senja di kaki langit jogja


Disini aku;

dengan segala nafas memburu dengan peluh yang berceceran

dalam setiap hirup, dalam setiap degup.

Disini aku;

menanti fajar untuk datang kembali dengan kehangatan mentari yang senantiasa dahsyat dan menghangat.

embun masih terlihat kelelahan

setelah menuntaskan temaran tatkala shubuh penghabisan

hanya ada senjakala, aku dan kehangatan mentari luruh

terasa damai dan hebat,

untuk sebuah dunia yang penuh dengan warna hitam dan sekedar putih

sang bidadari berkelebat bersama malaikat,

nampak sayap-sayapnya terhunus dan membelah lelangit

namun, hawa harum terkesat dalam interval yang sporadis dan berloncatan

dengan ketakjuban yang maha.

aku disini,

menyaksikan semua itu masih dengan nafas diam-diam, dan dada yang bergetar

dalam harmonisasi rasa-akal sehat-kinasih

Persimpangan Jogja, akhir purnama ketiga 2012

2 responses to “senja di kaki langit jogja