menegadah ke langit dalam lompatan kuantum


menegadah ke langit dalam lompatan kuantum
linkar sepertitiga detik
sosok sang perempuan awan
menjulai dalam rangkaian gugus maha bintang
di pengakhiran dinihari

babak pengimaman terakhir dalam secawan magrib
menggelepar dalam banjir teodormin yang mengelak
heineken putih-pun urung menjadi pembuka
bagi perjamuan terakhir

telah berkembang dan menguncup dalam waktu yang bersamaan
dengan keanggunan yang masih saja
sebagaimana yang dulu dan awal

ah…ritmis yang sendu
dan memerah
semerah saga
semabuk anggur hitam

dan mengehela nafas panjang
……………..

Jogja, 10 April 2012

~ah badai yang sebagaimana dahulu, namun anyir menyisakan desau dan haru~

Comments are closed.