Merasakan segala hal dengan rasa yang menakjubkan, sambil menikmati wine pelangi yang memancarkan aroma dewa. Ia, ketakjuban, senantiasa berkelit tatkala diajak beradu dengan ketidakwarasan. Ketidakwarasan yang secara tiba-tiba menyergap setiap segala, setiap detik nafas yang tergagap akan haru biru hawa bumi yang menguap tatakala hujan menerabas dengan segala gempita.

Kaki ini masih terlihat tegap membakar setiap langkah dan jejak yang sengaja ingin ditorehkan dalam segala kemabukan cipta semesta, hingga ia berakhir menyublum bersama sang Maha,sang Maha atas segala ketiadaa, dan ada yang absurd. Aku masih melangkah, dengan segala kepongahan dan keangkuhanku.

Merasakan rasa dalam segala asa dalam segala jiwa dalam segala nafas, dalam segala ada, segala tiada

Jogjakarta, sehabis penghabisan magrib sambil menikmati detik yang beranjak sesak di bulan Ramadhan, seharusnya bulan ini indah; namun terkadang; dunia tidaklah seharusnya.

Ramadhan, Agustus 2012

Comments are closed.