untitled


Malam kembali hadir sebagaimana biasannya, tanpa sesuatu yang berbeda. Hanya suara jangkrik dan kodok di pematang sawah dibelakang rumah, dibayangi desau angin sawah yang pelan namun terasa kuat. Jelaga kunang-kunang menjadi tabir dari segala kehidupan dan segala tetamu rasa yang silih berganti hidup dan bertandang. Suatu kali seseorang datang bernama cinta, ia datang pada suatu senja dengan membawa sebotol Heineken dan sebungkus lucky strike, dengan paras memerah dan masih secantik dan seanggun dulu.

Dia kemudian aku persilahkan untuk duduk sembari aku hidangkan nyamikan sebagai teman sepeminuman senja kala itu, ia lantas bertanya padaku “apa kabar denganmu”, sebuah pertanyaan runyam yang kendatipun klise (sekali lagi) menjadi agak aneh untuk kedatangannya kali ini. Aku hanya bisa menjawab, hei..ada apa dengan dirimu?, ia hanya tersenyum menyeringai (tenu saja senyumannya terlihat sexy walaupun ketika diihat dari angel yang tidak pas akan terkesan angker dan horror).

Kamu masih ingat sajak ini?ia kemudian membacakan sebuah epic dari gm yang sudah cukup lama terlupakan dari benakku ;

“Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh.

Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu.

Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.”

(Asmaradana)

Ah…kenapa yang terdengar dikepalaku, adalah bait-bait Asmaradhana,

“Sumimpanga king durniti, dumarusa myang diggama, bubujeng pamurih kalok, kakadang dinadya bala, asanès winiruda, daridya undhuhanipun, pawingking manggih katala.

Kalamun datan sawawi, bisa mengku saniskara, manah rupak nora kamot, teges sanès trah ngawirya, becik lamun rumasa, ngembat wisésa tan saguh, milaur mundur kéwala.”.

Dia lantas meneguk Heineken sambil berujar; aku akan meciptakan harapanku, sebagaimana harapan berlariaan seakan takut pada matahari dan dinginnya rembulan.

Senja kala itu, kembali bergurat dalam sayatan yang tanggung, berdesir dan sunyi, untuk setlah itu berganti dengan harum dupa dan doa-doa lirih dari seutas biji-biji tasbih dari para malaikat dan para dewi.

Jogja, 22 Maret 2012

Comments are closed.