Kirana Disamping Keraton Putih


Mendengarkan lagu ini, teringat ketika bertemu dengan seorang perempuan yang tak ku kenal dengan pakaian penari bedaya ketawang dengan sampur dipundaknya, disamping keraton Solo.Ketika itu menjelang pukul 3 sore, sekembalinya aku dari nyari buku di alun-alun utara (lor) gladag, sambil jalan kaki menyusuri lorong-lorong keraton solo yang bersebelahan dengan kampung tamtaman. Terlihat anggun sekali perempuan itu, pastilah saat itu kuduga dia adalah seorang penari, selain nampak dari dandanan yang dia kenakan, terlihat sinar parasnya yang nampak anggun dan teduh.

Ah, sore yang indah (batinku menyahut spontan), ada yang aneh dengan rasa saat itu; ketika perempuan itu berbalas pandang dengan diriku. Aku hanya bisa tersenyum & lantas menganguk pelan; iapun membalas dengan hal yang serupa, duh…moment ini seperti potongan sebuah film.

Momentum saling pandang itu, bagiku cukup lama, setelah senyum itu membalas, aku (entahlah) semakin mempercepat langkahku. Entahlah, setelah senyuman itu yang aku rasakan adalah perasaan mistis-hangat-hormat, sehingga komposisi dari ketiga rasa itu membuatku semakin mempercepat langkah. namun sambil melangkah beberapa meter, aku (masih sempat-sempatnya) untuk melihat perempuan itu lagi; dan..dia masih disana, masih juga menatapku dengan sebuah ekspresi (seakan-akan pernah mengenalku sebelumnya) yang masih belum aku ketemukan sampai saat ini, apa , maknanya.

Kucoba memahami tempatku berlabuh
Terdampar dikeruhnya satu sisi dunia
Hadir dimuka bumi tak tersaji indah
Kuingin rasakan cinta

Lusuh lalu tercipta mendekap diriku
Hanya usung sahaja kudamba Kirana
Ratapan mulai usang nur yang kumohon
Kuingin rasakan cinta
Manis seperti mereka….

Ayah Bunda tercinta satu yang tersisa
Mengapa kau tiupkan nafasku kedunia
Hidup tak kusesali mungkin kutangisi
Kuingin rasakan cinta

Peluhkupun mengering menanti jawabmu
Takkan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tercipta
Kuingin rasakan cinta

Smakin jauh kumelangkah
Smakin perih jejak langkahku
Harikupun semakin sombong
Meski hidup terus berjalan…terus berjalan

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Hanya wangi terurai yang dapat kucumbu

Ayah Bunda tercinta satu yang tersisa
Mengapa kau tiupkan nafasku kedunia
Hidup tak kusesali mungkin kutangisi
Kuingin rasakan cinta

Manis seperti mereka
Tulus seperti adanya
Suci seperti dirimu
Ingin rasakan cintamu

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Takkan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tersisa
Kuingin rasakan cinta…

Ah,…perempuan itu disamping keraton putih solo, uhmm…momentum yang sexy. Sebulan setelah moment canggih itu, aku menyempatkan diri untuk berjalan kaki lagi dalam waktu yang sama dengan yang terjadi pada moment itu terjadi. Yup, setelah selesai aktifitas berteriak-teriak dengan megaphone dibundaran gladak itulah moment penggulangan yang aku rasa tepat. Dan perempuan itu dengan sampur hijau dan pakaian penari bedhaya, tengah kulihat menari di pelataran sebuah rumah tua bergaya joglo,dia sedang menarikan tarian bedhaya ketawang yang magis dan anggun.

Sungguh agung dan magis saat melihat tariannya, dengan aroma magis dan kembang yang berserakan seakan-akan ia tengah bercengkrama dengan para kembang dan para dewi. Saat itu kota seribu bintang, tengah hujan gerimis dengan beberapa gelegar halilintar.

Flashback sehabis hujan, dipelataran maret 2012

4 responses to “Kirana Disamping Keraton Putih

  1. Tuh wordpressna alamatna diganti kak?contents yang sama namun nama yang berbeda🙂 Dan tentg tulisan ini, masih ada yang kurang deh kak, apaan coba? xixixi….