Aku, Puteri Kecil, Eksistensi dan Cinta…


Senjakala, awan berderap melaju menuju batas yang tidak dapat didevinisikan lagi. Iring-iringan awan yang berbentuk cawan cumulus, seakan-akan siap untuk menyergap sang hening, yang tengah bertapa pada tetilasan senja Kalahari.

Waktu datang tanpa sebab yang pasti, ia datang dan mengajak ku bercakap-cakap…tentang sebuh kehidupan, dia berceloteh tentang apa saja, tentang seorang anak perempuan kecil dengan sekotak korek api, dalam dingin malam sebuah kota yang asing. Sang puteri kecil urung untuk pulang ke rumahnya, Karena tak satupun batang korek api ia berhasil jual dan berganti dengan beberapa koin uang beberap sen, ia sangat takut dipukul dengan gagang sapu lantai oleh bibinya.

Maka ia terduduk di serambi sebuah toko yang sudah tutup beberapa jam yang lalu. Tak biasanya kota itu, sore menjelang senja, turun hujan teramat deras, saking derasnya hingga puteri kecil yang tak memakai piyama kesayanganya. Terburu bergegas menuju kota, untuk menjual korek api ia lantas melupakan piyama kesayanganya, piyama itu satu-satunya benda kesayanganya, pemberian neneknya yang telah meninggal 4 (empat) tahun silam. Puteri kecil itu, memang sendirian ketika ia menangis untuk kali pertama kedunia ini, tak diketahui ayah-ibunya dimana, ia ditemukan oleh seorang nenek tua, yang kemudian manjadi neneknya, sekaligus ibu serta ayahnya, kebahagiaan puteri itu akhirnya harus berakhir ketika sang nenek yang baik hati itu meninggal dunia disebabkan karena sakit kanker hati. Maka satu-satunya yang menjadi walinya adalah bibi itu, salah seorang famili dari nenek puteri kecil itu. Didalam keluarga baru itu, sang puterikecil disuruh untuk menjual kotak yang berisi berpuluh batang korek api, harga satu batang korek api kala itu 2 sen, ia disuruh menjualnya di kota, sekitar 3 kilometer dari rumah bibi itu. Tapi dasar nasib tidak begitu berpihak kepadanya hari itu, ketika tak satupun batang korek api ia jual, maka ia pun takut pulang dan memilih untuk duduk sampai pagi di emperan sebuah toko.

Malam semakin melangkah ke setiap sudut-sudut kota, yang pada akhirnya menjadikan kota itu seakan-akan mati dengan sendirinya. Sang puteri kecil duduk dan merangkul kedua kakinya yang ia lipat sambil, menatap ujung jalan dengan tetes hujan yang berderas tak klah riuhnya, begitu ramainya dia pikir. Dia melihat air hujan itu jatuh perlahan-lahan seperti waktu yang berhenti dalam kehidupannya, waktu ketika ia tersenyum manja dengan nenek kesayanganya, waktu ketika ia sakit, ia disuapi semangkuk bubur ayam oleh neneknya dengan setiap suapan yang penuh dengan rasa cinta, pelukan yang hangat. Namun akhirnya air hujan itu menetes dan membentur aspal jalan raya, dan membuyarkan lamunan seorang gadis kecil malam itu.

Untuk menahan rasa dingin yang membalut tubuhnya kemudian dia mencoba menyalakan 1 batang krek api dari 10 batang yang ada. Pada satu batang yang pertama, ia membayangkan sepiring nasi dengan potongan ikan sapi diatasnya, serta ditaburi margarin yang diraut rapi, segelas teh hangat disampingnya, dimelihat disekelilingnya banyak pelayan-pelayan bergantian membawa buah-buahan ranum yang bau dipetik dari perkebunan, anggur, strabery , jeruk, dll. Serta ayam bakar yang dibumbui dengan saus manis nan hangat, pelayan-pelayan itu selalu tersenyum manis kepadanya. Namun seketika dia merasakan jarinya terbakar, lalu dengan cepat ia jatuhkan batang korek apinya lalu dengan cepat pula ia ambil satu lagi dan dinyalakan,maka kembali adegan dimeja makan dilanjutkan, sang puteri lalu menghabiskan apa yang dihidangkan para pelayan tadi, dia merasakan perut yang tadinya kosong kelaparan, terisi dengan kenyangnya. Maka nyala korek yang kedua itupun kembali redup dan mati. Untuk ketiga kalinya batang korek api itu dinyalakan lagi, kini sang puteri kecil tengah berada di kebun bunga eglantin….disana berderet dengan rapinya bunga berwarna-warni, diatasnya banyak bertaburan kupu-kupu kecil yang tak kalah cantiknya. Kemudian dia menari diiringi tembang burung-burung cicit….yangbersahutan, melantunkan sebuah lagu tentang nyanyian alam raya, nyanyian kedamain dan keteduhan sebuah kehidupan, sisi kehidupan yang hanya sebatas orang dapat benar-benar menikmatinya.

