Tentang aku, kau, Ranu Kumbolo dan lembah putih


Ada sesuatu yang menghilang dan pelan-pelan datang dengan tergesa-gesa, dengan segala warna-warninya yang sarat dengan pertanyaan. Hingga tatkala bangun menjelang fajar, pertanyaan itu kembali menukik tajam dalam barisan berderet yang entah. Gemerisik risau jejaring lelangit rasa kembali berpesta pora dengan daging yang tersayat perih namun tandas. Aku, masih mencoba memamham setiap kepingan diri yang terbungkus rapi dalam pakaian embun dan cahaya aurora di pelataran ranu kumbolo.

Malam mendekati fajar, masih saja taburan-taburan bintang gemintang mengiasi langit biru yang cerah diterangi bulan yang hampir purnama, udara dingin yang menusuk tulang membuatku merapat erat pada carrier yang sempat membaur dengan embun. Di dalam lingkaran api unggun dan hangatnya kopi serta sebatang rokok, sambil bercengkrama dengan desau angin-dingin sambil menikmati ucapan fajar ranu kumbolo.

Aku masih merasa pengap dengan diriku, dan kedua telapak tangan ini masih mencoma mengengam cahaya, sebuah cahaya yang selama ini menjadi defender atas cinta yang membebaskan dan keyakinan atas keteduhan yang mengejawantah.

Desir suara parau Casuarina jungjuhniana menyelinap pelan dalam setiap ganglion otakku, pelan dan lembut.

Ranu Kumbolo, my birthday 2012

Still being defender of lights

One response to “Tentang aku, kau, Ranu Kumbolo dan lembah putih