Backpacker Indonesia, The Defender?


Siang kawan-kawan semua…

Sorry sebelumnya jika thread ini muncul berawal dari sebuah hasil kontemplasi sederhana, tentang backpacker. Sehingga muncul pertanyaan yang (bagiku) meresahkan (sekali lagi bagiku, entah dengan kawan-kawan)
Thread ini tidak bertendensi politis atau pemakzulan ,ataupun berlagak sok:))
Just wanna share inside my brainfeel aja, kay.

Aktivitas Backpacking selama ini (kalau g salah sih) banyak diperkenalkan oleh orang-orang dari negeri sono, walaupun dari backpacking secara kuno adalah telah diperkenalkan oleh nenek moyang kita, yaitu aktivitas nomaden (bener yah? So, kita warga negara merah putih ini dengan banyaknya multikultural, iklim yang beda, dan tentu saja latar budaya serta realitas yang berbeda,pola pikir yang beda, apakah dengan sendirinya juga akan membedakan kita dengan backpacker serta aktivitasnya
dengan teman-teman di negeri sono (hehe…barat maksudnya).

Sebenarnya mazhab (sorry belum menemukan redaksi yang pas buat mazhab ;D backpacker Indonesia itu gimana sih?atau dalam kalimat yang lain, perlu g sih kita ribet memikirkan hal-hal substansif-filosofis (paradigma, visi dan nilai-nilai backpacker timur? sekali lagi perlu nggak sih?

Dalam artian sederhana, aku sering mempertanyakan (tentu saja, cuman pada diriku)
apa impact yang kemudian orang lain disekitar kita dapatkan dari aktivitas kita (backpacking)
atau aktivitas ini (hanya) sekedar have fun aja, tanpa sebuah nilai yang kemudian kita bawa
dan bagi (share value)?.

Ahh, ini mungkin sekedar dealektika sederhana saja kawan-kawan yang muncul hanya dari seorang yang biasa aja. Cuman agak horror aja mbayangin, negeri ini akan banyak orang-orang melakukan aktivitas backpacking namun disisi yang lain negeri ini dengan apa yang ada didalamnya semakin hancur tanpa adanya the defender.


Kay, that’s it….Thanks for before and after Semoga ada manfaatnya, @ the end, sorry kalo banyak salah (salah ketik, kata-kata kurang ajar,menyingung dll) Have a nice day, kawan-kawan….. ;D

PS.
Berharap diam-diam, bisa menjadi diskusi kecil (sederhana) kita untuk Indonesia (halah… ;D

Aku terkadang berpikir, mungkin akan lebih baik bila kemudian aktivitas backpacking akan memunculkan dampak entah langsung ato nggak terhadap orang lain (bukannya merasa sok peduli dan care), klo tadi menurutmu mendokumentasikan (hehe…sama dengan membekukan realitas g yah? ;D, dan kemudian di share dengan orang lain, aku pikir akan lebih baik ketika foto itu bisa bercerita tentang realitas yang tidak sekedar apa yang bisa dilihat, foto features bisa jadi akan bisa mewakili apa yang aku katakan tentang dokumentasi foto ataupun video. Sehingga (harapan terdalamku ;D ) adalah dengan sendirinya backpacker Indonesia akan memberikan informasi tentang kondisi real yang sedang terjadi, so…kita tidak sekedar menikmati apa yang disuguhkan alam semesta ;D, tapi kita juga ikut menjaganya (sekecil apapun apa yang bis akita berikan). Kay, have a nice day guys…

mendokumentasikan sama dengan membekukan realitas g yah?? mhm, kalo menurutku sih ga terlalu kesitu juga arahnya.. justru dengan kita mendokumentasikannya kita sudah ada pada realitas itu sendiri, kita sudah membuktikan realitas yang ada.

secara tidak langsung informasi tersebut akan merangkul minat para backpacker untuk bisa mengunjungi.. aku setuju dalam hal menjaga dan melestarikan. emang seharusnya tujuan utama kita adalah menjaga alam semesta ini

Atjeh Loen Sayang

Aku lagi kangen, dengan suasana suatu tempat di Aceh, daerah itu namanya Lamno (Kawasan pesisir pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) selama ini populer dengan gadis-gadis cantik bermata biru, berkulit putih, dan berambut pirang. Mereka adalah keturunan Portugis yang sudah menetap beratus-ratus tahun di beberapa desa di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya.

Jarak ke Lamno sebenarnya lebih dekat dari Banda Aceh (60 kilometer) daripada lewat Meulaboh (150 kilometer). kalau dulu aku kesana naik motor satria (pinjeman temen;) perjalanan kesana memang jauh namun tidak kalah hebatnya dengan  suasana (landscap pegunungan, perbukitan, laut, dan tentu saja pantai serta jalan yang berliku-liku hampir mirip dengan topologi jalan (dari arah Solo) menuju Pacitan jawa Timur dan Gunung Kidul kearah pantainya.

Membedakan warga keturunan dengan warga pribumi relatif tidak sulit. Warna kulit dan mata mereka berbeda. Tubuh mereka juga tinggi seperti orang Eropa. Yang menarik, meski berparas cantik, kebanyakan di antara mereka agak pemalu jika bertemu dengan orang luar. Mereka juga menolak difoto. Karena sifat pemalu itu, mereka terkesan eksklusif. Namun bila sudah mengenal kita lebih dekat, maka mereka adalah bagaikan saudara.

Cuman ingin mengatakan, aku rindu dengan gadis kecil bermata biru  dengan jilbab putih yang berkelebat sembari tangannya kokoh memeluk Qur’an kecil didadanya, sesekali tangan kirinya menyeka air mata dipipinya.

Regards with my sincerely smile Smile

Comments are closed.