Memberi Arti Hidup


1175270_687264524635164_1374820965_n

Menjelang suatu hari raya, seorang ayah membeli bbrp gulung kertas kado. Putrinya yg masih kecil meminta 1 gulung. “Utk apa?” tanya sang ayah. “Utk kado, mau kasih hadiah.” jwb si kecil. “Jangan di-buang2 ya.” pesan si ayah sambil memberikan 1 gulungan.

Persis pd hari itu, pagi2 si cilik sudah bangun & membangunkan ayahnya, “Pa,… ada hadiah utk papa.”

Sang ayah yg masih malas2an, matanya pun belum melek, menjawab, “Sudahlah nanti saja.” Tetapi si kecil pantang menyerah, “Pa, Pa, bangun pa.. sudah siang.” “Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa.”

Ia mengenali kertas kado yg pernah ia berikan kepada anaknya. “Hadiah apa nih?” “Hadiah hari raya utk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang.”

Dan sang ayahpun membuka bingkisan itu. Ternyata di dlmnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apapun juga. “Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosong?

Buang2 kertas kado, Kan mahal?” Si kecil menjwb, “Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buuuanyaaaak ciuman utk Papa.”

Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya. “Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan box ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali2 kalau perlu ciuman Putri akan Papa akan ambil satu.

Nanti kalau kosong, diisi lagi ya!” Box kosong yg sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apapun, tiba2 terisi dan memiliki nilai yg sangat tinggi di mata sang ayah, dimata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun.

Orang lain akan tetap menganggapnya kosong. Kosong bagi seseorg bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorg bisa dianggap kosong oleh orang lain.

Kosong dan penuh, dua2nya merupakan produk dari “pikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup, demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti / makna kepadanya.

Bagi mereka yg tdk memberikan makna, tdk membrikan arti,hidup ini ibarat lembaran kertas yg kosong.

 

Advertisements

Alunan Tembang Asmaradhana


Menggaris senja dalam lompatan cahaya, dengan lipatan detik yang berwarna
Awan bersama hujan, menari berputar-putar dalam equilibrum hari
Dan sang angin memanah langit dalam lingkaran api memerah saga
Dan diripun terhirup dalam diam yang menyublim bersama cakrawala
Hanya ada aku, awan, hujan & angin, tertawa dalam sebuah rasa

Alunan tembang asmaradhana lirih memanggil malam, sambil berbisik; ‘aku ada disini’
Dan bedug kembali pelan-pelan bersuara dari sebuah surau ditengah pematang sawah
diiringi ayat-ayat langit….
memanggil para malaikat yang tengah berlarian di angkasa
untuk turun ke bumi mahardika dan membasuh muka
dan lantas memeluk setiap jiwa dalam rengkuhan aurora & alam semesta

Duh, gusti ijinkan aku kembali mengepakkan sayap dan menari lincah
dalam gengaman alam raya

Jogja, akhir purnama kelima 2012

untitled


Malam kembali hadir sebagaimana biasannya, tanpa sesuatu yang berbeda. Hanya suara jangkrik dan kodok di pematang sawah dibelakang rumah, dibayangi desau angin sawah yang pelan namun terasa kuat. Jelaga kunang-kunang menjadi tabir dari segala kehidupan dan segala tetamu rasa yang silih berganti hidup dan bertandang. Suatu kali seseorang datang bernama cinta, ia datang pada suatu senja dengan membawa sebotol Heineken dan sebungkus lucky strike, dengan paras memerah dan masih secantik dan seanggun dulu.

Dia kemudian aku persilahkan untuk duduk sembari aku hidangkan nyamikan sebagai teman sepeminuman senja kala itu, ia lantas bertanya padaku “apa kabar denganmu”, sebuah pertanyaan runyam yang kendatipun klise (sekali lagi) menjadi agak aneh untuk kedatangannya kali ini. Aku hanya bisa menjawab, hei..ada apa dengan dirimu?, ia hanya tersenyum menyeringai (tenu saja senyumannya terlihat sexy walaupun ketika diihat dari angel yang tidak pas akan terkesan angker dan horror).

Kamu masih ingat sajak ini?ia kemudian membacakan sebuah epic dari gm yang sudah cukup lama terlupakan dari benakku ;

“Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh.

Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu.

Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.”

(Asmaradana)

Ah…kenapa yang terdengar dikepalaku, adalah bait-bait Asmaradhana,

“Sumimpanga king durniti, dumarusa myang diggama, bubujeng pamurih kalok, kakadang dinadya bala, asanès winiruda, daridya undhuhanipun, pawingking manggih katala.

Kalamun datan sawawi, bisa mengku saniskara, manah rupak nora kamot, teges sanès trah ngawirya, becik lamun rumasa, ngembat wisésa tan saguh, milaur mundur kéwala.”.

Dia lantas meneguk Heineken sambil berujar; aku akan meciptakan harapanku, sebagaimana harapan berlariaan seakan takut pada matahari dan dinginnya rembulan.

Senja kala itu, kembali bergurat dalam sayatan yang tanggung, berdesir dan sunyi, untuk setlah itu berganti dengan harum dupa dan doa-doa lirih dari seutas biji-biji tasbih dari para malaikat dan para dewi.

Jogja, 22 Maret 2012

Wanita Dan Tangisnya Yang Agung


Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab aku wanita”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu menangis tanpa sebab yang jelas”. sang ayah menjawab, “Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Ketika wanita menangis, Itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya
Melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.. Ketika wanita menangis,
Itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya Melainkan karna pertahananya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.. Ketika wanita menangis, Itu bukan karna dia ingin terlihat lemah
Melainkan karna dia sudah tak sanggup berpura-pura kuat.. Ketika wanita menangis,
Bukan berarti dia ingin mencari perhatian Melainkan karna apa yang dia perhatikan telah mengabaikannya..

Ketika wanita menangis, Bukan berarti dia mengharapkan belas kasihan Melainkan karna dia sedang mengasihani dirinya sendiri.. Ketika wanita menangis, Bukan berarti dia ingin membuat sesuatu yang dia tangisi merasa bersalah Melainkan karna dia tidak tau kesalahan apa yang membuat keadaan menjadi sedemikian..

Ketika wanita menangis, Bukan berarti dia sedang memancing kepedulian semua orang terhadapnya
Melainkan justru karna dia tau , bahwa tidak akan ada orang yang peduli.. Ketika wanita menangis,
Janganlah engkau menganggapnya wanita lemah ataupun tukang cari perhatian Karna engkau jugalah yang menyebabkan air mata itu mengalir di pipinya..  Dan ketika wanita menangis,
Janganlah kau menghukumnya dengan meninggalkannya begitu saja Karna dia tidak mampu membawa berjuta tetes air matanya sambil mengejarmu.. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya

Dari berbagai sumber