Tentang; ulang tahun


Ketika pertama kali …
Jiwamu ingin selalu dekat

Dengan jiwaku yang belum bisa
Menterjemahkan segala
Arti pertemuan ini …
Arti cumbu rayu ini …
Yang mungkin bisa memusnahkan
Kenyataan hidup yang terjadi

Ketika jiwamu … merasuk ke dalam
Aliran darahku dan meracuniku …
Ketika jiwamu … memeluk hatiku
Dan biarkan jiwaku … cumbui jiwamu

Ketika kamu aku, melebur menjadi satu
Dan hanya waktu yang mungkin bisa
Memahami apa yang terjadi
Apa yang sedang kurasa … apa yang sedang kau rasa

Adalah cinta yang tak bisa
Dijelaskan dengan kata-kata

Entah apakah judul diatas adalah sebuah klise ataupun sekedar sesuatu yang entah, aku nggak tahu. Tapi hari ini aku sedang,lebih tepatnya jiwaku, tengah menuntunku untuk menulis ini,entah ada apa dengan dirinya, tapi ya sudahlah.Karena aku piker, tidak ada salahnya mereview sedikit tentang perspektif masa lalu, yah..tentunya sambil berdialog dengan masa lalu.

Berbicara tentang ulang tahun, aku teringat dengan perayaan ulang tahunku sendiri yang lebih sering aku rayakan sendiri (hingga saat ini, entah kenapa) dan diam-diam mendoakanku dengan mantra-mantra digdaya alam semesta. Merayakan hari lahir, uhm…lebih tepatnya perayaan atas bertambahnya umur, serta bertambahnya ketololan-kebodohan diri sendiri, perayaan di puncak-puncak gunung di Jawa, itulah tempat untuk merayakan hal ini, aku juga tidak begitu memahaminya sebagai bentuk ritual atau direpresentasikan dengan redaksi lainnya. Aku hanya memahami bahwa, diatas puncak-puncak gunung itulah aku merasa jiwa kembali menjadi aku sebagaimana aku dilahirkan tanpa adanya keAkuan pada diriku yang sekarang ini.

Berbicara tentang aku dan Aku pada diriku, akan bermuara pada konsep ketuhanan yang pada sebuah kalimatun sawa akan menukik pada bentuk kepasrahan/keikhlasan tanpa syarat, tanpa ekspektasi apapun, hanya sebuah pengabdian dan kecintaan tanpa syarat. Dan bukanlah segala rutinitas keagamaan berdasar pada ketakutan dus keinginan atas syurga atapun neraka, bahkan dosa serta pahala; namun lebih pada bentuk kekhlasan dan keridhaan diri atas keridhaanNya. Sehingga inilah momentum berlepasnya Aku pada aku.

Kembali pada ulang tahun, perayaan kecil diatas puncak gunung hanyalah sekedar sholat shubuh diatas puncak, wirid hening setelahnya, membuat kopi hitam kental dan menyalakan sebatang rokok sambil menghembuskannya pelan-pelan sambil menikmati matahari muncul di antara lautan awan yang putih membiru dan mengabu-abu. Hanya perasaan takjub, takut, merinding, dan lantas menghangat ketiak semua hal diatas terjadi, sambil menghirup udara pertama yang menyeruap itulah tiupan lilinku, sambil berharap diam-diam.

Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;

“Kepada Nya, kita semua akan kembali”

Jalaluddin Rumi
Lahir: 604 H – 672 H

Siegei Pandawa;

hanya seorang lelaki biasa, jauh dari kata luar biasa, dan masih belajar untuk berwudhu hingga saat ini.

Comments are closed.