Sisi Sebuah Senja yang Sederhana


Aha….sebuah kata pembuka, yang bagiku adalah kontemplatif. Kata ini juga mewakili juga dominasi kekacauan atas komposisi warna yang hampir-hampir saja futuristik dan kelewat fatalis (untuk sebuah dialketika kehidupan, yang terkadang tidak melulu berwarna, terkadang hitam atau putih ataupun abu-abu). Kesemuanya menorehkan segala detail warna yang tuntas;

Tulisan ini aku pikir adalah sebuah titik balik dalam sebuah momentum, dimana keber’ada’an kita dipertanyakan oleh kehidupan dengan segala halnya, dan sebagaimana Nietzhe pernah mengatkan ‘dan kesendirian adalah rumahku’, sebuah kesendirian yang penuh dengan aroma intelektualitas dan perlawanan yang tuntas dan mengejawantah dalam setiap aliran darah yang mengalir dalam ganglion otakku. Ahhh…sebentar kuhabiskan dulu botol terakhir heineken-ku dengan penuh segala, yah…hal yang teramat sederhana untuk merayakan senja, walau dari sebuah sudut yang tak bergeming. Ahhh…lagi-lagi aku melihat bintang jatuh di tengah kota ini untuk kesekian kalinya, diantara bunyi klakson yang berhamburan, deru knalpot yang meradang, pacu segala kecepatan dengan amarahnya, ia datang dengan kilatan cepat dan senyap. Sebagaimana, melesatnya  sang phoenix yang bangkit dari abunya, mengepakkan sayap-sayapnya, menaklukkan langit.

Dan ada sebuah titik dimana sebuah dialektika tentang sesuatu akan stuck pada titik yang dinamakan jeda, jeda sebuah waktu yang independen, menarik kita secara sadar/pun tidak dari bergegasnya kita dari carut marut kehidupan. Aha…, mungkin beberapa hari ini nampak jengah dan stuck dengan segala ide-ide, dikarenakan terseringnya diri ini berjibaku dengan segala rutinitas yang nir tantangan dan kejutan-kejutan dari kerikil-kerikil tajam kehidupan. Nah, inilah kembalinya sang waktu jeda, kembali muncul setelah perjalanan panjangnya melintasi lompatan waktu yang sporadis dan jauh dari hingar bingar. Mungkin akan leluasa bila hari-hari kedepan mendekati puasa, dengan bermandikan embun dan dinginnya puncak gunung dan mengecup sang puteri kerajaan para dewa, edelweis. Sebuah kembang yang sama dengan bunga eglantine (bunga empat musim), ia adalah sebuah pengejawantahan sederhana atas ketulusan, karena Edelweis tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem, sehingga seolah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakan. Bunga ini juga mengandung arti sebagai lambang perjuangan, karena bunga ini tumbuh ditempat yang tandus, dingin, miskin unsur hara dan untuk mendapatkannya harus bersusah payah mendaki gunung. Ahhh…., indah sekali kawan untuk bisa megecup sang edelweis dengan segala rasa dan kelelahan yang tiada.

Aha…, itu adalah sebuah momentum independen yang mewah untuk sebuah jeda waktu diantara jutaan tak terhingga keping-keping kehidupan.

Gunung dan celah-celah tebing yang padas, akan senantiasa menjadi sebuah alasan sekaligus alibi yang (lagi-lagi senantiasa fantastis) untuk sebuah kehdiupan (ku).

Dan bukankah, manusia dengan segala apa yang ia punya akan senantiasa mengada untuk  alam semesta, karena toh pada suatu titik kita adalah bagian dari alam semesta, yang menjanjikan segala ibadahnya untuk kesemestaannya.

Aku ingin menjejakkan kakiku yang lusuh diantara getas & dinginnya puncak para dewata, sambil menikmati setiap fajar dengan sebatang rokok, kopi kental dan api unggun yang menyala ramah, aha…; indah sekali.

MOmentum yang serasa berbeda (mungkin), karena kehangatan itu tiba-tiba mengabur bersama asap lelangit yang menyublim bersama setiap debu dan abu yang mengabur dan diam-diam pergi, where’ve you been kid?

Hari ini sudah senja (untuk kesekian kalinya) kawan…Tak ada kata-kata, tak ada yang musti ditinggalkan atau dilupakan, karena kita tidak pernah menanam apa-apa atau memberikan apa-apa. Ah, kenapa hatiku terasa melankolis akhir-akhir ini, segala biru, hitam dan abu-abu menyerbu dengan desing yang maha, dada bergetar dengan air mata yang membeku, dengan segala desahan nafas berat.

Aku bukan malaikat ataupun entitas maha dari segala manusia, aku hanya seorang lelaki sederhana yang ingin menjadi “seorang lelaki” Terimakasih… Terimakasih dan maaf untuk dan atas segala sesuatunya karena sudah memberikanku ketakjuban dan warna-warna yang tak terhingga, hingga kau adalah setiap segala dan segala cahaya, terimaksih. Dan kuakhiri tulisanku ini, disamping hangatnya matahari tenggelam.

Jogja, 16.59 pm July 20th 2012

Comments are closed.