Batas


Ehmm….mencoba untuk review perjalananku beberapa pekan yang lalu. Dari beberapa hal yang sempat termamah dan mengendap dalam ganglion pusaran rasa dan akal, ada hal yang menurutku cukup membuat jengah dan sesak. Yakni, sebuah idealisme (entah dengan atas nama apapun) kerapkali membabibuta dan sporadis, hal ini diperparah dengan bentuk “kegilaan” yang turut muncul mewarnainya.

Sehingga ketika idealisme dalam bentuk ini muncul dalam benak orang-orang yang sering berjibaku dengan kehidupan jalanan ataupun ranah yang ekstrim, beberapa dari mereka cenderung untuk menganggap atau beranggapan bahwa seseorangharus mensupport penuh atas segala ide dan sikap mereka. Ketika kemudian orang-orang disekeliling mereka cenderung untuk menjauh (karena terlalu lelah mendengarkan sikap orang-orang ini, yang cenderung “harus”, cenderung menyepelekan dan mempunyai kecenderungan yang tak kalah hebat lainnya yaitu “ingin dianggap penting”, atau power syndrom).

Dalam beberapa fakta, orang-orang tipe demikian (dengan kecenderungan over idealism namun nirtimbang rasa dan tidak mempunyai logika hati) adalah yang kemudian mempunyai (dianugerahi Tuhan) dengan omongan yang anggun dan menusuk, dan hal ini kerapkali menjadi senjata untuk segala ambisi dan kegilaan mereka (dengan atas nama apapun).

Mereka adalah orang-orang yang tak pernah mampu untuk puasa pada kondisi yang mapan (bisa dibilang mereka adalah orang-orang yang menganggap diri mereka adalah manusia-manusia anti kemapanan) namun yang kemudian muncul dalam segala kata, tingkah serta polah mereka (dengan tidak sadar) adalah mengeksploitasi kelemahan dan kekuatan orang lain untuk mensupport mereka, segala ide serta (lagi-lagi) kegilaan mereka.

Orang-orang dengan tipe ini adalah orang yang bagiku termasuk dalam kelompok orang dengan puber power yang kelewat keterlaluan. Segala omongan besar, konsep melangit, janji-janji absurd, kemampuan akting yang lumayan bagus, mungkin akan sering kali kita temui dalam kehidupan kita. Mungkin kita harus menjaga diri serta hati kita ketika tengah berurusan dengan tipikal orang-orang seperti ini, errich fromm mengatakan dalam bukunya The Art of Love, bahwa tipe seperti ini adalah berkarakter masofik. Mereka senantiasa ingin dicintai, ingin dimengerti, ingin senantiasa diperhatikan dan disupport, namun mereka senantiasa ingin berada dalam posisi “Aman”, sehingga mereka tidak mau bersusah-susah untuk mau memahami orang lain, mengerti orang lain (bisa jadi bagi mereka, ini adalah bentuh usaha yang tidak cukup produktif dan membawa manfaat bagi mereka ).

Orang-orang seperti ini memahami cinta, hati nurani hanya dari sisi yang tipis, karena itu pula mereka dengan segala kehidupannya cenderung sangat gila pujian, gila penghormatan gila pengakuan atas eksistensi mereka, gila loyalitas oleh orang-orang disekeliling mereka, serta gila akan segala hormat (dalam bentuk apapun itu).

Semoga kita terbebas dariorang-orang itu, ketika tidak maka bersiaplah untuk menggunakan hati nurani serta akal sehatmu dan tentu saja keyakinan (atas nama apa yang kau yakini serta dirimu sendiri).

Jogja, senantiasa penuh dengan cinta (walaupun itu diam-diam)

9 responses to “Batas

  1. Kak, terkadang memang kehidupan diwarnai dengan manusia tipe diatas. Tapi, tidak semua manusia begitu juga, masih ada yang memegang erat-erat sesuatu yang agung, yaitu cinta, kasih sayang, hati nurani, akal sehat dan keyakinan. Aku masih berusaha untuk percaya, satu step yang menurutku cukup untuk kembali melangkah. Tul, kan kak…:)

  2. Mimpi adalah Jawaban atas Harapan, Hanya mereka yang punya hati nurani, akal sehat dan tentu saja keyakinan yang murni (bukan terseret-seret) dia akan menjadi manusia besar) manusia yang tidak kehilangan rasa manusianya, rasa Kinasih.Sehingga ketika mimpi itu terraih, ia akan turut membahagiakan sesamanya. Kau tahu? karena Berbagi Adalah Cahaya, kawan.

  3. kak, tulisanmu keknya lagi-lagi berdarah-darah (as you said)😀😀, eh…inget janjimu kan?ayo loe….:)

    • Nah janjiku udah aku tepatin to, walau agak telat, hehe….nggak berdarah-darah kok, cuman….hehei…