Tentang Kemandegan dan Kebangkitan


Terkadang dalam sebuah kehidupan, kondisi stagnan seringkali datang berganti dan bertubi-tubi datang dan mengajak kita untuk duduk ngobrol sambil menyeduh segelas kopi sembari menatap kebun belakang yang ditumbuhi ilalang yang ranum, uhm.

Begitulah kita, begitulah manusia, ketika rasa penat, jengah menghampiri dengan diam-diam ataupun sporadis, ia pun datang tanpa melihat kita siap ataupun tidak. Hanya keyakinan dan ketangguhan yang kemungkinan bisa kita siapkan, untuk menanti kedatanganya.

Kali inipun ia datang kemali, masih dengan penampilannya yang beberapa waktu lalu ia juga datang berkunjung; lusuh, semrawut dan muram. Lain sekali ketika temanku yang bernama cinta datang kerumah, ia datang (juga tidak berubah) dengan senyum yang menghangat, pelukan yang masih sama juga, membakar. Namun ketika jengah datang, tidak sari-sarinya ia menghampiriku dengan setengah berlari-lari, seakan-akan ia tengah berlarian berebut layang-layang putus dengan anak-anak kampung sebelah, entah ada kabar apa yang dia bawa.

Aku berdiri menunggunya, dan ia aku persilahkan untuk duduk disebuah kursi bambu yang berada persis diujung beranda rumahku, lantas aku suguhkan segelas kopi hangat bersama beberapa batang rokok kesayangannya. Setelah menyeruput kopi hitam, lantas ia menatapku yang duduk disebelahnya sambil memegang rokok yang mengepul dijari kiriku. Tatapannya sebagaimana biasa, seperti mata dewa, acuh dan tajam, lantas ia bertanya padaku “Apa kabarmu kawan?” Baik, kataku; aku menjawabnya sambil menatap dirinya, aku merasa dalam situasi aneh, ketika dia bertanya kepadaku, matanya tidak hanya sangat tajam tapi sembab.

Ada apa ini, kataku dalam hati. Sambil melepaskan sedotan rokoknya, dan keluar asap-asap yang mengantang kelangit-langit beranda, ia kembali berkata kepadaku. “Kawan, kau harus hidup lagi, dan kembali berdiri, itu kalau kau masih ingin berlari menjemput kawan kita Matahari”, iapun berdiri, dan kembali menatapku, “kau harus bagkit, dan bertarung kembali, untuk apa yang kau impikan dan masih kau gengam erat-erat dalam gengaman jiwamu, bediri dan tatplah langit, sebagaimana layaknya seorang ksatria”. Tanpa memberi aku waktu untuk menjawabnya, iapun kembali berujar setengah berlari keluar, “Aku pergi dulu kawan, aku akan datang lagi esok, lusa atau lain hari, jaga dirimu”, begitu ujarnya, meninggalkan aku diam dan bingung. Setelah ia pergi, langit meneteskan hujan yang berlapis-lapis, entah apa dalam benakku, aku lansung keluar kehalaman dan bersenang-sennag dengan hujan, sambil mengepalkan tinjuku kelangit-langit tinggi.

Padahal aku belum juga mengajaknya makan, dan menikmati malam sembari menikmati segelas kopi arang dibelakang stasiun tugu.

Jogja, Awal Desember 2010

7 responses to “Tentang Kemandegan dan Kebangkitan

  1. Pagi yang indah (sangat) ketika browsing dan menemukan tulisanmu kawan:), hangat sekali rasanya. Semuanya adalah tamu yang layak dihormati dan dihargai dengan segala apa yang ada (kita punya) apapun dan siapapun dia, logika yang sangat manis kawan:)

    ………………………….
    May i know u more?
    Warm regard with 4words

  2. Pingback: Tentang Kemandegan dan Kebangkitan (via ararei) « ararei