Atjeh Loen Sayang


Aku lagi kangen, dengan suasana suatu tempat di Aceh, daerah itu namanya Lamno (Kawasan pesisir pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) selama ini populer dengan gadis-gadis cantik bermata biru, berkulit putih, dan berambut pirang. Mereka adalah keturunan Portugis yang sudah menetap beratus-ratus tahun di beberapa desa di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya.

Jarak ke Lamno sebenarnya lebih dekat dari Banda Aceh (60 kilometer) daripada lewat Meulaboh (150 kilometer). kalau dulu aku kesana naik motor satria (pinjeman temen;) perjalanan kesana memang jauh namun tidak kalah hebatnya dengan  suasana (landscap pegunungan, perbukitan, laut, dan tentu saja pantai serta jalan yang berliku-liku hampir mirip dengan topologi jalan (dari arah Solo) menuju Pacitan jawa Timur dan Gunung Kidul kearah pantainya.

Membedakan warga keturunan dengan warga pribumi relatif tidak sulit. Warna kulit dan mata mereka berbeda. Tubuh mereka juga tinggi seperti orang Eropa. Yang menarik, meski berparas cantik, kebanyakan di antara mereka agak pemalu jika bertemu dengan orang luar. Mereka juga menolak difoto. Karena sifat pemalu itu, mereka terkesan eksklusif. Namun bila sudah mengenal kita lebih dekat, maka mereka adalah bagaikan saudara.

Cuman ingin mengatakan, aku rindu dengan gadis kecil bermata biru  dengan jilbab putih yang berkelebat sembari tangannya kokoh memeluk Qur’an kecil didadanya, sesekali tangan kirinya menyeka air mata dipipinya.

Regards with my sincerely smile Smile

Comments are closed.