Tentang Sebuah Pagi


Menatap tata surya untuk bisa tetap bertahan dan akhirnya menyerahkan jiwa pada kedamaian, keteduhan semesta raya.

………………………………………………………………………………

Pagi ini berbeda dengan hari-hari yang sudah aku lalui. Entah apa yang terjadi dengan sekelilingku, ketika pagi ini aku membuka pintu dan jendela, aku melihat hal-hal disekelilingku tersenyum. Bahkan kelinciku ikut tersenyum, daun, angin, hujan yang menetes dengan efek slow motion, tanah, semut bahkan awan, bahkan langit, bahkan matahari yang lamat-lamat mengintip sembari berusaha menyelimuti diri.

Ada apa gerangan kawan?power compy aku tekan dan dimulailah laju tux menghempas debu prosessor melewati sirkuit mobo yang tadas dan rumit, dan pada akhirnya login. Ketika aku kembali masuk  kedunia virtual ini, hal yang sama juga aku temukan, semuanya tersenyum. Tampilan grafis url yang tadi aku buka, terbang dari huruf kehuruf dan image ke image, dan semuanya berkonfigurasi ulang membentuk sebuah kata, Love You Gie.

Masih bingung, masih takjub,masih takut, campur aduk, ada apa ini (mencoba bertanya pada diri sendiri, walau jawabannya juga absurd: embuh). Masih belum hilang perasaan berwarna-warni itu, aku kembali dikejutkan dengan dering handphone dengan nomer baru yang saat hari yang lalu aku ganti dari yang lama, tertulis dilayar kecil itu; “Fahme Ain”. padahal aku tidak pernah menyimpan nama itu, dan anjriiit nomernyapun dilayar tidak nampak alias unidentified, jiaahhh…apa lagi ini. Dengan hati-hati aku tekan tombol accept dan inilah jawaban dari semua keajaiban pagi ini, suara cewek dengan suara lembut namun tegar berkata dari entah dari dunia mana. “Hi, my Man, hi Gie…happy bithday. Gie I miss enjoying the sunset, gazing at the sky, enjoy a meteor shower above the highest mountain in Java, with you”. Anyway, happy birthday gie…tut…tut…..Aku masih diam tersenyum dan masih bingung dan semuanya..

Sepertinya hari ini (berharap) akan gerimis hingga fajar kembali meredup (lagi)

6 responses to “Tentang Sebuah Pagi

  1. Ehem..Mas…enjang-enjang kok sampun ngunandiko milsafat to…weh..weh…pripun kapan ajeng teng kutho solo?diarep-arep rencang-rencang lhe mas, ajeng diajak wedangan teng hik kadosipun, hehe…

    • Wuiiih…mbaknya sampe juga akhirnya disini. Mboten milsapat mbak, namung ngunandiko kemawon kok, hehe. Tak bales via email njih mbakyu:)

  2. Sepakat dengan yang coment diatas, wakakakkakak…
    Nice post bro, Teman terhebatku untuk dapat berdiri.

    Kapan ke Jakarta?

    • Salam kenal shita…..boleh donk kenalan, ini juga lagi nyari kenalan critanya, guabarak………….