Tentang Bintang Jatuh


Hari ini aku bangun pukul 9 pagi, waktu yang seharusnya udah siang. Sebenarnya udah pagi tadi aku bangun untuk sholat Shubuh dan merasakan betapa dinginnya bersujud kala fajar mulai merekah, satu hal lagi aku tadi pagi juga tidak bias bangun untuk sholat Tahajud…padahal kemarin aja aku bias. Entahlah….yang jelas sih, aku tadi pagi terbangun dengan keadaan masih seperti hari-hari kemarin, nyaris aku tidak bisa berkata-kata, karena tenggorokanku parau dan tercekak, kepalaku pening sekali, sedang tubuhku entah aku rasakan udah tak karuan, oh..ya…tangan kiriku seharusnya aku meminta maaf kepadanya karena aku tidak menyempatkan diri untuk mengobatinya ke Boyolali , sehingga rasa sakit yang harus aku alami kian terasa sekali.

 

Memang beberapa hari ini kondisiku tengah mengalami penurunan stamina, nggak biasa-biasanya juga aku ngedrop kek gini, btw sudahlah tengah mengajariku many thing that’s so exciting, lagian mungkin juga aku kebanyakan dosa juga, yach…take it easy ge…

Apakah hipotesis itu memang benar-benar nyata adanya,; yaitu kebanyakan merokok…entahlah kalo dihuitung sudah berpuluh-puluh aku habiskan selama aku disini. Timbul inginku untuk mengakhirinya, dengan melakukan therapy sendiri untuk problem ini, aku berusaha sekuat tenaga; hanya Bismillah yang sekarang ada dalam hati kecilku, tak lebih.

Sudah beberapa hari ini aku tidak merebahkan diri sambil menatap langit malam, entahlah..juga knapa jadi nggak sempat, akh…mungkin ntar malam… jadi sudah beberapa hari ini aku tidak melihat satu keajaiban malam, yaitu bintang jatuh. Ehmmm….ada suatu cerita yang masih aku simpan tentang bintang jatuh, yang jelas nggak animis banget…tuh. Aku piker kebanyakan kisah hidupku, layaknya seperti bintang jatuh itu, ya. Dia datang tanpa siapapun menduganya akan datang, dengan ekor cahayanya dia membuat keajaiban kecil pada setiap hati manusia yang melihatnya, yang pasti dengan beraneka ragam interpretasi yang manusia cerdas dapati. Akhirnya bintang jatuh itu, setelah membuat keajaiban kecil pada tiap manusia dia kembali melesat sangat cepat…dan jatuh entah dimana, ke suatu tempat yang tidak terketahui.

 

Well…well….that’s it…aku seperti itu juga……datang kedalam kehidupan seseorang yang baru saja dikenal ataupun terasa asing aku bagi orang lain, masuk kedalamnya…memberikan warna dan makna, namun setelah itu melesat pergi……bagiku exsisrensi adalah tidak exsistence, exsistensi yang existence adalah kematian. Loh……mengerikan banget, iya…eit…eit…jangan beranggapan bahwa aku seorang fatalis ataupun Nihilis…tapi kalo mau mengasosiasikan aku dengan kata itu, never mind juga…whatever. Yang jelas…seperti itulah dan ketika dirimu menjadi seperti aku, maka jiwaku akan senantiasa berwarna…dipenuhi dengan warna-warna….yang tidak sekedar hitam, putih, ataupun greyscale…..tertarik, kayaknya enggak ya ? . :P…..that’s fine, kemudian jiwamu seakan-akan terbakar untuk setiap detiknya ketika melihat segala sesuatu yang memaksanakan, baik itu penindasan….penjajahan dalam bentuk apapun, keterpurukan, ketidakadilan, lalu jiwamu juga akan mengalami kegelisahan, keresahan yang tak bersyarat, kegelisahan dan keresahan yang penuh dengan kesejatian, dan hanya bisa dijawab dengan sebuah petualangan ke berbagai tempat, ke berbagai jiwa, keberbagai hati, keberbagai sudut, menembus dan melantakkan dimensi, waktu dan ruang. Jiwa itu akan senantiasa mencari sebuah esensi dari detik ke menitnya dari menit ke jamnya; melelahkan; bagiku itu adalah sebuah pilihan the way of live, tidak ada yang patut untuk menempatkan sebuah justifikasi argumen kelelahan dan keletihan untuk hal ini.

 

Warna yang akhirnya ada padamu adalah warna-warna perlawanan, warna-warna pemberontakan…warna-warna yang senantiasa jengah oleh suatu kemandegan…yang senantiasa bertanya…dan bergerak, semua adalah ketidakpastian..yang pasti adalah sebuah pergerakan untuk sebuah ujud anti kemandegan atau kemapanan. Semakin…muak ya?? ;D..;D….that’s fine too…..tapi sekali lagi inilah hidup, karena hidup hanya sekali dan kematian adalah kemustiaan, maka menjadi bintang jatuh-petualang adalah sebuah pilihan hidup juga; ada yang memilih untuk menjadi matahari, ada yang memilih menjadi bintang bersinar setiap malamnya, ada yang memilih menjadi awan, ada juga hujan, ada juga petir ataupun angkasa, bumi demikian juga, terserah kau mau memilih yang mana? tentu saja semua itu harus dengan menggunakan hati nurani dan akal sehat; hati nurani dan akal sehat dan tentu saja transendesi; sepakat? Terserahlah…….

 

Kesunyiaan adalah rumahku, sebuah kata-kata yang pernah diucapkan nabi Zaratrusthra; Nietzche. Kata-kata itu telah merasuk kedalam hidupku jauh sebelum aku melumat habis literatur-literatur dari ‘filsuf yang gila’ banyak dari filsuf satu generasi dan setelahnya yang menyebut dia demikian, hipotesanya adalah filsuf yang gila maka orang yang membaca literatur-literaturnya adalah seorang yang tentu saja…..baiklah kalau begitu. Dan memang benar, kesunyiaan, kesendirian keterasingan, telah menjadi pewarnaan yang ekspresif untuk kehidupanku. Bahagiakah aku dengan semua ini? :P…:D….untuk sebuah pilihan hidup, kenapa tidak ?! Karena hidup tidak memberikan apa-apa….atau…persetan

 

Ditemani nyanyian jiwanya Kantata;

Bawa kecahayaMu, Negeri ar Rahman-ar Rahiem, negeri para cinta dan kinasih, .

Klaten, Senin 7 Oktober 2010 Pkl 09:50 AM

Comments are closed.