin oleh seorang Ustad muda, bertanya: “Anakku, Tadi Anakku menyampaikan ceramah tentang Aqidah, tentang Allah, boleh kakek bertanya? Dimanakah Allah itu?”. Sebuah pertanyaan yang membuat sang Ustad muda bingung.., sangat dalam sekali.

Saat itu pula ia teringat pesan Guru-nya, jika ada yang bertanya dimana pertanyaan itu bukan sifatnya ingin tahu atau ingin sekedar menguji dan kita tidak tahu jawabannya maka berikanlah jawaban seperti ini “Sesungguhnya orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”.

Kakek itupun manggut-manggut, sambil tertunduk beliau bertanya lagi.

“Anakku, Coba Ambilkan Pelita itu (sebuah kaleng cat minyak yang berisi minyak tanah dan diberi api disumbunya), boleh kakek bertanya? Kapan Pelita ini disebut Pelita? “.

Kembali sang Ustad memberikan jawaban “Kakek, Saya tidak bisa menjawabnya, Terangkanlah pada Saya”.

Sang Kakek bukan malah menjawabnya tetapi memberikan pertanyaan baru lagi “Jika Kakek Tiup Api diatas Pelita ini, Kakek bertanya, Tahukan Engkau Anakku, Kemana Perginya Api Itu?”.

Allahu Akbar! Teriak bathin sang Ustad, selama ini ia tidak pernah berfikir tentang kemana perginya api ketika ditiup dari pelita yang hidup, oh iya ya, kemana perginya api itu, bahkan tidak berbekas sama sekali.

Kembali ia menjawab “Saya Tidak Tahu Kek, Berikan ilmu Pada Saya”.

Kembali Kakek itu tidak menjawab, Beliau justru menanyakan nama si Ustad “Nak, Namamu siapa?”, ia jawab “Abdullah…”, beliau manggut-manggut lagi , ia bertambah heran saja dengan kakek ini yang entah dari mana datangnya. “Boleh Kakek bertanya lagi, Dimana Abdullah Itu?”

Wah pertanyaan apa lagi ini pikirnya, untuk yang satu ini ia menjawab “Di Depan Kakek , Inilah Abdullah… ”.

Si Kakek Tua hanya geleng-geleng kepala dan merenung sejenak, si Ustad terbawa suasana merenung seperti kakek ini dan tiba-tiba beliau menepuk bahu sang Ustad dan memanggil nama nya “Abdullah…….!”.

Ia jawab dengan Spontan “Ya Kek!”.

Kakek itu tersenyum lebar dan kemudian mengatakan :

“Anakku, Barusan kakek merasakan adanya Abdullah, karena bagimu Abdullah itu tidak ada, jika Kau pegang tanganmu, itu Tangan Abdullah..!, jika kau pegang Keningmu, Itu Kening Andullah..!, jika kau pegang kepalamu, itu Kepala Abdullah..!, Jika kau pegang tangan dan kakimu, itu adalah tangan dan kaki Abdullah.!, lalu…..DIMANAKAH ABDULLAH ITU?! Abdullah Itu ada saat begitu banyak orang merasakan banyaknya manfaat kehadiran dirimu, sehingga banyak orang menyebut namamu Anakku…”.

“Demikianlah perumpamaan Allah Swt, Sesungguhnya Allah itu sudah Ada sebelum apapun ada dimuka bumi ini, Allah itu sudah ada bahkan jikapun Bumi tidak diciptakan olehnya, Tapi Allah itu Tidak Ada Bagimu, Jika kamu tidak pernah mengerti tentang-NYA, Kau sebut langit itu adalah langit ciptaan Allah, kau sebut Api itu Api ciptaan Allah, Kau Sebut Air, itu adalah Air Ciptaan ALLAH, lalu dimanakah Allah?

Dimanakah Allah? Allah itu ada bagimu, Bila kau selalu menyebut nama-NYA, kau zikirkan setiap hembusan nafasmu, Maka Dia slallu ada bersamamu, Maka Allah itu Ada Bagimu, karena ada dan tidak adanya dirimu, Allah Itu Tetap Ada..!!”, demikian si Kakek menjawab panjang.