Seterusnya, setelah nyala korek api padam, ia selanjutnya menyalakanny lagi, lagi dan lagi, hingga sampai juga ke batang korek api yang keenam. Kini ias sudah kenyang, kini juga ia telah berbahagia, kedua hal itu telah mengalahkan rasa dingin dalam tubuhnya karena sekarang, hujan semakin bertambah deras disertai angin yang semakin menderu ribut. Padahal kedua kakinya yang mungil itu, telah kaku sekali, dari tadi sebelum hujan hingga malam beranjak menuju pertengahan dini hari, ia tidak bergeser sedikitpun dari posisi duduknya. Ia nampak mencari-cari suatu sumber suara, sebuah suara nafas dalam seorang laki-laki muda yang tengah sendirian disudut sebuah kamar yang gelap. Setelah menemukan sumber suara itu, lalu ia mencoba menyalakan batang krek api yang ketujuh, setelah nyala korek api itu bersinar berpendar, semakin jelas sudah wajah lelaki muda itu.

Lelaki muda itu wajahnya bersih namun entah kenapa ada garis-garis keletihan yang semakin menggaris dalam nyala cahaya korek apii itu, dijari-jari tangan kanannya terselip sebatang rokok putih yang tengah menyala hampir setengah dari panjangnya, nampak asap menyembul membentuk sebuah pelangi yang muncul Dari balik sebuah gunung yang tinggi dibelakang pelangi itu nampak mentari akan mulai kembali keperaduannya, di ujung cakrawala galaksi. Pemuda itu melihat kepada puteri kecil itu, dan bertanya “halo…adik kecil, apa kabar harimu?, apa kabar cinta mu hari ini?” . puteri kecuil menjawab sambil mendekatkan dirinya kearah sang pemuda itu, “ap akabar juga kak? aku baik-baik saja, walau udara diluar dingin, dan hujan semakin deras, aku tidak merasakan apa-apa sekarang ini, aku sudah kenyang dan hati dalam keadaan berbahagia”.

Pemuda itu nampak tersenyum mengembang dari bibirnya, sambil menghembuskan dalam-dalam asap rokok yang baru saja dihisapnya, lantas dia berkata “kabarku? aku sekarang dalam kadaan yang gamang, kejengahan mengalir dari dalam jiwaku, aku letih dengan kehidupan ini, yang tidak memberikan aku kesempatan untuk merasakan sebuah kasih sayang, aku senantiasa memberikan kasih sayangku untuk setiap orang yang membutuhkannya, aku senantiasa menghampiri dan menemani bagi siapa saja yang tengah dilanda kesendiriaan, kesepiaan, kesunyiaan, dan kemalangan”. “ Namun kau lihat aku sekarang puteri kecil? aku tegah dilanda kesunyiaan, aku tengah terluka, jiwa telah beanr-benar hancur, aku tengah dalam kondisi krisis yang aku sendiri tidak tahu musti bagaimana lagi untuk mencari penawarnya…”. “ Sbentar kak, aku akan menyalakan batang korekku, karena batang korek ini hampir mau kan habis”, puteri kecil itu memotong perkataan lelakii itu?

