Catatan Perjalanan Pantai Tebing-Putih


Ini cerita awal dan akhir perjalananku bersama seorang teman

31 januari 2010, pukul 09.00-10.33 jogja besar Kami tengah mempersiapkan tas carier yang akan kami isi dengan 2 sb, tenda doom, kamera lapangan, serta logistic secukupnya, dan tentu saja beberapa secondary tools buat jaga-jaga. Namun ada yang kurang yaitu HT, karena dilokasi tujuan nggak ada sinyal selluler.

31 Januari 2010, pukul 10.45 jogja besar Sedang checking akhir (peta lokasi beserta jalur-jalur alternatifnya, soalnya ini baru pertama kali pergi ke lokasi). Checking logistic, navigasi sederhana, alat untuk outdoor, uhmm…kay, nampaknya dah kelar semua. Siap..dari titik ini kami berangkat berdua.

31 Januari pukul 11.07 jogja besar Dari depan rumah yang kebetulan deket ma jalan penghubung antar kabupaten, banyak truk ataupun mobil sejenis zebra, yang sering lewat, yup…tinggal mencari truk atau pickup nirmuatan. Yah, kami memutuskan untuk nebeng truk aja, lagipula perjalanan menuju kesana terlalu indah untuk dilewatkan kalau menggunakan moda trasportasi yang laen, yah selain pertimbangan efisiensi dan efektifitas  hehe..

31 Januari pukul 12.34 jogja besar Akhirnya baru dapat truk angkutan, uhmm…lebih tepatnya truk rumput (truk rumput ini biasanya,mengangkut rumput gajah, maupun batang tanaman jagung, dari  kebun-kebun petani maupun yang didapatkan hutan oleh para petani di wilayah gunung kidul untuk pakan ternak, khususnya sapi. Kami tengah berada di bak truk, dengan muatan yang sudah tinggal tersisa daun-daunnya saja. Dari bak truk ini kami kayak anak kecil saja, bisa nunggging, ngangkang, cengar-cengir sendiri sambil menikmati suasana selama perjalanan. Beruntung juga, karena truk ini mempunyai tujuan yang sama dengan kami, desa Nglaos, dukuh wiroso, gunung kidul. Desa ini merupakan titik awal tujuan kami, karena dari desa ini menurut informasi yang kami peroleh (salah satu teman kenalan dari desa tersebut) menjadi titik awal kami untuk menuju kebeberapa lokasi yang menakjubkan (aku bilang dengan redaksi ini, karena lokasi ini hanya diambah oleh para pencari kayu, pemancing lobster, dan petani setempat, antara lain bukit tebing Kesirat-sumber air tawar pantai nGligak-pantai pasir putih wohkudu, untuk tujuan terakhir ini letaknya di antara dua tebing, jadi agak sukar juga bila baru sekali kesana :)Tapi,kay akan kita coba..lets see.

31 Januari pukul 14.05 Desa nGlaos-Gunung Kidul Kami istirahat disini, tepatnya di warung pak paedi, disini selain ngopi dan ngbrol-ngorol kesana-kemari tentang desa ini serta tentu saja tujuan yang hendak kami capai kai juga disuguhi buah sirsak, hehe…lumayan juga betambah segar, karena udara disini lagi sedang panas-panasnya. Setelah membeli air minum untuk bekal sebanyak satu jerigen ukuran +- 3 liter, kami melanjutkan perjalanan kembali (ohya, di desaini air minum merupakan barang yang mahal juga, karena untuk kebutuhan rumah tangga, pra warga disini harus membeli air minum 250ribu untuk tiap 1 drum-nya, ini harus dibagi untuk keperluan mandi, minum ternak (banyak yang beternak sapi, kandang-kandang sapi ditempatkan jauh dari pemukiman warga, dalam perjalanan nanti kita kan menemukan di kiri-kanan jalan) serta kebutuhan minum warga sendiri.

