Malam dibelakang keraton putih


Bintang berjingkat menari lantas terbakar Menepi dalam gugatan lelangit yang maha

Awan putih berarak hitam searak senada Mengecup dalam diam yang menyala Rembulan seketika sayu dan menghambur Dalam bayang metafora alam raya Yang berdentum dan lantas mengalun dalam tembang asmaradana Yang menelanjangi rasa, asa dan kinasih

Ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata. Hanya nada-nada yang resah dan optimis Menjadi penanda bagi sebuah pratanda baru Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi. Lantas ia berkata dengan wajah menatap langit, jiwa ini tandu maka berbaringlah.

Stasiun Tugu, sebelum fajar menghajar dengan dinginnya 2011

4 responses to “Malam dibelakang keraton putih

  1. uhmm….nafas yang masih sama mas. Eniwei, woi…kapan nongolnya?perasaan nggak pernah nongkrong bareng lage mas! ada cewek yang nyariin tuh.

    • Halah…ketemu disini juga. Kemaren dah sempet mampir [lagi sibuk seh] cuman sebentar aja tapi, kamunya juga dicariin nggak ada.