Sore yang tak pernah lelah…


Sebuah hari dimana sebagaimana hari-hari yang biasanya, ada yang terluka, ada yang tertipu mentah-mentah, dan ada yang menangis tanpa suara tanpa airmata, dan tentu saja tanpa iringan musik sebagai soundtrack, sebagaimana yang sudah-sudah kerapkali disajikan saban hari kepada kita.

Dan rupanya dunia hanya menyisakan sedikit saja manusia-manusia berjiwa ksatria & berjiwa besar, kenapa? karena demikianlah alam semesta senantiasa memberikan setiap mereka atas jalan yang ia pilih dalam hidupnya, Ya.. ia adalah jalan kesendiriaan, jalan menyepi. Sebuah jalan yang penuh dengan ekstase sunyi dan meledak-ledak, sebuah jalan laksana teror yang setiap saat memeluk erat dan mengiriskan pisau berkarat pelan-pelan serta tandas, ke dalam setiap bagian jiwanya.

Dan pelan-pelan darah mengalir hening dalam setiap tarikan nafas yang berat dan letih, ahhhh…Tuhan…

Ini bukanlah tulisan tentang cerita; keputusasaan–kesepiaan—luka— bukan kawan, ini adalah sebuah tulisan sederhana tentang pemaknaan atas jiwa seorang anak kecil yang mengaku dirinya sang petualang, seorang anak kecil yang dengan wajah tertunduk, terisak-isak pelan, namun rupanya ia kalah untuk meredakan teriakan apa yang ia rasakan, dan maka bergetarlah seluruh tubuhnya, menahan sebuah rasa.

Dan, demikianlah hidup, berputar terus menerus dari frame ke frame dan seterusnya, tidakmenyisakan apa-apa, tidakmeninggalkan apa-apa, hanya sebuah ketakjuban sebentar dan lantas melesat memeluk bumi, untuk pelukan terakhir kalinya.

Demikianlah, anak kecil itu, dengan kaki telanjang, muka coreng moreng, pakaian lusuh dan robek, celana yang compang-camping, tetap berjalan tegar dan tegap walau didalam dirinya sedang terjadi kecamuk yang tiada henti, serta segaa sesuatunya belumlah tuntas. Dan lantas, ia pergi lagi membawa serta matahari-rembulan-bermilyar bintang dan selusin galaksi, bukan untuk dia,namun…hanya untuk sebuah harga atas rindunya yang semakin tiada, yang hanya bisa dia temukan sebuah telaga asing. Sebuah telaga yang entah bagaimanapun keadaannya,apapun dia, telaga itu sanggup merengkuhnya dan meredakan segala keresahan, dan tentu saja pecarian dia atas renik kehidupan yang belumlah tuntas. Dan sebelum segala sesuatunya terlambat, ia akan menuju ke telaga itu entah untuk berapa lama, karena ia tahu ia hanya seorang anak lelaki kecil biasa, saja.

<iframe width=”420″ height=”315″ src=”http://www.youtube.com/embed/eG8r1SeM2lk&#8221; frameborder=”0″ allowfullscreen>

Purnama kesepuluh 2012, rasa sederhana yang kumaknai sebagai sebuah ‘keheningan’

Comments are closed.