Selanjutnya ia kembali mengambil sebatang krek api yang kedelapan, dinyalakannya lagi. Selanjutnya cahaya berpendar muncul juga dari ujung korek api itu, selanjutnya setalah menyala terang, ia berujar , “Kak, silahkan lanjutkan cerita kakak”. “namun sekarang, tidak ada yang menawarkan apa-apa padaku, tidak ada yang datang ketika aku dalam kondisi seperti ini, semua meninggalkan aku dan menganggap aku orang yang aneh dan pesakitan serta psikopat”, pemuda itu mengakhiri kisahnya dengan mematikan rokoknya, serta mengambil sebatang rokok lagi, lalu dengan pematik api ia nyalakan,maka kembali bibir pemuda itu tersembul asap yang menari-nari tenang. Dengan tatapan yang penuh perhatian, sang puteri kecil mendekati pemuda itu dan memegang bahunya, kemudian berkata, “Kak, kakak jangan merasa sendiriaan, kakak jangan merasa hidup dalam ruang sunyi dan hampa. Ketika kakak masih mempunyai keyakinan akan hari esok, ketika kakak masih mempunyai ketegaran yang selalu kakak jaga sinarnya agar tak redup, maka kakak tidaklah sendirian, kakak malah sedang dalam kondisi awal untuk bangkit dari kematian kecil. Kesunyiaan adalah sebuah perlintasan waktu yang akan terasa lama dan menyiksa bilamana kita menganggapnya sebagai masalah besar dalam kehidupan, namun ketika hal itu kita sikapi sebagaimana kita mensikapi rasa sedih, kelaparan, terantuk batu, sakit dengan sebuah harapan untuk sesuatu yang kita yakini akan menemani kita, maka kesunyiaan itu dengan sedirinya akan menyingkir karena mengganggap sudah tidak ada gunany ia menamani kakak. Jadi jangan bersedih kak, bahwasannya segala sesuatu adalah sebuah keniscayaan didalam kehidupan ini, hanya keyakinan, ketegaran, yang dapat menemani kita.

Keyakinan disertai dengan pikiran yang positif, tidak mau menyerah pada sebuah nasib, dan ujian, keyakinan disertai sebuah keikhlasan yang tak pernah tuntas. Keyakinan yang disertai hati nurani, akal sehat dan keyakinan atas pemilik jiwa kita,maka ia adalah sahabat yang akan selalu hadir dalam hari-hari kakak, apapun keadaannya. Tenanglah kak…..”. puteri kecil itu terus menasehati pemuda itu sekarang eksistensi benar-benar sudah hangus, karena sekarang seorang gasi kecil tengah menjadi pelita kecil bagi serang lelaki muda yang umurnya lebih tua dari gadis kecil itu, eksistensi sudah mati bukan. Sang puteri kecil, kembali menyalakan batang korek apinya yang kesembilan, hingga pada akhirnya pada nyala terakhir, sang pemuda itu memeluk puteri kecil itu sambil menangis……dia mengucapkan terima kasihnya kepada gadiskecil itu, sambil mengucapkan “engkau adalah malaikat kecilku…puteri…engkau adalah matahari kecilku”, maka nyala cahaya korek api yang sembilan itu lama-lamat semakin habis dan mati. Ketika sang puteri kecil mengambil batang korek api yang kesepuluh itulah korek api terakhir yang ia ambil, dan kemudain ia nyalakan; sekarang dihadapannya ada sebuah tangan hangat yang tengah memegang tangan puteri kecil itu, sambil menyelimuti dirinya dengan piyama kesayanganya. Dia adalah sang nenek yang peuh dengan rasa cinta, menggandeng tangan sang puteri kecil, berjalan diatas lautan awan putih…membuka gerbang langit.

Pagi ini, tidak ada yang luar biasa, seperti biasanya dedaunan mulai merontokkan tetes hujan tadi malam, orang-orang memulai aktivitas sebagaimana hari-hari kemarin.

Dan dipinggir sebuah jalan, didepan emperan sebuah toko, soerang perempuan kecil, gadis kecil, sang puteri kecuil, terbujur kaku, dalam gengamannya hanya da kotak korek api yang sudah kosong, didepannya terdapat sepuluh batang korek api yang sudah hangus terbakar. Puteri kecil itu sekarang tengah terbang dengan sayap-sayapnya….dilangit yang tanpa batas, dengan kasih sayang..dengan sepenuh cinta, dengan cahaya yang bercahaya…..disana Suatu negeri bernama negeri ar Rahman Negeri ar Rahiem, negeri cinta negeri kasih sayang.

Cinta adalah sebuah hal yang menyangkut keikhlasan tanpa sebuah pamrih, cinta adalah kasih sayang yang tak bersyarat, sepri cinta sang ibu kepada anaknya, untuk memberikan air susu kepada anaknya, sebagaimana cintanya hujan yang memberikan tetesnya untuk bumi agar tumbuh rerumputan dan buah-buahan memmberi dahaga kepada tanah kering dan para musyafir dari sebuah oase dan telaga, sebagaimana cintanya sang api kepada kayu yang menjadikkannya menjadi abu.


………………………………………..

Siegei Pandawa, Senin 07 Agustus 2010 Pkl. 19:38

Aku…aku……, Dia didalam hati dan jiwaku.

Cinta…cinta, dia adalah nyala pertama ketika ruh dihembuskan kejazadku

Jiwa…jiwa…jiwaku……teduh…teduhlah……teduh

Comments are closed.