Verba Volant, Scripta Manent


There is a guardian angel here

She is watching over me
Healing my wound, guiding me home
There is a guardian angel here
She is keeping me alive
My guardian angel.

 

Cinta, Dimensi Lain, Keheningan & Keputusasaan

 

Terkadang segala apa yang dirasakan oleh setiap panca indera kita, hanya sebuah sugesti ataupun ilusi belaka, dan kesemuanya tergantung bagaimana kita melihat sesuai dengan sudut pandang setiap kita. Kehidupan meliputi segala warna-warninya, setiap detiknya menyuguhkan tak terhingga selaksa yang berdarah-darah-hidup-bernyawa. Dan kita, sebagai manusia mengemuka dan mencoba mengejawantahkan setiap kepingan dari puzzl e kehidupan ini dengan setiap renik dan remahanya dengan segala apa yang ada, bahkan kebodohan-pun, ataupula kekonyolan yang berjibaku dengan rasionalitas.

Kemarin bulan ramadhan hadir dengan lebaran sebagai babak akhirnya (bagi sebagian orang, menganggapnya demikian), namun; terkadang penterjemahan  setiap manusia berbeda, tak terkecuali aku. Ramadhan adalah (khususnya bulan ini) memberikan refleksi simulacrum kegelisahan-kejengahan-rasa yang meledah dalam pias-pias rindu yang megap-megap & rasa-pikir-naluri yang, menggelepar berusaha untuk sadarkan diri dari setiap hal, terhadap mimpi-mimpi bahkan.

Sebuah tulisan awal, dengan diiringi lagu Una Noche, dari The Corrs featuring Alejandro Sanz; menjelang ashar 2012, serasa ada yang memeluk tubuhku dari belakang; hangat dan meneduhkan.

 

after thinking..after seeing..my pain walk over the waters of the sea warm clarity. That i saw walk by my street. Without knowing what to do, or feel or think..just that I still go on today, I still.. i still go on today tying myself to understand

 

It can’t be truth that I still without forget
I was looking for you among the clouds, and afront tempests
and now I don’t know if you existed or you were a dream that I had
but there is people you cannot forget ever
it doesn’t matter the time of that happens…

Ia kembali datang

Ahh…sahabat yang satu ini, yang bernama cinta alias kasih sayang, atau aku lebih senang dengan memanggilnya kinasih, hum…nama yang teduh, lebih teduh dari namannya sendiri menurutku. Ia hadir dalam medium banyak hal; alam semesta, perempuan, orang tua, bahkan kita sendiri, dan tentu saja yang seorang guiding yang senantiasa menemani kita, entah sadar ataupun tidak. Beberapa waktu sebelum & sesudah ramadhan, kinasih datang lagi, ia datang sambil membawakans esuatuyang sudah lama sekali aku inginkan (tepatnya, aku nitip dalam perjalanannnya), ia membawa setangkai bunga edelweiss, dengan senyum yang pias ia memberikan bunga itu sambil berbisik, ge..aku datang..Ia datang, dalam keadaan yang bagiku mengelisahkan,Nampak kelelahan tergambar dalam warna wajahnya, kulitnya yang hampir coklat, dengan sayap yang kusut, kenapa?  She flies by her own wings

Ia lantas, sebagaimana biasanya, langsung ke dapur, membuat kopi hitam hangat untuknya dan diriku, yang sedari tadi masih duduk diberanda rumah sambil memegang tangkai edelweiss ditangan kananku  dan wajah memandang langit sore dengan mata terpejam, sambil merasakan sapuan pelan angin.

Dipanggilnya aku pelan sekali, sambil menghampirinya dalam hatiku ngunandika .. seorang musafir yang memilih jalan kesendiriaan dan petualangan yang getas & sublim tapi sebuah kutukan yang memaksa diri untuk belajar dari pengalaman dan keterpurukan, setiap harinya perjalanan setiap tetesan waktu tertuangn dalam sebuah jejak detak untuk kisah hidup soliter dalam perjalanan menjadi sesuatu yang; berarti.

Dan entahlah, sore itu perbincangan kami lain dari biasannya, penuh dengan kegilaan warna, dan sendau gurau yang muram dan hening, semuanya kami nikmati sambil meneguk kopi hitam hangat, sebungkus rokok dan tentu saja ditemani segala angin, awan, langit, bintang dan yang baru saja datang dengan nafas memburu, iya…sang rembulan saudah datang dengan membawa segengam debu bintang.

Sebuah akhir, semoga berakhir dengan keheningan yang paripurna dan menghangat. Sambil diam-diam mencoba untuk tidak menggengam erat terlalu dalam karena keseimbangan itu tidak akan tercipta bila terlalu memaksakannya.

~ When the solution is simple, God is answering ~
~ Life is really simple, but we insist on making it complicated ~

~ Love, Light & Blessings ~

Dan , semuanya belumlah berakhir…berenergi sekali; untuk melanjutkan kembali.

Jogjakarta 2012, Au  Viam Inveniam Aut Faciam

6 responses to “Verba Volant, Scripta Manent

  1. ah, indah sekali hidupmu ge, berkelana dalam waktu yang penuh dg paradoksa. hidup sendiri memang asik, tp ga selamanya sesorang mampu bertahan dalam kesendirian,
    jujur aku cemburu dengan kehidupanmu ge.

    • 🙂 terimakasih, ketika aku menulis tulisan ini, hatiku terasa hangat tubuhku terasa sublim bersama alam semesta (sebuah hal yang tidak lagi paradoksal, hanya saja susah untuk, bagi sebagian orang mengejawantahkannya).

  2. Eureka…kembali lagi sang phoenix yang dulu aku kenal mulai bangkit dari abunya. Kak…apa kabar taman di puncak mahameru & apa kabar dengan mikaela?hehe…really miss u brader🙂

    • 🙂 hi…dee, kemana aja. Taman mahameru, bebrapa bulan yang lalu, masih seperti sedia kala, tidak banyak yang berubah/aku yang berubah ya? Mikaela?she’s still fine with her wings😀