Kejujuran – Honesty


Kejujuran adalah sesuatu yang sangat Mahal bagi orang-orang yang senantiasa rindu akan pencitraan-gengsi-post power syndrom-kekuasaan-uang-dan entah apa lagi. Dan alam semestapun menjawabnya dengan logika gravitasi sebagaimana biasanya, wew…alam semesta memang keren ^_^

Dan orang-orang ‘konyol’ seperti ini, kerapkali mempertontonkan bahwa dirinya adalah orang hebat-serba tahu segalanya-bisa menghandle segala sesuatunya-dan senantiasa menafikan orang lain disekitarnya, hal yang kemdudian ingin (sekali lagi; senantiasa) direpresentasikan dalam kehidupannya adalah sesuatu yang ‘wah’ bagi orang lain. Hingga pada akhirnya, sebagaimana pepatah orang tua pernah mengatakan, bahwa ‘sepandai-pandainya tupai melompat’ pasti ia akan jatuh juga’, nah loe!

Well, 2 (dua) paragraf diatas, beberapa bulan ini tengah terjadi disekelilingku, seakan-akan seperti melihat sebuah film slide demi slide. Dan menjadi sangat ironos, ketika banyak orang-orang yang tulus tengah menjadi korban atas ‘ketololan’ orang yang menganggapnya dirinya hebat dan super itu, walaupun pada realitasnya hanyalah ‘omong kosong & hampa’, wah…sungguh menyedihkan sekali.

Ah, dan fenomena itu kemudian diakhiri dengan anti klimaks yang memuakkkan (sungguh), dia lari sebagaimana seorang pengecut yang lari dari perang, dan bersembunyi entah dimana, menyisakan kekacauan-kekacauan yang datang silih berganti. Dan tidak mudah memang, bagi orang-orang tulus yang telah ditinggalkannya untuk memperbaiki keadaan yang tengah dan akan terjadi, namun alam semestapun tetap memberikan kasih sayangnya, dengan senantiasa memberikan energi baru; sebuah energi untuk bangkit & melawan, sebuah energi untuk menjadikan segala sesuatunya lebih baik lagi.

Sebagaimana teori kekacauan berujar ;

Chaos theory is a field of study in mathematics, with applications in several disciplines including physics, engineering, economics, biology, and philosophy. Chaos theory studies the behavior of dynamical systems that are highly sensitive to initial conditions, an effect which is popularly referred to as the butterfly effect. Small differences in initial conditions (such as those due to rounding errors in numerical computation) yield widely diverging outcomes for chaotic systems, rendering long-term prediction impossible in general.[1] This happens even though these systems are deterministic, meaning that their future behavior is fully determined by their initial conditions, with no random elements involved.[2] In other words, the deterministic nature of these systems does not make them predictable.[3][4] This behavior is known as deterministic chaos, or simply chaos.

Chaotic behavior can be observed in many natural systems, such as weather.[5][6] Explanation of such behavior may be sought through analysis of a chaotic mathematical model, or through analytical techniques such as recurrence plots and Poincaré maps. ”

Dan pada setiap kekacauan, pastilah akan ada antiklimkas atas segala sesuatunya, dan biarkanlah alam semesta menunjukkan sabdanya.

Mimpi, kita semua tahu tentang mimpi, mimpi, yang kita lihat menonton atau merasa selama kita tidur. Banyak mimpi menakutkan banyak dari mereka dipenuhi dengan momen-momen besar, banyak dari mereka dipenuhi dengan cinta atau banyak dari mereka hanya dipenuhi dengan NAFSU. Nafsu yang kita tidak dapat mengendalikan dan bagian inti dari semua manusia. Tetapi sebagai ‘beradab’ orang sering kita lari dari mereka. Kami tidak senang mengungkapkannya depan dari orang lain dan sebagian besar waktu kita mengabaikan mereka. Tetapi ada beberapa yang juga memimpikan sambil berjalan. Mereka mimpi untuk mengubah masa depan, mereka bermimpi tentang kehidupan dan ambisi mereka, mereka bermimpi tentang membunuh seseorang yang mereka cintai yang paling.

Aku sering bermimpi tentang yang terakhir. Dalam mimpi aku membunuh diri hari demi hari dan dari waktu ke waktu. Aku membayangkan cara aku membunuh diriku dan aku tinggal di sebuah negara di mana aku terus-menerus mengambil sendiri melalui penyiksaan. Penyiksaan adalah untuk berperang dengan dirimu sendiri, penyiksaan untuk menjadi seorang tahanan. Ini mimpi menjadi kenyataan dan aku hidup dalam ketakutan. Ketakutan ini membuat aku melakukan sesuatu setiap hari bahwa aku tidak pernah berpikir dari awal. Aku telah kehilangan diriku sendiri dan menyerah ke ketakutan ini, yang ekstrim yang menjerit-jerit, argumen ceroboh.

Aku tahu bahwa aku merasa bahagia ketika aku dapat memuaskan ego mereka, tapi apa tentang diriku sendiri? Aku bahagia dalam melakukannya? Aku telah kehilangan pertempuran yang aku berjuang dengan diriku sendiri. Sebenarnya aku selalu berlari jauh dari apa yang aku inginkan! Dan aku menetap dan berkompromi dengan sesuatu yang lain. Dan karena aku tidak lagi merasa apa-apa tentang gerakan ini, aku hanya tidak bisa mentolerir sendiri.

Tapi aku tidak seperti itu. Lama kembali, aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan mendapatkan segala sesuatu apa pun yang aku inginkan. Mungkin itu akan memakan waktu, tetapi akhirnya akan mendapatkan mereka. Sekarang refleksi aku tertawa pada aku, dia menunjukkan nya kembali pada aku. Dia merasa malu karena aku. Ia membunuh dirinya sendiri perlahan-lahan. Berapa lama akan menjalani hidup seperti ini? Tidak ada jalan keluar? Aku pernah akan mampu melakukan pekerjaan yang aku inginkan? Aku pernah akan mampu menyanyikan lagu yang aku ingin menyanyi? Aku pernah akan mampu menari seperti tidak ada besok? Aku pernah akan bebas dari KEKACAUAN dan KEGILAAN dari dalam?

Aku dapat merasakan segala sesuatu adalah putus di potongan-potongan kecil. Impian yang hancur dan berubah menjadi potongan-potongan kecil. Sementara aku mencoba untuk mengumpulkan dan disisipkan mereka bersama-sama, aku tidak lagi mampu menciptakan mimpi. Itu berubah menjadi beberapa bentuk hitam seluruh di mana aku tidak bisa melihat cahaya. Aku tidak bisa mendapatkan pola dan mengabur pelan-pelan.

 Jogja, awal purnama ke-empat 2012

Comments are closed.