Subhanallah, pagi Ramadhan yang indah bagi si Ustad muda, sebuah ilmu yang tidak mungkin ia dapatkan di bangku kuliah…

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahilhhamd

Sebelum perpisahan dengan kakek itu , ia masih penasaran dengan Perumpamaan Pelita yang ditanyakan tadi, sang Kakek lanjut menjelaskan “Pelita itu tidak bisa kamu sebut Pelita tanpa ada Apinya… ketika Pelita itu tidak Apinya dia hanya bisa disebut Kaleng Cat Minyak yang berisi minyak tanah dan bersumbu, itu saja…..

Baru Bisa Kau sebut Pelita apabila kau berikan Api disumbunya….,

ini bermakna demikianlah manusia, ketika ruhnya tidak ada, itu hanya bangkai yang berjalan, yang perlu kau hidupkan setiap hari adalah ruhnya, sehingga dia bisa menerangi dan memberikan manfaat bagi sekitarnya…”.

Allahu Akbar! Teriak bathin si Ustad muda.

Kembali sebuah nasehat yang luar biasa di Ramadhan ini bagi nya, dan ketika sebelum ia cium tangannya, Sang Kakek ini membisikan ke telinga “Anakku, Ingat saat Api diatas pelita itu ditiup, Api menghilang, tak berbekas dan kau tidak bisa melihatnya lagi, bahkan bentuk , rasa sudah tidak bisa kau lihat, bahkan kau tanyakan seribu kali kemana perginya Api kau tidak akan bisa menjawabnya…,

Demikianlah dengan RUH anakku, saat dia pergi dari jasadmu dia tidak akan membentuk apapun , dia raib sebagaimana Zat yang menciptakannya, DIA-lah ALLAH Swt….
Maka rawat dengan benar ruh yang ada dalam jasadmu….. Assalamualaikum”.

“Wa’alaikumsalam” jawab si Ustad sembari menitikaan Air Mata, “Ya Allah, Ramadhan kali ini terasa indah bagiku, Aku ingin bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan Ya ALLAH” ia berdoa dalam hati..

Hingga hari ini, ia tidak menemukan bahkan tidak pernah mengenal nama kakek itu & tidak pernah ia lihat lagi seumur hidupnya…

 

Memberi Arti Hidup


1175270_687264524635164_1374820965_n

Menjelang suatu hari raya, seorang ayah membeli bbrp gulung kertas kado. Putrinya yg masih kecil meminta 1 gulung. “Utk apa?” tanya sang ayah. “Utk kado, mau kasih hadiah.” jwb si kecil. “Jangan di-buang2 ya.” pesan si ayah sambil memberikan 1 gulungan.

Persis pd hari itu, pagi2 si cilik sudah bangun & membangunkan ayahnya, “Pa,… ada hadiah utk papa.”

Sang ayah yg masih malas2an, matanya pun belum melek, menjawab, “Sudahlah nanti saja.” Tetapi si kecil pantang menyerah, “Pa, Pa, bangun pa.. sudah siang.” “Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa.”

Ia mengenali kertas kado yg pernah ia berikan kepada anaknya. “Hadiah apa nih?” “Hadiah hari raya utk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang.”

Dan sang ayahpun membuka bingkisan itu. Ternyata di dlmnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apapun juga. “Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosong?

Buang2 kertas kado, Kan mahal?” Si kecil menjwb, “Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buuuanyaaaak ciuman utk Papa.”

Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya. “Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan box ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali2 kalau perlu ciuman Putri akan Papa akan ambil satu.

Nanti kalau kosong, diisi lagi ya!” Box kosong yg sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apapun, tiba2 terisi dan memiliki nilai yg sangat tinggi di mata sang ayah, dimata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun.

Orang lain akan tetap menganggapnya kosong. Kosong bagi seseorg bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorg bisa dianggap kosong oleh orang lain.

Kosong dan penuh, dua2nya merupakan produk dari “pikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup, demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti / makna kepadanya.

Bagi mereka yg tdk memberikan makna, tdk membrikan arti,hidup ini ibarat lembaran kertas yg kosong.

 

Jika; dialog masa lalu-kini-dan nanti


Jika kamu mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas.
Trauma ini lantas kamu gunakan sebagai ‘kambing hitam’ atas keterpurukan kamu saat ini.
kamu akan terus terikat dengannya, meski itu menyakitkan.
Bila kamu tak bisa lepas dari trauma, maka coba tanyakanlah hal ini pada dirimu:

“Berapa banyak luka lagi yang akan saya biarkan diderita oleh diri saya sendiri?
Apakah trauma ini pantas menghancurkan seluruh sisa hidupsaya?
Siapa yang berkuasa disini,diri saya–ataukah trauma?
“Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon.

Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri.
Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama.

Satu-satunya yang menghalangi kita untuk melangkah darimasa lalu adalah pikiran kitasendiri.
Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari.
Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup kamusendiri.

Sahabatku yang teguh hatinya, ingatlah hanya seorang pemenanglah yang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang akan sibuk mengingat masa lalu.

Bila kita sibuk menghabiskan waktu dan energi kita memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, maka kita tidak memiliki hari ini untuk disyukuri.
Saat kita merasa sedih dan putus asa, atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita.
Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita?

 

Tetaplah tegar dan percaya diri, berpikir positif dan optimis,
berjuang terus, dan pantang mundur.

Jogjakarta, awal minggu kedua purnama kesebelas 2012

Bersama dengan seorang teman ketika, ia (masih saja) menjejak kekiniaan dengan membawa masa lalunya.

menegadah ke langit dalam lompatan kuantum


menegadah ke langit dalam lompatan kuantum
linkar sepertitiga detik
sosok sang perempuan awan
menjulai dalam rangkaian gugus maha bintang
di pengakhiran dinihari

babak pengimaman terakhir dalam secawan magrib
menggelepar dalam banjir teodormin yang mengelak
heineken putih-pun urung menjadi pembuka
bagi perjamuan terakhir

telah berkembang dan menguncup dalam waktu yang bersamaan
dengan keanggunan yang masih saja
sebagaimana yang dulu dan awal

ah…ritmis yang sendu
dan memerah
semerah saga
semabuk anggur hitam

dan mengehela nafas panjang
……………..

Jogja, 10 April 2012

~ah badai yang sebagaimana dahulu, namun anyir menyisakan desau dan haru~

untitled


Malam kembali hadir sebagaimana biasannya, tanpa sesuatu yang berbeda. Hanya suara jangkrik dan kodok di pematang sawah dibelakang rumah, dibayangi desau angin sawah yang pelan namun terasa kuat. Jelaga kunang-kunang menjadi tabir dari segala kehidupan dan segala tetamu rasa yang silih berganti hidup dan bertandang. Suatu kali seseorang datang bernama cinta, ia datang pada suatu senja dengan membawa sebotol Heineken dan sebungkus lucky strike, dengan paras memerah dan masih secantik dan seanggun dulu.

Dia kemudian aku persilahkan untuk duduk sembari aku hidangkan nyamikan sebagai teman sepeminuman senja kala itu, ia lantas bertanya padaku “apa kabar denganmu”, sebuah pertanyaan runyam yang kendatipun klise (sekali lagi) menjadi agak aneh untuk kedatangannya kali ini. Aku hanya bisa menjawab, hei..ada apa dengan dirimu?, ia hanya tersenyum menyeringai (tenu saja senyumannya terlihat sexy walaupun ketika diihat dari angel yang tidak pas akan terkesan angker dan horror).

Kamu masih ingat sajak ini?ia kemudian membacakan sebuah epic dari gm yang sudah cukup lama terlupakan dari benakku ;

“Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh.

Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu.

Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.”

(Asmaradana)

Ah…kenapa yang terdengar dikepalaku, adalah bait-bait Asmaradhana,

“Sumimpanga king durniti, dumarusa myang diggama, bubujeng pamurih kalok, kakadang dinadya bala, asanès winiruda, daridya undhuhanipun, pawingking manggih katala.

Kalamun datan sawawi, bisa mengku saniskara, manah rupak nora kamot, teges sanès trah ngawirya, becik lamun rumasa, ngembat wisésa tan saguh, milaur mundur kéwala.”.

Dia lantas meneguk Heineken sambil berujar; aku akan meciptakan harapanku, sebagaimana harapan berlariaan seakan takut pada matahari dan dinginnya rembulan.

Senja kala itu, kembali bergurat dalam sayatan yang tanggung, berdesir dan sunyi, untuk setlah itu berganti dengan harum dupa dan doa-doa lirih dari seutas biji-biji tasbih dari para malaikat dan para dewi.

Jogja, 22 Maret 2012