31 Januari pukul 14.05 dalam perjalanan Lokasi yang akan kami tuju pertama adalah bukit tebing Kesirat (lokasi ini digunakan untuk memancing udang lobster oleh penduduk setempat) lokasi ini juga berdekatan dengan (jarak tempuh sekitar 4km jarak darat) sumber air tawar pantai nGligak (ini adalah semacam oase kecil berbentuk kayak kedung (lingkaran dengan diameter +- 2-3 meteran) di wilayah pantai, menurut cerita penduduk ketika masa musim kering tiba dan merek atidak mempunyai cukup uang untuk membeli air m,inum maka mereka akan mengambil air minum dari sini, namun terkadang tidak semudah itu juga, Karena ketika air laut pasang, oase ini tidak terlihat alias tergenang oleh air laut namun ketika surut dengan sendirinya air tawar inni akan naik keatas, sehingga bisa diambil oleh penduduk setempat. Sedangkan pantai pasir putih wohkudu sebenarnya ada disamping pantai tebing kesirat (kalau mau lewat tebing dan jurang dengan kedalaman sekitar 150-200m, perjalanan kepantai ini akan jauh lebih cepat dengan beberapa catatan teknis tentunya  ;D

Capek dan haus ;D, dikiri-kanan jalan banyak tumbuh pohon kelapa (sebenarnya sempat juga ditawari penduduk untuk minum air kelapa, tapi kami jadi sungkan sendiri untuk menerima tawarn yang menggiurkan tadi). Dalam perjalanan menuju lokasi yang menempuh jarak sekitar 3km jarak darat, kami sering berpapasan dengan para ibu-ibu yang memanggul rumput serta bapak-bapak yang sudah sepuh (tua) memanggul kayu kering untuk dijadikan kayu bakar ataupun dijual kembali dipasar desa (ketika berpapasan maka lebih baik bila mengucapkan salam, orang-orang didesa ini sangat suka bila disapa apalagi bila yangmenyapa mereka kenali bukan orang asal desa ini alaias orang asing, ngajeni (menghormati dalam bahasa jawanya). Mendekati 2.5 km sebelum lokasi tujuan, kami diajak ngobrol oleh ibu dan bapak yang tengah asik menyiangi rumput-rumput di sawah tadah hujan mereka, sawah sekaligus disamping kiri-kananya areal perkebunan jagung. Kami ditanyakan tempat tujuan kami, serta berapa orang, ibu itu juga dengan ramahnya menawarkan kacang tanah yang habis dipanen untuk bekal tambahan serta teh didalam termos yangtentu saja hangat.

31 Januari pukul 16.29 Kami pada akhirnya tiba juga di pantai tebing kesirat…ahh..thanks God…karya Tuhan yang sekali lagi menakjubkan. Kami berdiri menatap tebing-tebing kesirat, ada aroma air laut yang terhirup, ada sambutan angin pantai yang mengusap wajah kami ;D romatis memang….

31 Januari pukul 16.36

Sholat dan dilanjutkan orientasi medan

31 Januari pukul 17.07

Mendirikan tenda

31 Januari pukul 17.37 Matahari tenggelam dicelah horizon kesirat, memerah saga…bersamaan dengan itu, datang dari arah puncak bukit seorang anak usia sekitar 12tahun bersama dengan ayahnya tengah memanggul alat pancing dibahunya serta tangan kananya memegang tas plastic hitam (nampaknya hasil mincing,nih0, sempat ngobrol sebentar, lantas mereka turun melanjutkan perjalanan pulang. Seorang anak usia 12-an tahun diajak memancing di celah-celah tebing kesirat, uhm…keren, ditempa ketangguhan sejak dini ;D

31 Januari pukul 19.00

Bikin api unggun, ngopi dan makan mie rebus..

31 Januari pukul 22.16

Sorot lampu kapal ditengah lautan nampak kecil sekali terlihat dari hitamnya malam kesirat, seesekali kapal itu sorotnya berkedip-kedip.

31 Januari pukul 23.57

Angin datang sangat kencang ditambah lagi hujan, tenda doom seakan-akan terangkat dan lampu badai bergoyang-goyang hampir jatuh.

31 Januari pukul 00.09

Ada hallo di langit-langit kesirat…ahh, cantik sekali. (antiklimaks yang sempurna,kataku)

1 Februari pukul 05.03

Melangkah kepucak bukit kesirat, ada sesuatu yang menunggu disana…

1 Februari pukul 05.34 Matahari muncul dari batas kaki langit laut selatan…diiringi dayang-dayang awan cumulus, uhmm…sexy sekali.

