Sublim


Aku merasa merdeka ketika seluruh indraku hidup, yang lain hanyalah keinginan atas petualangan mengisi hidup dan yang tersisa hanyalah sebuah kesendirian yang independent dan sublim.

Untuk ikhlas, kadang kita harus ridha untuk merasakan sakit, lelah, jengah, penat, perasaan seakan-akan dipecundangi oleh kehidupan. Namun, semuanya itu hanyalah sebuah jalan yang harus dilewati dengan rasa hormat, karena ikhlas adalah sebuah anugerah indah, bagi mereka yang senantiasa rindu akan cinta yang welas asih.

Sungguh beruntunglah orang-orang yang didalam jiwanya ada rasa ikhlas, cinta yang punya jiwa ikhlas, dan tentu saja keyakinan yang agung.

Pada satu persimpangan, ketika tulisan ini menghambur dan memeluk setiap haru-biru nafasku yang pelan-pelan memburu; jujur aku rindu dengan Bapak, rindu dengan kata-katanya yang menakjubkan….”Tegarlah..Setegar Idealismemu, le….”

Jogja, purnama kesepuluh dengan setiap dekapan dingin gerimis setiap malamnya 2012

Dan;…

iya aku masih berdiri disini…menunggu badai; entah apapun bentukmu, aku disini untukmu kawan.

 

Just wanna, moving on up a little higher…

Comments are closed.