Sebuah Pilihan, Tentang Keikhlasan


Kawan;

Jika kau disuruh memilih antara memilih dipertemukan dengan seseorang lewat sebuah takdir, dan takdir lah yang mempertemukan atau kau akan memilih biarlah semuanya berjalan apa adanya, mengalir sebagai sebuah bentuk dialektika alam semesta dan membiarkan menuntun langkah kaki menuju takdirmu, lantas kau akan memilih yang mana kawan?!

Sebenarnya dua pilihan itu bersubstansi sama, mempunyai filosofi yang tidak jauh bedanya. Semuanya berbicara atas nama keikhlasan dan ketika kita memilih salah satunya, muara kesemuanya adalah sebuah keikhlasan. Hingga mungkin kita sama-sama sepakat dalam satu hal, bahwasannya biarlah waktu yang akan menyodorkan sebuah bukti, bila sebuah keikhlasan memang harus diujikan. Akan menjadi problem tersendiri bila pilihan itu harus dibenturkan dengan sebuah perasaan yang terproses selama dalam perjalanan hidup seorang anak manusia dan akhirnya ketika sebuah takdir memberikan momentumnya, yang terjadi maka terjadilah, antitesa dari semua itu adalah simulacrum rasa.

Orang yang tepat, waktu yang tepat, tidak kemudian lantas menjadi saat tepat secara eksistensial, untuk sebuah perasaan. Kembali semuanya dalam ruang relativitas, yup…kembali keruang itu lagi. Bahwa apa yang kita rasakan , apa yang kita impikan, cenderung berakibat mengalami distorsi pada apa yang orang lain cerna.

Amplifikasi; ya…istilah yang tepat untuk mengatakan kondisi ini, secara khayal dapat dikatakan bahwa sebuah garis vertical akan mengalami perbedaan dan pembedaan semiotika, gejala-gejala makna yang absurd, apalagi bila garis itu akan dibenturkan secara halus kedalam sebuah bak yang beisi air murni, yang terlihat adalah pembauran optik, hingga ketika orang lain melihatnya garis itu tidak lagi vertical tapi berbelok.

Bila pembahasan atas pembacaan ini berkenaan dengan sesuatu yang halus, sesuatu yang manusiawi, sesuatu yang menggerakkkan dan mematikan sebuah jiwa seorang manusia. Maka akan menjadi problem yang sarat makna juga; dengan bahasa sederhana dapat dikatakan bahwasannya, sebuah keikhlasan yang kita susun dari puzzle berserakan kehidupan kita untuk dititahkan bagi segala sesuatu, akan mengalami pergeseran makna secara substansial bila dicerna secara mentah-mentah (meniadakan memamah remah-remah filosofi dari sebuah nomenklatur sebuah rasa) kepada orang lain.

Maka tatkala hal itu terjadi kepadamu, maka merelakan sesuatu yang kita anggap esensial dan perasaan tak bersyarat, dianggap dan dimaknai oleh orang lain hanya sekedar polutan-polutan tanpa sebuah lipatan-lipatan keteduhan, ya…terima aja, lagipula keikhlasan adalah bukan eksistensial bukan, namun substansial nomaden?

Keikhlasan hanya , yang tahu;l tanpa kemudian kita memaksakannya kepada orang lain agar mengiyakannya. Lagipula, keikhlasan adalah sebuah proses bukan sebuah hasil..maka biarkanlah waktu…yang kemudian akan menyodorkan sebuah bukti, bila kemudian hal itu adalah demikian adanya, sebagai sebuah dialektika alam semesta yang merupakan bagian dari entitas ada, biarlah dia bersabda, sekali lagi dengan bahasanya sendiri.

Seperti kemarin, aku disini sendiri……sambil menyatukan bagian dari jiwaku yang tengah berserakan, menjadi sebuah puzzle yang utuh; yaitu aku.

Jiwa yang soliter…

Klaten, Senin 7 Agustus 2010 Pkl 10:38 AM

Comments are closed.