1 Februari pukul 05.49 Uhm..kami pikir saatnya telapak tangan ini merasakan tebing-tebing kesirat

1 Februari pukul 08.27 Ngopi dan makan mie lagi ;D, sembari membiarkan tubuh menerima hangat sinar mentari pagi

1 Februari pukul 09.13 Membersihkan sampah dan memasukkan keatas, sekalian packing tenda dan prepare untuk melanjutkan misi  ;D

1 Februari pukul 09.58 Packing selesai dan melanjutkan perjalanan menuju pantai wohkudu

1 Februari pukul 10.20 Perjalanan menuju kepantai ini kembali menanjak lagi, untuk menuju kelokasi ni agak sukar juga Karena tidak ada tulisan maupun tanda khas. Hanya ada celah pada pagar dari anyaman besi yang sudah berkarat (dari informasi petani yang kami temui, inilah jalan masuk menuju pantai wohkudu). Jalan menuju kepantai hampir sama seperti halnya jalan ketika kita turun dari puncak semeru, melewati lorong dengan rimbun tumbuhan khas hutan, gubuk petani, dan sawah tadah hujan yang baru saja ditanami. Kami sempat hamper tersesat ketika ditengah perjalanan, tidak ada landmark yang menandakan jalan tembus ke pantai. Dengan sedikit keberuntungan pula serta feeling;) akhirnya kami menemukan pantai wohkudu setelah sebelumnya menembus rerumputan yang setinggi orang dewasa. Yap, akhirnya…suara ombak air laut  semakin jernih terasa menderu. Akhirnya..(kataku lagi..)

1 Februari pukul 11.36 Sesaat kami terpaku (halah…) dengan bentangan alam tebingnya dan tentu saja pasir putihnya dan lantas berlarian kayak anak kecil sambil terhuyung-huyung membaca tas carier..hehe..
Sesekali kami melihat bekas popmie berada disitu (g banyak juga memang) tanda bahwa pernah ada orang masuk kesini dan g cinta kebersihan pula. Sepi, sepi sekali disini..nampak bahagian juga disamput suara debur ombak yang menubruk bebatuan cadas dibibir pantai, dari sini menimbulkan melodi yang ritmis, persis Ludwig Van Beethoven dengan Fur elise-nya.

1 Februari pukul 11.45 Kami tiduran di celah-celah tebing sambil menikmati suara ombak dan saura camar laut yang sesekali mampir (celah tebing ini dihasilkan oleh terpaan ombak yang bertubi-tubi dan sangat lama,makanya terbentuk celah), sesekali air menetes turun dari dinding-dinding tebing, pelan-pelan…uhm…ritmis sekali ketika melihat air menetes jatuh, dan berhamburan.

1 Februari pukul 13.30 Kami melangkah pergi meninggalkan pantai ini, sesekali dalam perjalanan keatas, kami masih melihat kebelakang, berharap suatu saat nanti pantai ini tidak banyak orang yang jahil datang kesini, dan dengan diam-diam kami berbisik pada angin wohkudu….aku akan kembali. Hehe…..

Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Lucky (Jason Mraz Feat. Colbie Caillat)

1 Februari pukul 15.23 Setelah sampai di desa nGlaos,kami berjalan kaki lagi untuk menunggu truk lewat di jalan besar desa (biasanya,menurut informasi penduduk yang kami dapat, kalau sore asalkan tidak melebihi pukul 17.00, beberapa truk dengan muatan kayu, sayur akan lewat.

1 Februari pukul 16.47 Akhirnya, kami dapat tumpangan pickup juga.


Terimakasih untuk;
Bapak-ibu petani desa nGlaos
Kang tono, atas infonya
Pak samijan dan pak adi atas tumpangan truknya dan pickupnya Smile

Ps.
– Pantai nGligak, sementara ini belum dapat kami temukan, entah nanti. ???
– Bila dilanjutkan kembali perjalanan ini, maka akan banyak hal-hal yang menarik untuk ditemui, hanya saja perlu waktu dan momentum yang tepat untuk melanjutkan kembali dan tentu saja kesiapan diri. Sorry kalau banyak salah ketik dan entah apa lagi keanehan yang ditemui dalam thread ini, thanks for all.

Comments are closed.