Tentang Orang-orang Hebat


Orang-orang Hebat “Kethoprak Balekambang Solo”

Catatan perjalanan 2010

…………..

Harga Karcis

Bersama dengan seorang kawan malam itu,  sengaja perjalananku ke solo kali ini adalah untuk datang ke balekambang (taman balekambang berada didekatnya juga). Ada sesuatu yang beda serta ngangeni  (senantiasa merindukan-jawa) untuk kembali ke tempat ini setelah beberapa waktu, belum sempat untuk singgah, barang sesaat.

Setelah lepas  jam 7 malam, aku bersama dengan seorang kawan dengan mengendarai sepeda motor (sekali lagi dengan lone ranger tersayang;) bergegas menuju kethoprak balekambang, tempat ini biasa kita lewati ketika kita akan menuju kea arah terminal tirtonadi Solo (kalau yang biasa naik bus dari luar kota semarang/jogja-Solo, maka setelah melewati perempatan Manahan, tempat ini akan dapat dilihat disebelah kanan jalan. Kalau dari arah terminal tirtonadi akan meunju ke jurusan semarang, jogja, ataupun Jakarta, maka kita juga kan melewatinya, tepat disebelah kiri jalan)

Sampai dihalaman ruang pementasan kethoprak, aku merasakan suasana serta udara tempoat ini nyaris tidak berubah setelah beberapa bulan silam aku menginjakkan kakiku ditempat ini. Tempat ini, Nampak dari luar tidaklah nampak sebagai tempat pementasan kesenian untuk kalangan menengah keatas, lebih tepatnya kethoprak Balekambang lebih identik dengan hiburannnya orang-orang kelas marginal, terpinggir, apalagi proletar, sangat jauh dari pesan borjuis.

Loket tiketnya, masihlah tidak (juga) banyak berubah, berbentuk kotak terbuat dari bahan teriplek, bercat biru nyaris pudar. Dengan harga tiket untuk kelas VIP Rp 3000 dan kelas biasa Rp 2500, maka kita bisa menyaksikan pementasan Kethoprak Balekambang.

Bayangkan  kawan, tiket masuk cuman paling mahal Rp 3000, dan ketika aku masuk ke aula pementasan, kursi banyak sekali disusun bebarapa deret, banyak sekali. Namun; seperti yang aku sedah duga penontonnya mala mini cuman ada aku, temanku, mbokdhe (panggilan untuk menyebut wanita yang lebih tua dari kita[jawa) tirah sang penjual kembang, dipasar kembang solo, serta 2 orang simbah-simbah (nenek), nah genaplah sudah kawan. Malam ini kami melihat kethoprak berlima, kayak power ranger. Aku sebenarnya tidak terlalu kaget dengan jumpah penonton yang sedikit ini, karena ketika beberapa bulan yang lalu ketika aku kesini yang nonton hanya ada 2 orang (sekali lagi bayangkan,kawanku). Jumlah penonton seberapapun, pementasan kethoprak tetap dan akan senantiasa selalu ada (banyangkan, untuk yang kedua kalinya).padahal taruhlah sekarang kita kalkulasi 5 orang dikali 3000, maka mereka cuman dapat 15.000, lha kalo yang nonton cuman 2?

Itulah kataku kawan, orang-orang hebat, padahal mereka juga harus ngasih keluarga mereka makan, nyekolahin, dll. Salah seorang pemain Kethoprak bernama Ibu Sukarni yang membuka jasa penjahit pakaian dirumahnya yang sederhana, beliau mengatakan bahwa kethoprak akan tetap manggung  walaupun Cuma 1 orang saja yang menonton, karena cintalah kata ibu Sukarni, beilau tetap bertahan di Kethoprak Balekambang.

Pertunjukan (sumber gambar dari kompas.com)

Ahhh, ada perasaan (entahlah) malam ini, ketika berpikir hal tersebut. Apalagi miris juga melihat bahwa sekitar 1 km dari Balekambang, berdiri kokoh TBS (Taman Budaya Surakarta) berdekatan dengan ISI (Institut Seni Indonesia, serta UNS) , namun mereka tak pernah manggung disana, kenapa?entahlah, bisa jadi karena kethoprak bukanlah sesuatu yang menjual dari perspektif jagad hiburan, maka yang kemudian sering ditampilkan di TBS adalah semacam teater, seni music, dan seni kontemporer belaka. Seakan-akan kesenian dan kebudayaan mulai terkotak-kotak, dan semakin berjalan dalam dimensi absurditas yang naïf.

Pementasan kethoprak malam ini pun dimulai, setelah tadi sempat membeli teh hangat dan gorengan di wedang hik, maka (kembali) lakon-lakon kehidupan orang-orang hebat, dimulailah. Ternyata yang hangat tidak saja tehnya namun, perasaan malam ini…(sekali lagi, entahlah) teringat lagunya iwan fals.

Suatu Malam, Solo Januari 2010

Comments are closed.